Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 64


__ADS_3

Mengabdi sesuai profesi adalah sesuatu yang patut di syukuri. Banyak orang diluar sana yang bekerja tidak sesuai dengan profesinya. Bukan maunya mereka, tapi itulah jalan hidup yang harus mereka jalani. Hal itu dialami oleh Saiful, pria yang dibayar oleh Safira.


Saat kuliah, Saiful mengambil jurusan Teknik Mesin, dan dia adalah Mahasiswa lulusan terbaik dari salah satu kampus ternama di kota Makassar. Namun, takdir berkata lain, Saiful ditolak saat memasukan lamaran kerja di Industri yang sesuai dengan profesinya.


Unity Cafe Makassar


Amrita dan tiga seniornya yang bernama Saiful, Haidir dan Farid. Mereka berempat sedang berada di Unity Cafe Makassar. Terakhir kali Kak Saiful bertemu Amrita di hari pernikahan Amrita yang diselenggarakan di Fajar.


"Amrita, kenapa bisa kau terlibat masalah dengan Safira?" tanya Saiful.


"Bukannya aku mau mengumbar aib wanita lain kak, tapi kalau sudah seperti ini aku harus jujur pada kalian. Jadi gini, Mbak Safira itu suka sama suamiku. Itulah sebabnya dia berusaha mencelaikaiku" jelas Amrita.


"Apa dia tidak punya rasa malu!" umpat Farid dengan geram.


"Kakak sarankan, sesegera mungkin kau melapor pada polisi. Karena banyak orang jahat di Kota ini. Takutnya dia membayar orang lain yang tidak kamu kenal" timpal Haidir.


"Benar kata Haidir, kakak bisa menjadi saksi. Rekaman suara malam itu masih kakak simpan" sambung Kak Saiful.


"Nanti baru ku pikirkan lagi. Aku sudah mengingatkannya, jika dia masih saja berusaha menghancurkan rumah tanggaku, mau tidak mau aku akan melapor pada polisi" ujar Amrita.


"Kak, aku pamit ya. Sudah mau jam sepuluh, aku harus ke kampus sekarang" ucap Amrita lalu beranjak dari kursi.


"Hati-hati di jalan, hubungi kami jika kau memerlukan bantuan" ujar Farid.


"Iya, kak. Assalamualaikum dan selamat pagi"


"Waalaikumsalam" balas Haidir dan Farid.


"Pagi" balas Kak Saiful.


Di Unity Cafe Makassar, tinggalah Saiful, Haidir dan Farid. Farid dan Haidir pamit pulang beberapa menit setelah Amrita pergi. Dan Saiful, pria dewasa itu kembali melanjutkan pekerjaannya di cafe tersebut.


---


Fakultas Mipa


Amrita memakirkan motornya di parkiran. Membenarkan pakaiannya dan totebagnya lalu mengambil tentengan yang berisi laporan. Kemudian pergi ke kelas yang di mana teman-temanya duduk dan belajar.


"Amrita..." panggil Affi yang sejak tadi menunggu Amrita.

__ADS_1


"Iya Fi, bagaimana?" tanya Amrita.


"Duduk dulu" ucap Affi tersenyum.


Amrita meletakan tentengannya di atas meja lalu meletakan totebgnya di sandaran kursi. Ia menghirup napas kasar dan duduk di kursi. "Ada apa Fi?" tanya Amrita menatap Affi penuh tanya.


"Tadi ada perempuan datang mencarimu" jawab Affi.


"Perempuan? Siapa namanya?" tanya Amrita mengerutkan keningnya.


"Baru jam sepuluh lewat Affi" ujar Safna melangkah masuk dan duduk di kursi.


"Iya, baru juga jam sepuluh sudah menggosip" sambung Hanin mengambil tempat di belakang Amrita.


"Ish! Kalian apa apaan sih!" Affi mendengus kesal. Lalu menatap Amrita dengan tatapan serius.


"Jadi gini, perempuan yang tadi jualan online dan katanya kamu keep salah satu jualannya. Saat barangnya ada kamu malah cancel pesananmu itu. Dia memintaku mengambil dan membayar barang yang kamu keep" jelas Affi.


"Salah orang kali, aku ngak merasa memesan sesuatu lewat online" ungkap Amrita dengan santai.


"Loh, kok gitu. Mana sudah aku ambil lagi!" ketus Affi.


"Sial!! Laporan belum selesai baru ditipu lagi!" umpat Affi.


"Yang sabar ya Fii, itu cobaan untukmu dan sekaligus teguran untukmu. Lain kali, jangan mudah percaya sama orang yang tidak kamu kenal" ujar Safna.


"Dengar tu, nyesal kan" timpal Hanin.


---


Rumah Sakit Awal Bross


Aziz baru saja keluar dari ruangan president suite setelah mengecek kondisi pasiennya. Ia berjalan menuju ruagannya. Di lorong rumah sakit, Aziz bertemu Safira. Aziz tak menyapa Safira, ia terus melangkah menuju ruangnya.


"Karena Amrita Aziz menjauhiku!" batin Safira mendengus kesal.


Safira hanya bisa menatap punggung pria yang dicintainya hingga tak terlihat. Lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Sesuai profesi dan tugasnya sebagai asisten dokter, Safira lebih dekat dengan pasien.


Sementara di ruangan Aziz, pria itu nampak menggeser tirai dan membiarkan terik pagi menembus dinding kaca ruangannya. Ia menatap jauh ke kota dengan pikiran yang serba salah.

__ADS_1


"Aku tidak tega menyakiti wanita lain. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan istriku hidup dalam gangguan orang lain" gumam Aziz.


Aziz kembali menutup tirai, lalu duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya di sana. Ia memejamkan mata sejenak, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi istrinya. Namun, Amrita tak menjawab panggilan telepon darinya.


"Mungkin dia sedang belajar" gumam Aziz. Aziz melirik arlojinya, sebentar lagi jam istrahat.


"Apa yang Amrita lakukan sekarang? Apa dia sedang belajar atau apa?" tanya Aziz pada dirinya sendiri.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Aziz. Pria itu menoleh ke arah pintu, dilihatnya Aher tersenyum sumringah menatapnya. Dengan santainya, Aher masuk ke dalam tanpa memberi salam.


"Kebiasaan, selalunya lupa mengucapkan salam" gumam Aziz sedikit berbisik namun masih bisa di dengar oleh Aher.


"Hahahaha maaf. Oh ya Ziz, kemarin aku melihat Safira keluar dari ruanganmu. Aku mencari tahu setelah dia keluar tapi aku tidak menemukan keanehan di dalam ruangannmu" jelas Aher.


"Dia meletakkan foto Anaya di dompetku. Saat aku tiba di rumah dan naik ke kamar aku lupa mengambil tas. Saat aku turun kembali, aku melihat Amrita bersikap aneh. Ternyata dia sudah melihat foto Anaya" jelas Aziz.


"Lalu apa respon Amrita?" tanya Aher penasaran.


"Dia sangat berpikiran dewasa. Dia tidak marah melainkan mengajakku foto bersama. Lalu menguploadnya di story watshapku" jawab Aziz.


"Hebat, wanita yang berpikiran jernih seperti itu yang diinginkan para pria. Kamu jangan takut, rumah tanggamu akan baik-baik saja selama Amrita menanggapinya dengan santai. Dan kamu, bersikaplah selayaknya suami yang melindungi istrinya" ujar Aher.


"Aku dan Amrita sudah sepakat untuk merantau ke kota lain. Hanya saja Direktur Rumah Sakit lagi di luar kota" ujar Aziz menghela napas pelan.


"Ya sudah, aku akan selalu mendukung keputusan kalian. Berhati-hatilah pada Safira. Dia semakin menjadi jadi" ucap Aher lalu beranjak dari duduknya.


"Kau tidak mau ke kantin?" tanya Aher saat melihat sahabatnya masih duduk di tempat.


"Tidak, aku makan di sini saja. Tadi aku membawa bekal, anggap saj aku sedang menghemat. Hahahaha" balas Aziz lalu tertawa.


Drt drt drt... Ponsel Aziz bergetar, Aziz mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan video dari istrinya.


"Assalamualaikum Mas"


"Waalaikumsalam"


"Maaf ya Mas, tadi aku lagi terimah materi jadi ngak bisa jawab panggilan darimu. Mas sudah makan?" tanya Amrita.


Aziz terlihat senyam senyum menatap wajah istrinya. "Ternyata dia sangat cantik" batin Aziz.

__ADS_1


__ADS_2