
"Jaga anak kita baik-baik. Enam bulan lagi aku kembali ke Indonesia"
"Iya, Sayang. Kamu hati-hati di situ. Aku istirahat dulu ya. Bye-bye Sayang. Ummuaaah"
Setelah berbalas pesan dengan Ayah biologis anaknya, Sabila tersenyum miring. Wanita itu beranjak dari sisi tempat tidur dan duduk di balkon. Tangannya terus menerus mengelus perutnya.
"Selagi menunggunya kembali. Akan aku manfaatkan bayi dalam kandunganku ini untuk menghancurkan rumah tangga Sakia" gumam Sabila tersenyum sinis.
"Aku membencimu!! Sejak kamu lahir, kasih Sayang Mama dan Papa mulai terbagi. Dan orang-orang yang aku cintai selalu saja menyukaimu. Apa kurangnya aku? Kenapa selalu kamu yang dipuji pria lain!" sambungnya menggertakan gigi.
Ya, Sahman Azlana, pria yang disukai Sabila sebelum Sabila jatuh cinta pada Fattan. Pria itu mengagumi Sakia yang katanya sopan dan menawan. Karena cintanya bertepuk sebelah tangan, Sabila membuat Fattan semakin jatuh cinta padanya. Kenapa? Karena Sabila tahu, Sakia sangat menyukai Fattan. Dengan Fattan menolak cinta Sakia, maka itu akan melukai hati Sakia dan itu yang Sabila inginkan. Dia ingin Sakia merasakan bagaimana sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Mama dan Papa mudah sekali di bohongi. Aku bersenang-senang dengan Ayah anakku dan mereka mengira aku lanjut study di Jakarta. Hahahaha" kekeh Sabila mengingat pesan yang dia kirimkan pada kedua orang tuanya.
"Papa, maafkan aku. Jujur saja, aku nggak mencintai Kak Fattan lagi. Papa tahu kan kalau Sakia cinta mati sama Kak Fattan. Sekalipun itu dulu, tapi nggak ada salahnya kalau Papa minta Sakia menggantikan aku. Oh ya, aku sekarang di Jakarta, aku mau lanjut study ku di sini"
Ruko minimalis
Sakia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas namun dengan mata yang sembab. "Biarkan mereka mempercayai Kak Sabila. Lagian Kia tahu, siapa Ayah dari anak yang di kandung Kak Sabila" batin Sakia.
"Kia, maafkan Kakak" Fattan mengigau. Dalam tidurpun, air matanya menetes dari kedua sudut matanya.
"Maafkan Kia Kak Fattan. Kia tahu kebenarannya tapi Kia diam. Bukannya Kia suka Kakak dipukul tapi Kia ingin memberi kesempatan pada Kak Sabila untuk jujur. Kia nggak mau membongkar aibnya. Tapi nyatanya dia semakin mempercantik acting nya. Kia janji, Kia akan mengakhiri kebohongan Kak Sabila" batin Sakia.
"Kia, maafkan Kakak" Fattan kembali mengigau.
"Kia sudah memaafkan Kakak" kata Sakia sambil mengelus rambut suaminya.
...🌻🌻...
Setelah kembali dari shalat subuh, Fattan masih terlihat tidak bersemangat. Dia stres. Belum juga mendapatkan hati istrinya sekarang masalah baru datang menghampirinya.
"Bila seperti ini, akan semakin sulit mengejar cinta istriku. Yang ada bukan cinta namun kebencian yang aku dapat. Mungkin di mulutnya dia berkata dia mempercayaiku tapi hatinya pasti terluka dan membenciku" batin Fattan sambil menapakkan kaki di tangga samping ruko.
__ADS_1
"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam lalu masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam" balas Sakia yang sementara membuat kue apang di dapur.
"Kakak, yang semangat dong. Jangan frustasi seperti itu" ujar Sakia.
Fattan tersenyum menghampiri istrinya. "Kakak tanya sekali lagi. Kia percaya kan sama Kak Fattan?" tanya Fattan serius.
"Demi Allah. Kia percaya sama Kakak. Kakak tenang saja. Kia nggak akan membiarkan Kak Sabila berbuat sesukanya" balas Sakia.
Fattan sedikit lega. Pria itu mengulas senyum lalu mencari kain pel lantai. "Kia, di mana kain pel?" tanya Fattan.
"Kakak mau ngapain?" tanya Sakia mengerutkan keningnya.
"Mau olahraga" balas Fattan.
"Olahraga kok cari kain pel" gumam Sakia tak mengerti. "Kain pel ada di lantai satu. Kakak turun saja di bawah. Kemarin Kia membersihkan lantai jadi nggak sempat bawa naik" sambungnya.
"Aku tahu Kak Sabila tidak menyukaiku. Hingga dia berusaha menghancurkan aku. Dasar wanita berhati iblis. Hanya untuk menghancurkan rumah tanggaku dia melibatkan anaknya" batin Sakia.
"Apa dia pikir aku nggak tahu siapa Ayah biologis anak itu. Aku masih punya hati hingga sampai detik ini aku simpan aib Kakak tapi Kakak sendiri yang mengumbar aib Kakak. Jangan salahkan aku bila nanti Kakak dihukum oleh Mama dan Papa" ucap Sakia dalam hati.
"Dek, kue apang nya udah matang" tegur Fattan saat melihat istrinya melamun.
"Hehehehe" cengir Sakia. Senyumnya mulai hadir saat masalah menghampiri rumah tangganya. Senyum yang selalu dia ciptakan agar suaminya tidak stres.
...🍁🍁...
Fattan kembali pada akitifitasnya di rumah sakit sementara Sakia memilih libur bekerja. Wanita itu sudah mengirim pesan pada Nada untuk rehat sehari dan besok baru mereka membuka butik.
Perumahan Citraland nomor A20
Di depan rumah inilah Sakia berdiri. Rumah Mama dan Papanya. Rumah di mana dia dilahirkan secara normal tanpa bantuan Ibu Bidan. Sakia menghirup udara dalam-dalam sebelum menekan bel rumah. Setelah merasa siap, dia menekan bel rumah sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Cek--lek... (Pintu terbuka)
Mama Mahdania tersenyum. "Ayo masuk, Sayang" kata Mama Mahdania.
"Assalamualaikum" Sakia mengucap salam dan tak lupa mencium tangan Mamanya lalu masuk ke dalam rumah.
"Di mana Ayah anak ku?" tanya Sabila tanpa malu. Seakan-akan perbuatannya bukanlah hal yang menjijikan. Hamil diluar nikah, bukannya meminta maaf tapi dia bertingkah seperti manusia yang tidak memiliki rasa bersalah.
"Di New York" balas Sakia dengan santai lalu mendudukkan bokongnya di sofa.
Sabila terdiam. "Apa Sakia tahu kalau aku hamil anak--? Nggak mungkin" batin Sabila.
"Mama, di mana Papa? Kia mau bicara sama Mama dan Papa. Ini mengenai suamiku yang kalian bully dengan bentakan dan tamparan" kata Sakia.
"Papa di sini" Papa Aher tiba-tiba berdiri di tangga.
"Sakia, mending kamu pulang sebelum aku memberimu pelajaran!" usir Sabila.
"Hahahaha" tawa Sakia pecah. "Apa kakak takut? Tenang saja, Kia dan suami Kia masih punya hati. Kakak akan menghirup udara yang setiap hari Kakak hirup di kamar. Kakak akan tidur di tempat tidur yang empuk. Anggap saja Kia melakukan kebaikan itu demi keponakan Kia" kata Sakia tersenyum.
"Aduh! Papa, perutku sakit" kata Sabila yang memulai acting nya.
"By, bagaimana ini?" tanya Mama Mahdania dengan cemas.
"Baringkan dia sofa. Papa ini dokter jadi Papa bisa memeriksanya. Sekalipun Papa bukan dokter kandungan tapi Papa tahu tentang orang hamil" kata Papa Aher dengan santai. Pria itu tidak mau tertipu lagi. Dia tahu, itu adalah rencana Sabila agar Sakia pergi dari rumah.
"Di mana yang sakit?" tanya Papa Aher. Sabila mulai mengatakan di bagian mana yang sakit.
"Itu hal biasa yang terjadi pada Ibu hamil. Apalagi kandungan mu sudah tiga bulan" kata Papa Aher. "Sekarang kamu istirahat di kamar" sambungnya.
"Bagaimana ini? Kalau Sakia membongkar kebenarannya maka bisa-bisa Mama dan Papa akan sangat marah padaku. Akhhh!! Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya!!" umpat Sabila dalam hati.
"Sekolah tinggi-tinggi tidak menjamin seseorang berpikir jernih. Karena kebanyakan amarah selalu mengalahkan pendidikan" batin Sakia.
__ADS_1