Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 11


__ADS_3

Amrita dan Aziz sudah berada di Hasna Boutique untuk mencoba gaun pengantin. Amrita maupun Aziz terlihat begitu cantik dan tampan saat mengenakan gaun pengantin. Warna baju yang mereka pilih adalah warna abu-abu. Setelah selesai mencoba gaun pengantin keduanya memilih pulang. Saat diperjalanan Aziz merasa lapar, ia pun memakirkan mobilnya dipinggiran jalan.


"Om, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Amrita menatap bingung Dokter Aziz.


"Mau makan, aku sangat lapar" kata Aziz sembari membuka pintu mobil.


Aziz melangkah masuk ke dalam rumah makan kecil yang ada dipinggiran jalan. Ia menoleh kebelakang mencari Amrita. Namun Amrita tidak ada. Aziz kembali ke mobil ia melihat Amrita sedang memainkan ponselnya. Aziz membuka pintu mobil, memintah Amrita untuk turun. Amrita sempat menolak karena ia masih kenyang.


"Cepat turun. Aku tidak perduli kamu masih kenyang atau apalah. Yang aku mau kamu temani aku makan" kata Aziz sembari membuka pintu mobil.


Amrita ke luar dari mobil melangkah masuk ke dalam rumah makan. Matanya membulat saat pandangannya terhenti pada satu sosok wanita yang ia rindukan, dia adalah Hanin. Amrita mendekat memegang bahu Hanin, membuat Hanin terperanjat.


"Amrita!!" sorak Hanin dengan girang. Ia berdiri memeluk erat Amrita. Beberapa orang yang ada di rumah makan menoleh kearah gadis muda yang baru bertemu setelah sekian hari tidak berjumpa.


"Aku kangen kamu.." rengek Amrita.


"Hanin, kamu dengan siapa ke sini?" tanya Amrita. Ia mengambil tempat di samping Hanin sedang Aziz, ia duduk berhadapan dengan Amrita.


Hanin terkekeh mendengar pertanyaan Amrita. Harusnya pertanyaan itu tidak perlu ada. Karena tidak ada pria yang bisa mengajak Hanin makan di luar selain Fakri. Hanin dan Fakri tidak pacaran tapi keduanya sangat dekat namun sering berkelahi.


"Siapa lagi kalau bukan dengan si pria bejat itu" balas Hanin santai. Hanin menoleh menatap Aziz yang kini duduk di depan Amrita.


"Kamu jalan sama Om-Om?" bisik Hanin pelan. Matanya masih terfokus pada wajah tampan Dokter Aziz.


"Iya, dia Om yang tidak mau dipanggil Om" balas Amrita tanpa berbisik. Hanin tersenyum lirih saat Amrita tak dapat berbicara dengan pelan. Sedangkan Aziz menggeram kuat saat mendengar Hanin dan Amrita memanggilnya Om.

__ADS_1


Selang satu menit, Fakri datang menghampiri Hanin. Ia tersenyum saat melihat Amrita berada di rumah makan yang sama dengan mereka.


"Maaf ya Han, aku kelamaan di dalam" kata Fakri, ia mengambil tempat disamping Aziz. Aziz menoleh saat mendengar suara yang ia kenal. Matanya membulat saat ia melihat pria yang kini duduk disampingnya.


"Fakri. Sedang apa kamu di sini?" tanya Aziz. Ia kembali menatap Amrita lalu menatap Hanin. "Jangan bilang kalau pria bejat itu adalah Fakri" kata Aziz menaik turunkan alisnya.


"Kakak, jangan memasang ekpresi seperti itu. Pria bejat adalah panggilan untukku dari dua gadisku ini" kata Fakri, ia tersenyum manis kepada Amrita dan juga Hanin.


"Hanin, aku ingin melapor. Saat di rumah sakit, Fakri sangat sombong. Dia mengabaikan aku di depan orang tuanya. Ingin rasanya aku menabok kepalanya hanya saja aku takut dimarahi Tante Eka dan Pa Sofyan" ujar Amrita. Seketika ia terdiam, mengingat kembali kisah mereka yang tidak tahu siapa Fakri sebenarnya.


"Dan ternyata, Fakri adalah anak Pa Sofyan, kepala sekolah kita" ujarnya.


"Apa!!" Hanin membulatkan mata dengan mulut sedikit terbuka. Ia menatap tajam Fakri yang kini tersenyum manis ke arah mereka berdua.


"Jangan bilang kamu sering melapor ke papamu kalau aku dan Amrita sering mengumpat bahkan menyumpahinya" ujar Hanin menyelidik.


"Ini nasi kuningnya" kata pegawai rumah makan. Ia meletakan dua piring nasi kuning di atas meja. Aziz melahap makanan yang ia pesan. Ia tidak mau ikut campur urusan ketiga anak muda yang kini saling bertempur kalimat. 10 menit kemudian, nasi kuning telah habis dimakan. Aziz menoleh menatap Amrita dan nasi kuningnya belum disentuh walau sedikitpun.


"Fakri, kakak pulang duluan. Selesaikan masalahmu dengan Hanin setelah itu kembali ke rumah" kata Aziz beranjak dari tempat duduk. Ia tahu nama Hanin saat kejadian disekolah. Dan ia juga tahu, bahwa adiknya itu jatuh cinta pada Hanin.


"Om! Aku belum makan" teriak Amrita saat Aziz memintanya masuk ke dalam mobil.


"Itu bukan urusanku. Kamu terlalu sibuk dengan mulutmu hingga lupa perutmu" Aziz melangkah pergi lalu masuk ke dalam mobil. Membiarkan Amrita mengoceh di dalam rumah makan.


Amrita pamit pada Hanin dan juga Fakri. Ia berlari kecil lalu masuk ke dalam mobil. Amrita terus diam tanpa menoleh menatap Aziz. Saat diperjalanan, perut Amrita keroncongan. Ia memegang perutnya agar tidak mengeluarkan bunyi yang memalukan.

__ADS_1


Aziz kembali menepikan mobilnya dipinggiran jalan tepatnya di Pertamina sebelum Kodam XIV Hasanuddin, Setia Hingga Akhir yang berada di jalan Panaikkang. Aziz ke luar dari mobil, ia memesan satu bungkus nasi ayam.


"Ini nasi ayamnya Mas" kata penjual nasi ayam sembari menyodorkan satu kotak nasi ayam. Aziz mengambil kotak nasi ayam lalu membayarnya.


"Sekarang kamu makan" titah Aziz sembari menyerahkan nasi ayam pada Amrita.


"Terimakasih Om" ujar Amrita.


"Ia kepokanakanku" balas Aziz. Ia kesal mendengar Amrita memanggilnya Om. Mau diapa lagi, sudah menjadi kebiasaan Amrita memanggil Aziz dengan panggilan Om.


Amrita terkekeh saat Aziz memanggilnya keponakan. "Om, aku makan di mana?" tanya Amrita.


"Makan di atas pohon mangga!" ketus Aziz. Yang benar saja Amrita tanya makan di mana sedangkan mereka berada di dalam mobil.


"Loh, kenapa bisa makan di atas pohon. Bukankah kita berada di dalam mobil" ujar Amrita. Tanpa ia sadari, pertanyaan dan kalimat yang baru saja ia lontarkan adalah kalimat yang tak perlu menghadirkan pertanyaan.


"Kamu tahu tapi masih nanya" kata Aziz menatap tajam Amrita.


"Om, jangan suka marah-marah, nanti cepat tua. Apa Om mau, diumur Om yang ke 30 tahun, Om tidak lagi di panggil Om melainkan kakek" Amrita tersenyum lalu melahap nasi ayamnya. Tak memutuhkan waktu lama, nasi pun habis tak tersisah.


"Om, terimakasih banyak. Tetaplah menjadi Om yang baik untuk ku. Aku tidak janji, hanya saja aku ingin mengatakan hal ini pada Om" kata Amrita menatap lekat wajah Aziz yang tengah fokus menyetir.


"Kamu ingin mengatakan apa?" tanya Aziz penasaran.


"Aku ingin muntah" kata Amrita. Belum sempat Aziz menepikan mobilnya, Amrita sudah lebih dulu memuntahkan isi perutnya di dalam mobil.

__ADS_1


"Amrita!!" teriak Aziz saat muntahan Amrita mengenai baju dan celana yang ia kenakan. Saat menoleh, ia tidak melihat Amrita disampingnya dan ternyata Amrita sedang berdiri disamping kaca jendela mobil.


"Hahahahahaha. Rasain tuh Om mesum, itu balasan karena Om memesan nasi ayam pedas" ledek Amrita lalu masuk ke dalam angkot.


__ADS_2