Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 55


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, Amrita melajukan motor maticnya menuju kampus. Setelah melakukan perjalanan beberapa puluh menit, ia pun sampai di parkiran kampus. Dengan cepat, Amrita mengambil tentengan yang berisi laporan.


"Amrita..." panggil Hanin yang juga baru datang.


"Hanin, ayo cepat. Kita sudah terlambat" kata Amrita terburu-buru.


"Iya, Amrita" balas Hanin bergegas menghampiri sahabatnya. Hanin dan Amrita


bergegas ke kelas. Sebelum masuk keduanya mengumpulkan keberanian mereka. Dan tak lupa membaca doa agar selamat dari amukan dosen Anfisman.


"Kita mantan anak nakal. Sudah terbiasa dimarahi dan dihukum. Ayo kita masuk" ujar Hanin mengganggukan kepala memberi keberanian pada Amrita.


Amrita meraih handle pintu lalu memutarnya. "Assalamualaikum. Boleh kami masuk, Bu?"


"Cepat masuk dan tutup pintunya" balas sang dosen dengan tegas.


Amrita pun masuk dan disusul oleh Hanin. Hanin menutup pintu lalu duduk di kursinya. Dia dan Amrita mengeluarkan binder dan pulpen, lalu mencatat hal-hal penting dari materi yang dijelaskan.


"Pekan depan kita kuis tentang materi hari ini. Dan jangan lupa pelajari sistem pernapasan beserta fungsinya untuk materi pekan depan" jelas Bu Fauziah.


"Baik, Bu..." balas semua mahasiswa dan mahasiswi bersamaan.


Dosen Anfisman pun keluar. Selang beberapa menit, Dosen Botani pun masuk dan memulai materi. Yang namanya manusia, kalau terimah mata pelajaran di siang hari pasti bawaannya mengantuk. "Kenapa mataku selalunya mau tertutup" batin Amrita.


"Materi hari ini tentang fotosintesis pada tumbuhan" ujar Pa Iqbal. "Apa itu fotosintesis? Siapa yang bisa jawab" tanyanya.


Amrita mengangkat tangan. "Amrita Venisa, coba jelaskan apa itu fotosintesis" titah Pa Iqbal.


"Fotosintesis adalah salah satu upaya tumbuhan untuk bisa menghasilkan makanannya sendiri. Dalam proses fotosintesis ini, tumbuhan selalu membutuhkan zat hijau daun yang disebut klorofil" jawab Amrita.


"Hanin, apa itu klorofil?" tanya Pa Iqbal.


"Klorofil atau zat hijau daun adalah pigmen yang dimiliki oleh berbagai organisme dan menjadi salah satu molekul yang berperan utama dalam fotosintesis" jawab Amrita.


"Fakri, sebutkan salah satu contoh fungsi klorofil pada proses fotosintesis?" tanya Pa Iqbal.


"Mengubah cahaya matahari menjadi energi" jawab Fakri.


"Ade, apa lagi fungsi klorofil pada proses fotosintesis selain yang disebutkan oleh Fakri?" tanya Pa Iqbal melempar pertanyaan pada pria tertampan ke dua di kelas A.

__ADS_1


"Klorofil juga mengubah karbondioksida menjadi karbohidrat untuk energi tumbuhan" jawab Ade.


--


Pukul lima sore, Amrita dan teman-temannya masih di kampus menunggu asisten. Sesuai peraturan lab, dua hari setelah lab laporan harus di kumpul. Dan hari ini, mereka sedang menunggu asisten laboratorium yang ditugaskan memeriksa laporan ditiap kelompok.


"Laporanku paling bawah, soalnya baru beberapa lembar" ujar Egy, teman sekelompok Amrita.


"Lalu siapa yang paling atas?" tanya Fakri.


"Laporanku saja. Semuanya sudah aku ketik dan tinggal gambar penelitian" jelas Amrita.


"Fadila, jangan lupa print gambar ya. Print sesuai jumlah orang dalam kelompok" ujar Hanin kepada Fadila.


"Iya, Hanin" balas Fadila.


Laporan telah disatukan, tinggal menunggu asisten datang. Lima belas menit telah berlalu, namun asiten tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengar notifikasi di ponsel Amrita. Dan ternyata itu pesan dari asisten yang ditunggu.


"Assalamualaikum. Maaf ya dek. Kakak ngak jadi datang. Ban mobil kakak kempes di jalan"


Itulah pesan dari asisten yang ditunggu tunggu. Pesan masuk itu bukanlah kabar buruk, melainkan kabar bahagia bagi mereka yang belum selesai mengetik.


--


"Aziz, boleh aku numpang di mobilmu? Mobilku masih di bengkel" ujar Safira.


"Aduh, bagaimana ini? Aku ngak mau berbohong pada istriku" batin Aziz.


"Boleh saja, Safira. Tunggu aku hubungi istriku dulu ya. Soalnya dia mau ke sini" balas Aziz tersenyum.


"Amrita lagi Amrita lagi!!" ketus Safira di dalam hatinya. "Iya, Aziz" kata Safira tersenyum.


Saat bersamaan, Madania datang menjemput Aher. Ia melihat Safira dan Aziz di lorong rumah sakit. "Aziz, Safira, Aher di mana?" tanya Madania.


"By, aku di sini..." teriak Aher sambil melambaikan tangannya. Pria itu berjalan menghampiri kekasihnya, Aziz dan juga Safira.


"Ayo kita pulang" ajak Aher sembari menggandeng tangan kekasihnya.


"Tungu" kata Madania lalu melirik Safira sejenak. "Safira, jika kamu butuh tumpangan kamu bisa ikut aku dan Aher. Kebetulan jalan ke rumah Aher juga melewati rumahmu"

__ADS_1


"Aaa--" Safira nampak bingung harus jawab apa. "Sial! Ada-ada saja ulah anak kampret ini" batin Safira.


"Safira, kamu ikut mereka saja. Aku belum bisa pulang sekarang. Istriku belum menjawab panggilan telepon dariku" ujar Aziz.


"Baikla. Kamu hati-hati ya" balas Safira tersenyum. Dengan terpaksa, Safira pulang bersama Aher dan Madania.


Madania tahu apa rencana Safira, itulah sebabnya ia memberikan tumpangan pada Safira. "Dasar ulat bulu. Sifat pelakornya tidak pernah hilang" batin Madania.


Safira, Aher dan Madania berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju parkiran mobil. Sesampainya di parkiran, ketiganya masuk ke dalam mobil.


--


Sementara Aziz, pria itu kembali ke ruangannya dan melakukan panggilan suara bersama istrinya. "Sayang, kamu di mana?" tanya Aziz.


"Aku di jalan, Mas. Nanti aja baru nelepon, soalnya aku lagi bawah motor" balas Amrita.


"Iya, Sayang. Ini aku mau pulang, kamu mau dibelikan apa?" tanya Aziz sebelum memutuskan panggilan.


"Ngak perlu, Mas. Cukup Mas pulang membawa diri saja" balas Amrita.


"Oke baikla, Mas matiin teleponnya ya. Assalamualaikum" ujar Aziz lalu memutuskan panggilan telepon.


Aziz mengambil kunci mobilnya lalu bergegas keluar ke parkiran. Saat di depan pintu keluar, ia kembali bertemu dengan Pak Berti. Seperti biasa, Aziz akan bercanda gurau dengan Pak Berti.


"Pak, aku pulang duluan ya Pak. Assalamualaikum" ujar Aziz lalu keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, Aziz menepikan mobilnya di pinggiran jalan, tepat di samping kedai Terang bulan. Ia keluar dan mengantre. "Mas, Terang bulan susu kacang satu ya" kata Aziz.


"Iya, Mas" balas sang penjual terang bulan.


Hampir lima belas menit menunggu, pesanan pun sudah matang dan tinggal di bayar. "Ini Mas terang bulannya" ujar sang penjual sembari menyerahkan satu kotak terang bulan.


"Terima kasih, Mas" balas Aziz lalu membayar tagihan.


Setelah membayar tagihan terang bulan, Aziz melanjutkan perjalanan ke rumah. Dan kini, pria itu telah sampai di rumah setelah hampir 13 menit melakukan perjalanan.


"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam wr wb. Apa itu, Mas?" tanya Amrit melihat tentengan yang di bawa suaminya.

__ADS_1


"Ini untuk kamu, agar semangat belajarnya" kata Aziz sembari meletakkan tentengan terang bulan di atas meja.


"Subhanallah, ternyata suamiku laki-laki idaman semua wanita" ujar Amrita tersenyum sumringah.


__ADS_2