Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 3


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana Fattan akan mengucapkan ijab kabul pernikahan di hadapan para tamu yang hadir. Berhubungan taman Citraland sangat luas, maka acara akad dan resepsi di adakan di Perumahan Citraland.


"Sakia, adikku. Selamat ya, akhirnya kamu bisa menikah dengan pria yang pernah kamu cintai"


Suara itu begitu dikenal oleh Sakia. Siapa lagi kalau bukan Sabila. Sabila baru saja tiba dari bandara dan langsung pulang ke rumah. Wanita itu kabur dari rumah hanya karena tidak ingin menikah dengan Fattan. Alasan dia kabur dan kembali juga tidak ada yang tahu selain dia sendiri.


"Masih tahu jalan pulang ya, Kak. Kia kira Kakak sudah lupa jalan pulang ke Kota ini, terutama jalan pulang ke rumah" sindir Sakia. Sakia yang selalu baik dan selalu bertutur kata lemah lembut kini menjadi wanita bermulut pedas.


Sabila tertawa lepas. "Aku ini kakakmu, Dek. Sejelek jeleknya sifat ku tetaplah aku Kakak mu. Mana mungkin aku nggak pulang sedangkan adikku satu-satunya mau menikah" ujar Sabila dengan santai lalu mencolek pipi adiknya.


"Jangan sok menjadi Kakak yang baik. Kia tahu Kak Sabila orangnya seperti apa. Oh ya, terima kasih karena Kakak sudah kabur. Dengan begitu, Kia bisa keluar dari rumah. Dan kalian di rumah bisa bebas ke mana saja" kata Sakia.


Alasan lain Sakia tidak ingin kuliah karena kesibukan orang tuanya. Saat Sakia berada di Sekolah Dasar, Mahdania kembali sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan Aher yang sibuk di rumah sakit. Sakia mulai merasa sendiri dan merasa kurang kasih sayang. Mencintai Fattan membuat semangatnya kembali bangkit. Dan semangatnya kembali pudar setelah cintanya bertempuk sebelah tangan.


"Jangan berkata seperti itu. Mama dan Papa sangat menyayangimu, begitupun aku, aku juga sangat menyayangimu" kata Sabila.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Sabila, kamu sudah kembali, Nak" ucap Mahdania dengan netra mata berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu mendekati putri sulungnya, Sabila. Lalu menangkup wajah putrinya dan mencium puncak kepalanya.


"Pemandangan yang sangat indah" gumam Sakia yang merasa cemburu melihat Mamanya memeluk Sabila.


"Sebenarnya Kia anak kandung Mama dan Papa atau hanya anak angkat? Atau karena Kia selalu di rumah dan nggak pernah buat onar seperti Kak Sabila. Apa Kia harus bersikap seperti Kak Sabila baru Mama dan Papa akan menciumku dan memelukku seperti kalian mencium Kak Sabila?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Sakia di depan Mama dan Kakaknya


Sabila dan Mama Mahdania melerai pelukan mereka. Lalu Sabila mendekati adiknya. "Sakia, adikku Sayang. Suatu hari nanti kamu akan tahu alasan Kakak nggak mau menikah dengan Kak Fattan. Maafkan Kakak yang begitu egois dan nggak memikirkan perasan mu. Maafkan Kakak"


Netra mata Sakia mulai berkaca-kaca. Sekalipun Sabila membuat hatinya terluka tapi Sabila tetaplah Kakaknya. "Kakak" panggil Sakila melebarkan kedua tangannya.

__ADS_1


Sabila tersenyum dan memeluk adiknya. "Kamu pasti akan tahu alasannya" ujarnya. "Hei, jangan menangis. Nanti cantiknya hilang" goda Sabila.


"Putri Mama cantik sekali. Mama Sayang kalian berdua" ujar Mama Mahdania lalu memeluk kedua anaknya.


"Apapun alasannya. Akan aku jalani pernikahan ini. Semoga Allah meridhoi pernikahanku dan Kak Fattan" batin Sakia.


...---...


"Saudara Fattan Furqan Zakri bin Aziz Zakri saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putriku Sakia Putri Ahmadenar binti Ahmadenar dengan mas kawin seperangkat alat shalat, perhiasan emas seratus gram dengan uang seratus juta rupiah dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Sakia Putri Ahmadenar binti Ahmadenar dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai" jawab Fattan dalam satu helaan napas.


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAAH..."


Fattan mengukir senyum saat hendak menamatkan cincin kawin di jari manis istrinya-Sakia. Sementara Sakia berusaha mengukir senyum agar keluarganya tidak malu karena sikapnya


...---...


"Ternyata pakaianku sudah di sini semua. Hebat sekali mereka memindahkan semua pakaianku dalam sekejap" gumam Sakia.


Sakia keluar dari kamar mencari seseorang yang bisa membantunya. Seulas senyum tersungging manis saat melihat Fadila berjalan ke arahnya. "Aku minta tolong sama Kak Fadila saja" batin Sakia.


"Kakak" panggil Sakia. Sakia menarik tangan Fadila dan membawanya masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu kamar dari dalam.


"Ada apa, Dek?" tanya Fadila dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Kia rasa kakak pun tahu tanpa Kia jelaskan. Jadi tolong bantu Kia melepas semua pernak pernik di kepalaku ini" pinta Sakia merengek.


"Nggak apa-apa aku membantunya. Lagian Sakia juga sudah nggak mencintai Kak Fattan. Jadi sudah pasti Sakia akan keberatan jika dibantu Kak Fattan" batin Fadila.


"Ya sudah. Sekarang kamu duduk biar kakak bantu" kata Fadila tersenyum. Fadila mulai membantu Sakia melepas mahkota yang ada di kepalanya. Mahkota yang beratnya 2,5 kg itu cukup membuat mata Sakia hampir berkunang kunang. Lalu melepas jilbab hingga pakaian pengantin yang dikenakan Sakia.


"Selesai" ujar Fadila tersenyum.


"Terima kasih Kak Fadila. Kakak adalah Kakak yang sangat baik" kata Sakia memeluk iparnya.


Tok tok tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar. Fadila bergegas membuka pintu dan mendapati Kak Fattan di depan kamar. "Jaga Sakia baik-baik" kata Fadila lalu melewati Kakaknya.


"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam saat masuk ke kamar.


"Waalaikumsalam" balas Sakia sambil menyeka make up tebal di wajahnya.


Fattan melirik Sakia. Melihat Sakia mengenakan jilbab


sekalipun berada di kamar. "Nggak kepanasan?" tanya Fattan.


"Nggak" balas Sakia dengan santai. Dia malu, tapi wanita itu berusaha untuk baik-baik saja.


"Tolong ambilkan baju tidur di lemari" pinta Fattan dengan sengaja. Pria itu hanya ingin tahu, apa Sakia akan menuruti perintahnya atau tidak.


Sakia menghentikan kegiatannya. Menatap suaminya sejenak lalu berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian. Membuka lemari dan mengambil satu stelan baju tidur kemudian menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Ini bajunya" kata Sakia tanpa ekspresi. Lalu kembali duduk di meja rias dan kembali menghapus make up nya.


"Kenapa aku bahagia. Nggak mungkin aku jatuh cinta pada wanita yang aku tolak cintanya" batin Fattan.


__ADS_2