Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 117


__ADS_3

Perumahan Citraland Nomor A19



Setibanya di rumah, Fattan dan Fadila merebahkan tubuh mereka di sofa. Sementara Aziz dan Amrita masuk ke dalam kamar mengganti pakaian mereka dengan pakaian rumahan.


"Apa semua orang dewasa seperti itu? Apa mereka tidak lelah bolak balik sana sini tapi ujung-ujungnya pulang nggak beli apa-apa. Akhh! Rasanya mataku mau berkunang-kunang" ketus Fadila menggoyangkan seluruh tubuhnya.


"Kakak juga nggak tahu. Tapi Kakak juga rasa pusing dan rasanya mau tidur saja" balas Fattan yang juga merasa pusing.


"Lebih enak tempat yang kita datangi bersama Nenek dan Kakek itu ya Kak. Di sana banyak orang tapi orangnya bermain nggak kaya tadi" ujar Fadila lagi.


"Iya, lain kali kita jangan ke tempat tadi. Kakak juga nggak suka. Bagus sih tapi Kakak nggak kuat lihat orang yang mondar mandir" balas Fattan.


Amrita dan Aziz keluar dari kamar. Amrita mengambil remot televisi lalu duduk di sofa. Sedangkan Aziz membenarkan sofa bed untuk ditempati tidur siang. Pria dua anak itu ingin tidur di sofa bersama keluarganya sama seperti semalam.


"Sayang, ayo sini" panggil Aziz sambil merebahkan tubuhnya duluan.


Fattan dan Fadila menghampiri Papa mereka, begitu juga Amrita yang ikut berbaring di samping anaknya. Mereka berempat menyaksikan siaran televisi hingga Fattan, Fadila dan Amrita tertidur. Sementara Aziz, pria itu masih sibuk mencari tempat bagus untuk dia dan keluarga kecilnya pergi berlibur.


"Kira-kira di mana tempat yang bagus. Apa aku bawah mereka ke Bali? Tapi Bali dan Makassar juga sama-sama kota. Atau aku bawah mereka di kampung saja. Melihat pemandangan gunung dan menikmati sejuknya air dingin di perkampungan" batin Aziz.


"Oke fiks. Aku bawah mereka di kampung saja. Toh Fadila dan Fattan belum pernah ke kampung" batin Aziz. Merasa matanya mulai terasa berat, Aziz pun memejamkan matanya.


--


Rumah Nomor A20


Suara lenguhan terdengar dari arah ruang keluarga. Nyatanya Aher dan Mahdania sedang memadu kasih untuk membuat anak kedua atau adik untuk baby girl. Mereka terlihat begitu bahagia dan sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Bahkan sudah beberapa macam gaya yang mereka lakukan dan ujung-ujungnya wanita tetap dibawah.


"By, aku lelah" kata Mahdania. Sudah sejak tadi mereka melakukannya namun Aher belum juga mengeluarkan cairan kental yang akan berjuang menembus sel telur.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Da. Ini sudah mau keluar" balas Aher yang masih menggerakkan pinggulnya. Tak lama, Aher pun berhasil mengeluarkan benih-benih yang akan berjuang menembus sel telur.


Aher mencabut benda pusaka nya dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri. "Da, dia masih berdiri. Sepertinya dia masih mau" kata Aher menggoda sambil menatap Aher kecil.


"Hahahahaha. Dia terlalu mesum. Melebihi Aher besar" balas Mahdania tersenyum lebar.


"Ayo kita mandi, setelah itu kita tidur siang" ajak Mahdania.


Aher beranjak dari sofa bed lalu menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi yang terletak di lantai satu. Setelah mandi dan mandi junub, Aher maupun Mahdania keluar mengenakan jubah mandi warna abu-abu yang selalu ada di setiap kamar yang ada di rumah nomor A20. Keduanya kembali keluar dan merebahkan tubuhnya mereka di sofa.


"Selamat tidur istriku" ucap Aher mengecup puncak kepala istrinya lalu memejamkan mata.


Pukul 15:01 PM


Aher menggeliat lalu bangun. Kemudian bergegas ke kamar yang ada di lantai dua. Kamar yang sering Aher dan Mahdania tempati tidur dan membuat penerus keluarga Nazaim.


"Sekarang sudah jam tiga. Lebih baik aku mandi" gumam Aher berjalan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Aher keluar dan bersiap-siap untuk ke masjid menunaikan shalat asar berjamaah.


Dengan gagah, Aher menuruni anak tangga. Menghampiri istrinya yang masih tidur. "Da, aku ke masjid dulu ya" pamit Aher sekalipun ia tahu istrinya tidak akan mendengar apa yang baru saja ia katakan.


--


Aziz meraih handle pintu rumah. Pria itu hendak ke masjid untuk shalat. Saat keluar rumah, ia melihat sahabatnya juga keluar dan hendak menyalakan mesin motornya. "Aher manja..." panggil Aziz seraya melambaikan tangannya.


Aher menoleh. "Bagaimana Aziz penakut. Apa kau mau nebeng?" tanya Aher.


"Iya. Tolong beri aku tumpangan. Aku malas membawa motor" balas Aziz tersenyum.


Aher tersenyum lalu menjemput sahabatnya di depan rumah A19. "Ayo sahabatku yang penakut" kata Aher terkekeh.


Di dalam rumah A19, Amrita mengerjap berulang kali. Matanya menatap jam dinding di atas televisi. "Sudah jam tiga lewat. Sepertinya Mas Aziz sudah ke masjid" gumam Amrita. Lalu beranjak dari sofa bed.

__ADS_1


Amrita mengikat asal rambutnya. Berjalan menuju tempat jemur pakaian. Lalu mengangkat semua pakaian yang sudah kering dan meletakkannya di sofa. "Selesai memasak dan mandi baru aku lipat" gumamnya sambil berkacak pinggang.


🎶


Wanita memang harus rajin.


Kalau tidak, di depak suami.


Hahahaha...


Ibu hebat, pandai memasak.


Pandai jaga anak.


Dan... Pandai atur keuangan.. 🎶


"Sepertinya aku sudah pandai menciptakan lagu" gumam Amrita menggoyangkan pinggulnya.


"Mama berisik sekali. Mana suaranya jelek lagi!" ketus Fattan sambil memeluk adiknya dan kembali tidur.


Amrita terkekeh lalu ke dapur melihat apa yang bisa dimasak. Kalau tidak ada maka jalan satu-satunya pesan makanan. Atau ke pasar belanja sayur dan daging ikan atau daging ayam. "Ikannya sudah habis dan tinggal udang. Tapi Fadila dan Fattan nggak suka udang. Aku harus ke pasar membelikan ikan yang bisa dimakan anakku" gumam Amrita.


"Aku tunggu Mas Aziz saja. Kasihan Fadila dan Fattan jika aku tinggalkn mereka di rumah sebesar ini" sambungnya kemudian menghampiri kedua anaknya.


Amrita duduk di sofa sambil mengunya kue nastar. Matanya tertuju pada layar televisi yang menayangkan film Action Luar Negri. "Film Luar Negri memang sangat keren. Acting mereka seperti nyata saat memerankan perang dan pembunuhan. Pantas saja artis-artis pemain film action sangat kaya. Ternyata bayaran mereka juga mahal" gumamnya dengan takjub.


"Assalamualaikum" ucap Aziz yang baru saja pulang dari masjid.


"Waalaikumsalam" balas Amrita.


Aziz mengambil tempat di samping istrinya. Melirik anaknya sekilas lalu tersenyum mesum. "Sayang, aku mau itu" kata Aziz. Pria itu menunjuk dua gunung kembar milik istrinya.

__ADS_1


"Mas mau sekarang atau mau malam? Kalau sekarang ayo, tapi aku sedang ada tamu jadi jangan sampai di bawah" jelas Amrita. Wanita itu nggak mau membuat suaminya menahan nafsu. Takutnya suaminya itu mencari gunung kembar yang lain.


"Ini nih yang bikin aku ingin terus. Kamu bersemangat soal percintaan" puji Aziz tersenyum lebar. Lalu memeluk erat istrinya. "Aku hanya bercanda. Kita tunggu sampai tamu kamu pulang" sambungnya tanpa melepas pelukannya.


__ADS_2