Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 59


__ADS_3

Amrita mengambil tentengannya dan bergegas masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi jam delapan lewat tiga puluh. Di mana, di pukul delapan lewat tiga puluh Dosen Ibu Fifi akan masuk mengajar.


"Unyil... Ucil... " panggil Amrita saat melihat kedua sahabatnya Hanin dan Fakri hendak naik ke lantai dua.


"Amrita cepat..." ucap Hanin karena dibelakang Amrita ada Ibu Fifi yang juga baru datang.


"Iya iya!" balas Hanin sambil mempercepat langkahnya.


---


"Resep dokter adalah permintaan tertulis dan elektronik dari seorang dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuat dan menyerahkan obat kepada pasien" jelas Ibu Fifi.


"Di dalam resep meliputi nama obat, jumlah, bentuk sediaan yang diinginkan dan cara pemakaiannya. Maka untuk itu, kita sebagai seorang farmasi perlu belajar tentang singkatan bahasa latin, dosis obat dan cara penggunaan obat tersebut" lanjutnya.


"Sampai sini paham?" tanya Bu Fifi.


"Paham Bu..." jawab semua mahasiswi dan mahasiswa bersamaan.


"Ibu punya tugas untuk kalian. Pekan depan masing-masing dari kalian harus membawa satu lembar resep obat dan cari tahu apa yang tertulis di dalamnya"


"Kita akhiri materi hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas kalian, jangan banyak keluyuran dan yang paling penting jaga kesehatan kalian" jelas Bu Fifi sembari membereskan buku cetak yang di bawa.


"Baik Bu..." jawab semua mahasiswi dan mahasiswa bersamaan.


Setelah Ibu Fifi keluar, semua mahasiswa bersorak. Ada yang meregangkan tangannya ke belakang. Ada yang mulai berdiri dan mengganggu temannya. Bahkan ada pula yang memulai bergosip di pagi hari.


"Amrita, apa kau sudah mengerjakan tugas pendahuluan Fisika Dasar?" tanya Hanin yang tempat duduknya berseblahan dengan Amrita.


"Ayo kita kerja sama" timpal Ade yang tempat duduknya di belakang Amrita.


"Aku setuju" timpal Fakri yang juga ikut nimbrung.


"Kalian terlambat mengajakku bekerja sama. Aku sudah menyelesaikan semuanya" balas Amrita dengan santai.


"Hebat sekali kau. Tidak sia-sia aku menjadi sahabatmu" puji Hanin tersenyum sumringah.


"Hahahaha. Dan kau mau memanfaatkan itu ya" ucap Amrita lalu tertawa.


"Tentu saja. Oh ya Ade, bagaimana dengan pantulan dari Kak Ardi?" tanya Hanin.


"Beres. Nanti aku share di group. Usahakan besok kita pantul lagi. Semoga besok langsung di ACC sama Kak Ardi. Aamiin" balas Ade.


Dering ponsel Amrita memghentikan percakapan keempatnya. "Aku jawab panggilan telepon dulu" ujar Amrita berjalan keluar dari kelas.


"Assalamualaikum, Mas" Amrita mengucap salam setelah menekan gambar ikon hijau.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Sayang. Di mana teman-temanmu?" tanya Aziz.


"Mereka di dalam kelas. Aku sengaja keluar karena di dalam ribut sekali" jawab Amrita.


"Ya sudah. Oh ya, nanti sepulang dari kampus kamu langsung ke rumah Ibu. Nanti Mas nyusul di sana" ujar Aziz.


"Iya, Mas. Mas lagi ngapain?" tanya Amrita.


"Ini, lagi mau ke ruangan pasien. Mas tutup teleponnya ya, jangan lupa beli makanan" balas Azis lalu memutuskan panggilan dan kembali bekerja.


Setelah melakukan panggilan telepon, Amrita kembali masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi yang tadi ia tempati.


---


Pukul 1:34 PM


"Fakri, kau ke kampus naik apa?" tanya Amrita saat mereka berada di parkiran.


"Naik ojek. Motorku mogok di jalan" balas Fakri.


"Ini kunci, kau saja yang bawah motor. Berhubung aku mau ke rumah Ibu jadi kuberi kau tumpangan" ujar Amrita sembari menyerahkan kunci motornya pada Fakri, sahabat sekaligus adik iparnya.


"Siap Ibu Bos" balas Fakri tersenyum.


"Ade, apa kau langsung pulang ke rumah?" tanya Amrita.


"Kalau kau Hanin?" tanya Amrita menoleh ke Hanin.


"Aku juga ngak langsung pulang. Aku mau ke rumah Sila dulu, mau kerjakan tugas kelompok dengannya" balas Hanin.


"Ya sudah. Tadinya aku mau traktir kalian makan tapi karena kalian berdua sibuk jadi lain kali saja" ujar Amrita.


"Besok saja, nanti aku yang traktir kalian" ujar Ade tersenyum. "Aku duluan ya, Assalamualaikum" kata Ade lalu memberi salam dan mulai menyalakan mesin motornya.


Fakri mulai mengeluarkan motor dari parkiran, begitupun dengan Hanin. Fakri dan Amrita pulang ke Daya, sedangkan Hanin ke jalur kota. Mereka terpisah saat di depan kampus.


---


Kediaman Pa Sofyan


"Assalamualaikum" Fakri dan Hanin mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam. Eh, anak-anak Ibu sudah pulang" balas Tante Eka tersenyum. Tante Eka yang sedang melakukan perawatan kulit memilih melanjutkan kegiatannya.


"Sayang, letakkan tas dan laporan kalian setelah itu ke meja makan. Mbak Ima sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Ibu sudah makan dengan Mbak Ima tadi. Tinggal kalian berdua, Papa dan Aziz" ujar Tante Eka.

__ADS_1


"Baik Bu" balas Fakri dan Amrita bersamaan. Lalu keduanya ke meja makan dalam mulai makan siang. Setelah makan siang, Fakri dan Hanin menghampiri Tante Eka. Lalu mengambil tempat di samping Tante Ekan.


"Ibu makin cantik deh" puji Amrita tersenyum.


"Hahahaha. Ibu sengaja perawatan. Kan bentar lagi akan lebaran. Nah, Ibu mau ajak kalian pulang kampung. Biar kalian bisa menghidup udara segar di sana" jelas Tante Eka.


"Hirup udara segar apa, Bu. Justru di sana banyak polusinya" cetus Fakri.


"Hehehehe. Kalau gitu kita ke kampung Papa saja" ujar Tante Eka.


"Nah, kalau ke kampung Papa aku setuju" balas Fakri.


"Bagaimana menurutmu Amrita?" tanya Fakri.


"Aku setuju. Lebih baik kita ke kampung Papa aja. Pasti di sana lingkungannya sangat asri" balas Amrita.


"Oke fikss, lebaran kali ini kita ke kampung Papa. Oh ya, apa kalian berdua sudah punya baju lebaran?" tanya Tante Eka.


"Ibu, kok Ibu malah bertanya ke aku sih. Bukannya aku anak Ibu, harusnya Ibu belikan aku baju dan celana untuk lebaran nanti" ketus Fakri mengeleng gelengkan kepala.


"Hehehehe, Ibu lupa kalau kamu anak Ibu" ujar Tante Eka.


---


Pukul 7 malam, Pa Sofyan dan keluarganya sedang makan malam bersama. Di meja makan, nampak begitu ramai, berulang kali terdengar kekehan kecil yang datang dari candaan Pa Sofyan. Setelah makan malam, mereka semua memilih ke keruang keluarga.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Aziz dengan bingung, saat melihat adik, kedua orang tua dan juga istrinya yang terlihat lemas.


"A-aziz, sepertinya kami sakit" balas Tante Eka dengan pelan.


"Iya, Nak. Papa rasa mata Papa mulai buram" timpal Pa Sofyan.


"Iya Kak. Aku juga, tiba-tiba penglihatanku buram" timpal Fakri.


"Mas, cepat bawah kami ke rumah sakit sebelum kami sakit parah" pintah Amrita.


"Oke-oke, kalian tunggu di sini aku ambil kunci mobil dulu" ujar Aziz dengan panik.


"Aziz, jangan lupa bawah dompet ya Nak" tutur Tante Eka.


----


Mall Panakkukang


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Aziz dengan bingung.

__ADS_1


"Karena obatnya ada di sini Sayang. Penyakit kami ini sangat langkah dan tidak ada obatnya di rumah sakit" balas Tanta Eka tersenyum.


"Ya Allah... masuk dalam jebakan lagi aku" batin Aziz sambil menepuk jidatnya.


__ADS_2