
Seminggu telah berlalu. Dan dua hari lagi Fattan akan masuk kerja. Selama seminggu ini, Fattan dan Sakia belum melakukan hubungan suami istri. Jangankan melakukan hubungan suami istri, melihat rambut Sakia pun dia belum pernah. Fattan tidak keberatan, karena pria itu masih menolak perasaanya terhadap sang istri.
Malam telah menyapa, bunyi motor cukup berisik di jalanan kota. Di balkon, Fattan berdiri dengan dua tangan bersandar di pagar besi. Pandangannya terarah di blok A20, tepatnya di lantai dua, dimana Sakia sering menghabiskan waktu membaca buku.
"Sebelum menikah, tiap malam aku diam-diam memantau Sakia dari sini" batin Fattan.
"Bukan hanya sekali, tapi berulan kali. Dan kalau dihitung dengan kedua jariku, rasanya kurang. Kata Kak Farhan, aku mencintai Sakia sebelum menikah dengannya. Apa itu benar? Bukankah aku cinta mati pada Sabila, wanita yang aku cintai sejak kami masih kecil" sambungnya tak mengerti.
"Tapi kalau di pikir-pikir sepertinya aku memang jatuh cinta pada Sakia" gumamnya lagi.
"Kak Fattan, apa Kakak melihat ponselku?" tanya Sakia menghampiri suaminya di balkon.
"Ada di dalam buku cetak yang di atas nakas samping tempat tidurmu" balas Fattan tanpa menatap istrinya.
Sakia kembali masuk ke kamar menghampiri tempat dimana ponselnya bersembunyi. Tangannya meraih buku cetak yang dimaksud Fattan, dan benar saja, ponselnya terselip di buku cetak.
"Ternyata kamu bersembunyi di sini" gumam Sakia sambil mengukir senyum. Sakia menghidupkan layar ponselnya dan mencoba menghubungi Nurin. Wanita itu ingin memastikan pesanan costumer yang dari Bandung dan Palu.
"Assalamualaikum, Dek" sapa Sakia.
"Waalaikumsalam, Kak" terdengar jawaban salam dari seberang telepon.
Fattan yang tanpa sengaja mendengar istrinya tertawa di kamar, pria itu mengendap-endap dan mengintip istrinya. "Dia melakukan panggilan dengan siapa. Apa dengan Alif?" batin Fattan.
"Kamu tahu nggak, masa dia DM (Direct Message) aku. Mana bahasa Jerman lagi yang dia gunakan. Aduh, bikin aku klepek-klepek membacanya" kata Sakia pada lawan bicaranya.
"Hahahahaha. Sepertinya pria itu menyukai Kakak. Kan Kakak udah nikah ni, jadi boleh dong Kakak serahkan pada kami" ujar Nurin sekedar bercanda gurau.
"Kalau bisa dua kenapa nggak" canda Sakia yang disambut tawa oleh Nurin dan Nada.
"Rakus bangat sih. Mau di taruh di mana Mas gantengnya nanti" kata Nada.
"Samping kiri" balas Sakia terkekeh.
__ADS_1
Ehem-ehem. Fattan berdehem. Berharap istrinya konek namun nyatanya tidak. Sakia semakin tertawa dengan candaan Nurin dan Nada yang tak ada henti-hentinya. Fattan yang mulai dilanda api cemburu, pria itu memberanikan diri untuk menegur istrinya.
"Saatnya tidur" tegur Fattan.
"Nanti baru lanjut, selamat tidur sayang-sayang ku. Ummuuach. Assalamualaikum" kata Fadila pada Nurin dan Nada. Lalu memutuskan panggilan.
"Sehari setelah menikah, dia selalu melakukan kiss di panggilan telepon. Dia menelepon dengan siapa sih!" ketus Fattan dalam benaknya.
"Aku perhatikan kamu bahagia bangat akhir-akhir ini" Fattan mengambil tempat yang sering dia tempati tidur.
Sakia tersenyum asimetris. Mengambil tempat untuk merebahkan tubuhnya yang terasa penat. "Biasa, Kak" hanya itu balasan Sakia tanpa memperjelas jawabannya.
"Selamat tidur Kak Fattan. Semoga mimpi indah" kata Sakia. Menarik selimut hingga lehernya. Memejamkan mata indahnya dan membiarkan suaminya duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Sepertinya sudah bulat. Memang benar kata mereka semua, aku jatuh cinta pada wanita yang aku anggap adik" batin Fattan.
"Haisss!!" gerutu Fattan mengacak acak rambutnya.
"Kakak kenapa?" tanya Sakia yang merasa terganggu dengan teriakan suaminya yang seperti orang frustasi.
"Ck ck ck... ada juga orang gila di kamar ini" gumam Sakia.
...---...
Fattan, Papa Aziz dan Sakia sedang sarapan pagi bersama. Hari ini, Papa Aziz akan mulai tinggal di rumah Kakek Sofyan dan Nenek Eka. Sekalipun ada beberapa ART yang menjaga Nenek Eka dan Kakek Sofyan tapi beda dengan penjagaan anak. Anggap saja Papa Aziz melakukan kewajibannya sebagai anak, yaitu menjaga orang tua dimasa tuanya.
"Papa, kenapa Papa harus tinggal di sana? Kita bisa panggil Nenek dan Kakek tinggal bersama kita di sini. Kia bisa merawat Papa, Nenek dan juga Kakek di sini" ujar Sakia.
Papa Aziz meneguk sedikit tehnya. "Papa tahu Kia mampu menjaga kami. Tapi Kakek dan Nenek nggak mau tinggalkan rumah mereka jadi Papa yang harus mengalah" jelas Papa Aziz. Bukan Kakek dan Nenek yang tidak mau meninggalkan rumah tapi Papa Aziz yang memang mau tinggal dengan mereka agar Fattan bisa leluasa mengejar cinta istrinya.
Sakia mengangguk. "Ya sudah. Nanti Kia jalan-jalan ke sana bawain Papa kue buatan Kia" kata Sakia tersenyum.
Di samping Sakia, Fattan hanya diam mendengarkan obrolan istrinya dan Papa Aziz. Pria itu senang melihat bagaimana Sakia memperlakukan Papa Aziz.
__ADS_1
...--...
Setelah kepergian Papa Aziz ke rumah Kakek Sofyan, Sakia bergegas ke kamar untuk bersiap-siap ke butik. Wanita itu bosan di rumah. Memang benar ia tinggal bertetangga dengan orang tua kandungnya tapi Sakia belum ingin ke sana. Bukannya dia membenci orang tuanya tapi rasa kecewa membuatnya memilih diam. Terlebih lagi kenyataan membuktikan bahwa Sabila tidak melanjutkan study nya di Jakarta. Sabila sengaja membohongi orang tuanya agar mereka memilih Sakia sebagai calon istri Fattan.
Blok A20
"Mama... Papa... buka pintunya..." Sabila menggedor gedor pintu kamarnya. Sudah enam hari wanita itu di hukum.
"Akhhh!!" pekik Sabila.
"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Kamu nikmati saja hukuman mu. Mama dan Papa mau ke rumah Oma dulu" kata Mahdania dibalik pintu.
Mahdania menemui Papa Aher di lantai satu. Dia dan suaminya pun keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Baik Papa Aher maupun Mama Mahdania ingin sekali menemui putri bungsu mereka tapi mereka yakin, Sakia masih marah pada mereka. Jika tidak, Sakia sudah jalan-jalan ke rumah mereka. Terlebih lagi rumah mereka berhadapan dan hanya terhalang jalan.
Blok A19
"Dek, apa kamu mau pergi kerja?" tanya Fattan berdiri di depan pintu kamar.
"Iya" balas Sakia memperbaiki jilbabnya.
"Apa nggak bisa di hari lain saja?" tanya Fattan.
"Bisa, tapi Kia bosan di rumah. Di butik Kia punya teman cerita jadi nggak bosan" jawab Sakia sambil mengenakan tas selempang kecilnya.
"Kan ada Kakak di rumah. Kita bisa mengobrol berdua" jelas Fattan.
"Andai rasa cintaku masih ada. Maka aku salah satu wanita beruntung yang bisa menikah dengan pria yang aku idamkan. Tapi sekarang beda, rasa itu sudah menghilang seiring berjalannya waktu. Dan pernikahan ini rasanya seperti bukan pernikahan. Aku tidak bahagia juga tidak sedih" batin Sakia.
"Kakak ajak Kak Sabila saja. Biar cintanya makin menggunung dan luas seperti lautan" kata Sakia menghampiri suaminya, meraih tangan suaminya lalu menciumnya.
"Bukannya kita sudah menikah. Kenapa Kia nggak belajar mencintai Kak Fattan?" tanya Fattan.
Sakia menghentikan langkahnya berbalik menatap suaminya. "Untuk apa Kia belajar mencintai pria yang dengan gampangnya meminta dilupakan" kata Sakia.
__ADS_1
"Kakak hanya akan menjadi Kakak bagi Kia. Nggak lebih dari itu. Jadi jangan meminta Kia untuk mengulang masa lalu" sambung Sakia. Kalimat yang dulu Fattan lontarkan kini Sakia kembalikan pada Fattan.