
Rumah nomor A20
Mahdania sedang membersihkan rumah. Mulai dari lantai dua hingga lantai satu. Aher ingin mencari ART agar Mahdania bisa banyak istirahat tapi Mahdania menolak. Bukan karena hemat uang melainkan ia ingin menjadi Ibu rumah tangga yang sesungguhnya selama ia masih mampu mengurus rumah, suami dan anaknya. Jikapun harus menggaji ART maka tunggu sampai Mahdania yang meminta. Atau tunggu sampai Mahdania punya anak lagi.
"Assalamualaikum" ucap Amrita berdiri di depan pintu rumah nomor A20. Sambil memegang mangkok kaca yang berisi ikan kuah kuning.
"Waalaikumsalam" sahut Mahdania di dalam rumah. Wanita itu bergegas dari dapur membuka pintu rumah untuk Amrita.
"Mari masuk, Dek" kata Mahdania mempersilahkan Amrita masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih, Mbak" balas Amrita lalu masuk ke dalam rumah. Dari depan langsung ke dapur. Karena niatnya datang untuk membawa ikan kuah kuning untuk Mahdania dan Aher.
"Mbak Nia. Kalau ikannya nggak enak mohon dimaklumi ya" kata Amrita tersenyum sambil memindahkan ikan di mangkok baru.
"Ya Allah. Terima kasih ya, Dek" ucap Mahdania tersenyum.
"Sama-sama Mbak" Balas Amrita.
"Oh ya, Dek. Sebelum pulang kamu ambil dulu sayur ini. Berhubung aku masaknya banyak. Nggak tahu enak apa nggak" kata Mahdania sambil membuka tudung saji.
Amrita tersenyum melihat salah satu sayur kesukaannya. Yaitu sayur tumis pare yang dicampur sedikit santan kelapa dan kacang goreng yang sudah dihaluskan. "Mbak, ini sayur kesukaan aku. Aku minta sedikit ya" ujar Amrita tersenyum bahagia.
"Hahahaha. Ambil saja. Banyak juga nggak apa-apa" balas Mahdania tersenyum.
Rumah Nomor A19
Aziz sedang menemani Fattan dan Fadila bermain di ruang tengah. Sementara Pa Sofyan dan Tante Eka sibuk dengan gawai mereka di sofa. Dan Fakri, pria itu masih di kolam renang teleponan dengan Hanin.
"Ayo kita makan" ajak Amrita yang baru saja pulang dari rumah tetangga.
__ADS_1
"Ayo. Mbak Ima sudah bersiap-siap di sana" kata Tante Eka beranjak dari duduknya. Begitu juga Pa Sofyan. Pria paruh baya itu juga ikut berdiri dan berjalan ke meja makan.
"Aziz, tolong panggil Adikmu di kolam" titah Tante Eka sebelum meninggalkan rumah tamu.
"Iya, Bu" balas Aziz. "Fattan, Fadila, kalian ikut Nenek sekarang. Papa mau panggil Om dulu" titah Aziz yang dibalas anggukan oleh putri dan putranya.
Aziz menghampiri Fakri di kolam. Dilihatnya Fakri sedang tersenyum seperti orang yang sedang berbunga-bunga. "Dek, jangan hanya urus cinta tapi urus juga itu perut. Ayo makan dulu, nanti baru lanjut teleponan. Lagian juga akan ketemu di kampus" tegur Aziz.
"Iya, Kak" balas Fakri.
Aziz menjauh dari kolam lalu ke dapur menghampiri keluarganya. Menggeser kursi di samping istrinya lalu duduk. "Bu, aku dan Amrita punya rencana. Kami mau berangkatkan Ibu dan Papa ke Makkah" ungkap Aziz sambil mengambil nasi.
"Terima kasih untuk niat baiknya. Baktimu pada kami sangat tak terhitung sama halnya dengan usaha kami membesarkanmu. Uang itu kalian gunakan untuk keperluan lain. Papa dan Ibu masih punya tabungan dan tahun ini Ibu dan Papa rencana ke Makkah. Bukannya kami tidak mau terima niat baik kalian tapi nggak baik jika kami punya uang tabungan namun masih menggunakan uang anak-anak" balas Tante Eka menjelaskan.
Rumah nomor A20
"Da... kamu lihat celana boxer ku nggak?" tanya Aher berdiri di tangga.
"Da..." rengek Aher menuruni anak tangga dan hanya mengenakan handuk tanpa dalaman.
"Kembali naik ke kamar. Ada celana boxer mu di atas tempat tidur. Bersamaan dengan celana dan baju untuk kamu pergi kerja" jelas Mahdania.
Aher tersenyum lalu kembali naik ke kamar. "Ternyata kamu di sini kehidupanku. Aku mencari mu di lemari tapi tidak ada" gumamnya tersenyum.
"Bukannya tidak ada tapi otakmu yang mulai bergeser. Kamu pasti cari di lemari pakaianku bukan di lemari pakaianmu" ujar Mahdania berdiri di depan pintu.
"Hahahaha. Aku lupa, Da" tawa Aher tersenyum lebar.
"Cepat siap-siap lalu ke bawah sarapan. Aku tunggu kamu di bawah" titah Mahdania kembali bergegas ke lantai satu.
__ADS_1
Rumah nomor A19
Setelah makan pagi, yang laki-laki pergi ke ruang keluarga dan perempuan sibuk di dapur merapikan meja makan dan mencuci piring. Usai mencuci piring kotor Amrita dan Ibu mertua serta Mbak Ima menemui yang lainnya di ruang keluarga.
"Amrita, apa hari kamu nggak ke kampus? Hari ini Jiana naik hasil jam satu" tanya Fakri menjelaskan.
"Kenapa kamu nggak bilang dari semalam! Aku belum beli apa-apa!" ketus Amrita dengan kesal. Sejak semalam wanita itu nggak pegang ponselnya jadi dia tidak tahu tentang Jiana yang akan naik hasil.
"Kamu tinggal beli sesuatu lalu isi dalam paper bag. Kalau kamu nggak sempat nanti aku yang pergi belanja dan nanti aku juga yang berikan hadiahmu padanya. Asal berikan aku uang" jelas Fakri.
"Oke siap. Nanti kamu saja yang beli dan berikan padanya. Katakan pada Jiana kalau aku nggak bisa ke kampus hari ini. Di ujian tutup baru aku datang" balas Amrita.
"Ya sudah. Aku pamit pulang sekalian mau belanja. Ibu, Papa, aku pulang duluan ya. Mbak Ima mau ikut aku atau mau ikut Ibu?" pamit Fakri lalu bertanya pada Mbak Ima.
"Ikut kamu saja. Sekalian Mbak Ima juga mau beli cemilan di Top Mode" balas Mbak Ima. Bukannya nggak mau pulang dengan Tante Eka dan Pak Sofyan, tapi Mbak Ima nggak mau menjadi pengganggu kemesraan majikannya yang melewati anak ABG.
"Kalau begitu mari kita pulang" panggil Fakri. "Assalamualaikum" mengucap salam lalu mengambil kunci motornya.
"Waalaikumsalam" Tanta Eka dan yang lainnya.
"Fakri, ini uang untuk beli hadiah buat Jiana" kata Amrita sembari menyerahkan uang seratus ribu yang dia ambil di samping televisi.
Setelah kepergian Fakri dan Mbak Ima, Tante Eka dan Pak Sofyan mengajak Fattan dan Fadila pergi beli es krim. Dan tinggalah Amrita dan Aziz di rumah.
"Sayang. Ayo ikut aku" ajak Aziz lalu masuk ke dalam kamar.
Amrita mengerutkan keningnya namun ia menuruti perintah suaminya. Sesampainya di dalam kamar, ia duduk ditepi ranjang samping suaminya. "Mas, kamu kenapa?" tanya Amrita.
Aziz tak menjawab, ia beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaiannya. Lalu mengambil amlop coklat di dalam lemari. Kemudian menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Ini uang dua juta. Uang ini dari teman SMA ku. Dua bulan sebelum kita menikah dia menghubungiku untuk meminjamkan dia uang karena Ibunya sakit. Dan baru beberapa hari yang lalu dia ganti. Sebenarnya aku sudah lupa karena sudah sangat lama. Aku sudah menolaknya namun dia tetap memaksa agar aku menerimanya. Jadi, ini untuk kamu dan terserah kamu mau apakan" jelas Aziz sembari menyerahkan amplop coklat yang berisi uang dua juta.