Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 116


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu, minggu yang dinanti keluarga kecil Aziz dan Amrita telah tiba. Keluarga itu akan pergi ke Pasar Sentral sesuai rencana mereka. Dan kini, Amrita sedang membantu kedua anaknya mengenakan baju di dalam kamar si kembar.


"Mama, aku mau baju seperti Mama ya" ujar Fadila mengukir senyum manis sambil mengikat rambutnya sendiri.


"Iya, Sayang. Kita berempat akan mengenakan baju dengan warna yang sama. Mama sama Fadila baju kebaya, Papa sama Fattan baju kemeja" balas Amrita menjelaskan sambil membantu Fattan mengenakan baju kaos lengan panjang.


"Mama. Kalau pulang nanti kita beli es krim ya" pinta Fattan menatap Mamanya.


"Siap pangeran Mama yang tampan" balas Amrita tersenyum lebar.


Setelah membantu kedua anaknya bersiap-siap, Amrita meminta anaknya untuk menunggunya di sofa. Fattan dan Fadila pun mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah yang letaknya hanya berapa meter dari kamar mereka.


"Mas, jangan lama-lama mandinya!!" teriak Amrita dibalik pintu kamar mandi yang ada di kamar mereka.


Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)


"Sudah istriku" ucap Aziz lalu memeluk istrinya. Aziz nampak menggigil karena cuaca pagi ini sangat dingin ditambah lagi air yang dia gunakan untuk mandi adalah air dingin.


Amrita membalas pelukan suaminya. "Aku sudah siapkan pakaian di atas tempat tidur. Sekarang Mas pakai baju lalu temani anak-anak. Kasihan mereka duduk berdua" jelas Amrita.


Aziz melepaskan pelukannya lalu mencium sekilas bibir istrinya. Kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat tidur yang dimaksud istri kecilnya tadi. Sementara Amrita memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dan bersiap-siap, Amrita keluar menghampiri suami dan kedua anaknya. Suara tawa dari ruang keluarga berhasil menciptkan senyum indah di wajah cantik Amrita.


"Ayo kita berangkat" panggil Amrita. Amrita mengenakan baku tunik Mocca dan celana kulot kain berwarna hitam dan jilbab saudia warna hitam. Dan tak lupa tas selempang kecil.


"Siap Mama!!" balas Aziz, Fattan dan Fadila berbarengan dengan intonasi tegas dan hormat.


"Hahahaha. Terima kasih untuk penghormatannya kesayanganku. Sekarang mari kita pergi sebelum macet" ucap Amrita.

__ADS_1


Fadila menggandeng tangan Papanya dan Fattan menggandeng tangan Mamanya. Mereka jalan beriringan dengan senyum yang tak luput dari wajah mereka. Dalam perjalanan menuju pasar sentral, langit mulai terlihat cerah. Namun matahari masih malu-malu untuk menampakan diri. Boleh dikata waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.


Pasar Sentral


Aziz menepikan mobilnya di parkiran mobil yang ada di pasar sentral. Amrita dan kedua anaknya pun turun dari mobil. Berhubung tempat parkir dengan tempat jahit pakaian lumayan jauh maka mereka harus jalan kaki sekitar beberapa puluh meter.


"Mas, tolong gendong Fadila. Banyak orang di sini aku takut anak-anak hilang" pinta Amrita yang merasa cemas. Orang-orang di pasar sentral memang sangat banyak hingga butuh kewaspadaan dan kehati-hatian agar tidak terpisah dengan keluarga.


"Iya Sayang" balas Aziz lalu menggendong putrinya. Sementara Fattan, anak kecil itu menolak digendong Mamanya.


"Mama pegang tangan aku saja" ujar Fattan yang tak ingin digendong. Amrita menghela napas pelan lalu menuruti keinginan putranya. Mereka berjalan menuju tempat yang akan mereka datangi.


"Assalamualaikum" ucap Amrita berdiri di depan pintu. Mereka tidak masuk ke dalam karena tempat jahit baju sangat kecil.


"Waalaikumsalam" balas Ibu penjahit baju.


"Bu, saya orang yang beberapa hari yang lalu menghubungi Ibu. Boleh saya lihat desain baju kebaya untuk wisuda" jelas Amrita.


"Ini, Nak" ucapnya sembari menyodorkan buku tulis dimana di dalamnya banyak berbagai model baju kebaya.


Ambil mengambilnya lalu membuka satu persatu lembar buku dan mengamati model baju kebaya yang ada di dalam buku tersebut. "Saya mau yang model ini, Buk" ujar Amrita seraya menunjuk satu model kebaya yang menurutnya bagus.


Pukul 12:01 PM


Setelah memilih model kebaya dan mengukur besar dan kecilnya pakaian yang mereka mau buat. Keluarga kecil Aziz memilih jalan-jalan di Makassar Trade Centre (MTC). Dan kini, mereka sudah berada di Makassar Trade Centre (MTC) lantai dua.


"Sayang. Coba aku lihat ponselmu" ujar Aziz. Pria itu ingin membeli ponsel baru untuk istrinya. Pertama kali Aziz membeli ponsel untuk istrinya saat dia dan Aher ke Bandung.

__ADS_1


"Ini, Mas" balas Amrita sembari menyodorkan ponselnya.


"Sudah sangat lama. Bahkan layar ponselnya sudah pecah dan dia tidak minta dibelikan yang baru. Atau aku yang terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan hal sekecil ini" batin Aziz.


"Ayo kita ke atas" ajak Aziz. Aziz membawa istri dan kedua anaknya di mana banyak ponsel berjejeran dengan berbagai model dan harga yang cukup menguras isi dompet.


"Mas, kita ngapain di sini?" tanya Amrita saat suaminya berhenti di depan konter Hp.


"Sekarang kamu pilih mau ponsel yang mana" titah Aziz.


Amrita menyunggingkan senyum manisnya. Akhirnya suaminya membelikannya ponsel baru. Selama ini Amrita ingin mengganti ponselnya tapi wanita itu mau suaminya yang membelikan untuknya. Sama seperti dulu untuk pertama kalinya Aziz memberinya oleh-oleh.


"Aku mau Mas yang pilih" kata Amrita tersenyum.


Aziz tersenyum lalu melihat-lihat ponsel yang ada. Pilihannya jatuh pada ponsel IPhone 2018. "Yang ini saja" kata Aziz menunjuk ponsel IPhone.


"Jangan yang itu, Mas" kata Amrita. Lalu mendekati suaminya. Yang benar saja Aziz mau belikan ponsel yang harganya 14 juta.


"Lalu kamu mau yang mana?" tanya Aziz mengerutkan keningnya


"Yang lain. Tapi jangan yang itu" balas Amrita. Lalu berbisik di telinga suaminya. "Cari yang murah. Kalau yang itu terlalu mahal. 14 juta sudah bisa aku gunakan untuk membuka usaha Laundry" bisiknya.


Aziz terkekeh. Istrinya itu masih saja seperti dulu. Nggak suka yang mahal-mahal. "Advan lebih murah" balas Aziz menawarkan yang paling murah.


"Nggak ada yang lain lagi Mas selain yang Advan" balas Amrita cemberut.


"Di mana-mana wanita selalu terlihat aneh namun unik. Mau dibelikan yang mahal katanya jangan, itu terlalu mahal. Mau dibelikan yang sangat murah maunya yang lain lagi" gumam penjaga konter menggeleng tak mengerti. Istri pria itu juga sama seperti Amrita. Nggak mau yang mahal juga nggak mau yang murah sekali. Karena yang murah katanya nggak bagus dan biasanya cepat rusak. Kalau jatuh langsung pecah. Boleh dikata semuanya tergantung bagaimana kita menjaganya.

__ADS_1


Aziz dan Amrita terkekeh. Lalu mencari ponsel merek lain yang murah tapi nggak murahan. Sementara Fattan dan Fadila mulai merasa jenuh menunggu Mama dan Papanya.


"Mama, cepat beli ponsel. Kepalaku terasa pusing melihat orang-orang itu mondar mandir!" ujar Fadila lalu kembali menatap orang-orang yang barlalu-lalang.


__ADS_2