Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 37


__ADS_3

Seperti biasa, semua orang yang sudah menikah akan melakukan rutinitas yang sama di pagi hari. Apalagi kalau bukan membuat sarapan untuk suami. Hal itu juga selalu dilakukan oleh Amrita. Jika biasanya Amrita memasak makanan berat atau membeli kue di luar maka hari ini ia memilih membuat kue sendiri. Buroncong adalah kue pilihannya di pagi hari ini.


"Mas, cepat bangun dan mandi" Amrita menggeser selimut yang digunakan oleh suaminya.


"Sedikit lagi" balas Aziz sembari menarik selimut yang digeser oleh istrinya.


"Mas, ini sudah jam 9 pagi nanti Mas terlambat ke Bandara" kata Amrita kembali menggeser selimut yang digenggam kuat oleh suaminya.


Aziz yang tadinya mengantuk kembali membuka mata. Berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat jam dinding. Selang beberapa menit ia ke luar memakai jubah mandi. Seulas senyum kembali terukir saat ia melihat baju dan celana sudah ada di atas meja.


"Terimakasih istri nakalku" gumam Aziz.


"Kamu beli atau kamu buat sendiri?" tanya Aziz menatap lekat buroncong yang menggiurkan di atas meja makan.


"Aku buat sendiri. Apa Mas tidak suka?" tanya Amrita.


"Suka" balas Aziz santai lalu mengunyah kue buatan istrinya.


Seusai sarapan, Aziz masuk ke dalam mobil begitupun dengan istrinya. Amrita pun ikut mengantar suaminya sampai di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar. Hampir tiga puluh menit perjalanan, mereka pun sampai di Bandara Hasanuddin Makassar.


"Mas, jangan nakal di sana ya" ujar Amrita menunduk.


Aziz tersenyum lalu mengelus kepala istrinya. "Tidak akan dan tidak akan pernah" kata Aziz.


Aziz dan Amrita turun dari mobil menghampiri Dokter Aher dan Dokter yang lain. Aziz berbincang-bincang dengan rekan kerjanya sedangkan Amrita duduk di atas koper yang diletakan di atas trolley Bandara sembari memandangi suaminya yang asik berbincang bincang dengan para Dokter.


"Amrita, aku harus masuk untuk Check-in karena sebentar lagi pesawat akan take off" kata Aziz tersenyum manis pada istrinya.


Amrita mengangguk lalu menyalami suaminya. Dengan berat hati Amrita membiarkan suaminya masuk ke dalam ruang Check-in bersama rekan Dokter yang lain. Amrita berbalik menuju tempat parkir. Menyalakan mesin mobil lalu ke luar dari area Bandara.


"Aku singga di Daya saja, pasti Ibu di rumah" gumam Amrita melajukan mobilnya menuju rumah Ibu mertuanya. Dua belas menit kemudian, Amrita pun sampai kediaman Pa Sofyan.


"Sayang, Aziz mana?" tanya Tante Eka saat melihat menantunya turun dari mobil seorang diri.

__ADS_1


"Om Aziz sedang ke Bandung Bu" balas Amrita berdiri dihadapan Ibu mertuanya.


"Ya sudah. Ayo masuk, ada Fakri dan teman-temannya di dalam" ujar Tante Eka lalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, ada Fakri dan teman-temannya. Amrita tersenyum saat melihat senior Hendri, Haidir dan Farid yang sedang duduk di ruang keluarga. Bukan hanya ketiga pria tampan yang datang tapi Hanin juga datang dan duduk bersama Fakri dan yang lainnya.


"Senior, maafkan aku karena tidak bisa bergabung dengan kalian. Ada yang harus aku lakukan di atas" kata Amrita lalu naik di lantai dua tepatnya di dalam kamar suaminya.


"Maafkan aku, bukannya aku tidak sopan tapi aku mau menghubungi suamiku dulu" gumam Amrita lalu menghidupkan layar ponselnya. Amrita membuka aplikasi watshap mengirimkan pesan untuk suaminya.


"Assalamualaikum. Mas, sudah berangkat apa belum?"


"Waalaikumsalam. Belum, ini masih di ruang tunggu lagi Delay"


"Mas, kapan Mas pulang ke Makassar?"


"Ya Allah. Belum juga berangkat ke Bandung kamu sudah bertanya kapan pulang (Smile tertawa)"


"Hahahaha. Aku lupa dan sepertinya aku butuh aqua (Smile tertawa)"


"Iya Mas. Sekarang aku di rumah Ibu. Oh ya, ada senior dari beskem dilantai satu. Aku minta izin untuk gabung bersama mereka ya. Ada Hanin dan Afika di bawah"


"Ya sudah. Sekarang kamu ke lantai satu karena aku harus naik ke pesawat. Assalamualaikum"


Amrita tersenyum saat menyudahi percakapan mereka lewat pesan Watshap. Kemudian ia turun menghampiri senior dan yang lainnya. Amrita mengambil tempat diantara Hanin dan Afika.


"Dari tadi aku dengar kalian tertawa. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Amrita menatap seniornya.


Senior Hendri terkekeh. "Pekan depan Kak Farid akan ujian tutup dan dia minta kita ke sana untuk memberinya hadiah" jelas Senior Hendri.


"Jangan memfitnah" kata Kak Farid. "Amrita, jangan kamu dengar apa yang mereka katakan. Aku tidak membutuhkan hadiah. Yang aku mau kalian datang membawa diri dan ponsel" jelas Kak Farid.


"Oh ya. Kami harus pergi sekarang karena harus ke beskem. Amrita, kamu tetap di sini karena suami kamu lagi ke luar kota jadi kamu tetap di rumah saja. Tidak baik jalan-jalan tanpa izin suami" kata Kak Hendri.

__ADS_1


"Dari mana kalian tahu kalau---" Amrita menghentikan kalimatnya saat Fakri menyambung kalimatnya.


"Ibu yang bilang kalau Kak Aziz lagi ke Bandung" sambung Fakri.


"Ya sudah. Kalian hati-hati di jalan" ujar Amrita.


Malam hari


Makan malam pun usai. Amrita memilih masuk ke dalam kamar untuk menghubungi suaminya. Amrita duduk di ranjang bersandar di kepala ranjang. Mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas untuk menghubungi suaminya.


Ting... ting... ting... panggilan masuk namun tidak dijawab oleh Aziz. Amrita berdecak kesal saat suaminya tak kunjung menjawab panggilan darinya.


"Di sini sudah jam 09 dan di sana baru jam 8. Apa Mas Aziz sedang sibuk" gumam Amrita menatap ponselnya.


"Apa aku tidur saja? Bagaimana jika Mas Aziz menelepon. Apa aku tunggu saja?" tanya Amrita pada dirinya sendiri.


Satu jam telah berlalu namun Aziz belum juga mengabari istrinya. Amrita memilih memejamkan mata karena sudah berulang kali ia menguap. Belum satu menit Amrita memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering. Amrita terperanjat melihat ponselnya lalu menjawab panggilan telepon yang baru saja masuk.


"Assalamualaikum. Lagi sibuk ya, Mas?"


"Waalaikumsalam. Ini baru pulang dari pertemuan para Dokter. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku barusaja tidur dan tiba-tiba Mas telepon. Apa Mas sudah makan?"


"Sudah. Sekarang kamu tidur. Aku juga mau istrahat. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Amrita meletakan ponselnya di atas nakas dan kembali tidur. Pukul 01 malam, Amrita terbangun karena mimpi buruk yang dialaminya.


"Ya Allah. Semoga Mas Aziz baik-baik saja di sana" batin Amrita. Amrita meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya namun niatnya ia urungkan karena waktu sudah larut.


Terdengar hujan mengguyur kota Makassar dilarut malam. Amrita beranjak dari ranjang menuju jendela kamar yang tidak tertutup. Saat hendak menutup jendela kamar, tiba-tiba ponsel Amrita berdering. Perasaan Amrita tidak tenang saat nama Dokter Aher terpapang jelas dilayar ponsel.

__ADS_1


"Kenapa Dokter Aher menghubungiku di larut malam begini?" gumam Amrita.


__ADS_2