Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 108


__ADS_3

Rumah Sakit


Aziz bergegas menghampiri pasien yang baru saja di bawah masuk ke dalam ruangan UGD. Terlihat keluarga pasien berdiri di sisi hospital bed menemani pasien dengan rasa cemas.


"Anaknya kenapa, Bu?" tanya Aziz pada Ibu pasien.


"Beberapa jam setelah makan ikan, tiba-tiba wajahnya memerah. Dia mulai muntah-muntah dan pandangannya mulai buram. Dan katanya denyut jantungnya berdetak dengan cepat. Saya memintanya minum susu tapi nggak mempan, Dok" jelas sang Ibu dengan cemas.


Setelah mendengarkan penjelasan keluarga pasien, Aziz memeriksa kondisi vital pasien. Lalu dengan segera ia menulis resep dan meminta keluarga pasien untuk mengambil obat di Apotek. Di dalam resep, ada cairan Ringer Laktat dan beberapa obat. Dalam resep tertulis kata Cito" yang berasal dari bahasa Latin yang bermakna segera (immediately).


NB: Bagi Kakak-kakak yang sering melihat keluarga pasien datang antrian terakhir tapi obatnya didahulukan maka jangan suudzon. Bisa jadi dalam resepnya ada tulisan Cito atau Urgent.


...ΩΩΩ...


Kini tiba saatnya makan siang. Aher yang belum lama selesai menangani salah satu pasien kecelakaan, pria itu langsung menghampiri sahabatnya dan mengajaknya makan siang.


"Aziz, ayo kita makan bersama" ajak Aher meletakan tangannya di pundak sahabatnya.


"Aku bawa bekal dari rumah. Apa kau tidak bawa?" balas Aziz lalu balik bertanya pada sahabatnya.


"Aku juga bawa. Ayo kita makan. Aku masih ingat kalimat Amrita" balas Aher. Kemudian mengulangi kalimat yang selalu diucapkan Amrita sebelum Aher menikah.


"Jadi dokter itu harus jaga kesehatan. Terutama perhatikan kesejahteraan perut. Jangan sampai karena efek lapar, pasien demam diagnosisnya TBC"


"Hahahahahaha" tawa Aher pecah setelah mengulangi pesan cantik dari Amrita. Pria itu kembali mengingat masa-masa dimana Aziz selalu dikerjai istrinya.


"Tertawa terus! Aku mau makan sekarang. Kamu nikmati saja ingatanmu yang dulu-dulu itu" kata Aziz sambil membuka penutup tupperware yang ia bawa.


"Jangan dulu makan. Tunggu aku ambil bekalku dulu!" seru Aher. Berlalu ke ruangannya mengambil bekal yang disiapkan oleh istrinya. Tak membutuhkan waktu lama, Aher kembali membawa tupperware dan sebotol air minum.


"Ayo kita makan" ucap Aher sambil membuka tupperware nya.


"Aziz, aku minta ikan panggang mu dong. Aku tahu ikan itu tidak pedas karena Amrita tidak mungkin membuatkan bekal yang pedas-pedas untuk kau makan di tempat kerja" jelas Aher. Pria itu tergiur melihat ikan kembung yang ditaburi dengan cabai teropong yang sudah dihaluskan.


"Ambil saja kalau kamu suka. Tetapi sebagian saja, jangan ambil semua" balas Aziz. Lalu menatap sayur yang Aher bawa.


"Aku minta sedikit sayur urap mu. Sepertinya enak" kata Aziz menatap sayur urap daun singkong.

__ADS_1


"Ini. Ambil sebagian ya, jangan banyak" balas Aher tersenyum.


Setelah berbagi makanan, keduanya mulai makan siang. Usai makan siang, Aziz maupun Aher ke mushola Rumah Sakit menjalankan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


...ΩΩΩ...


Pukul 17:45 PM


Aziz dan Aher baru saja tiba di perumahan. Hari ini keduanya nggak lembur jadi pulang lebih cepat dari hari sebelumnya. Kedua pria itu keluar dari mobil masing-masing lalu masuk ke dalam rumah masing-masing.


"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam" balas Fattan dan Fadila bersamaan. Kedua anak kecil itu sedang belajar menulis abjad.


"Papa nggak bawa obat?" tanya Fadila. Obat yang dia maksud adalah brownies amanda.


Aziz terkekeh menatap putrinya. "Apa kamu mau obat?" tanya Aziz berjongkok.


"Iya, Pa. Obat yang seperti semalam" balas Fadila.


"Nanti Papa pesankan. Oh ya, di mana Mama?" tanya Aziz.


"Sekarang Fadila dan Fattan lanjut belajar. Papa mau mandi dulu. Setelah mandi dan bersiap-siap, baru Papa pesankan obat yang sama dengan obat Mama" jelas Aziz tersenyum.


Fadila tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya. Sementara Aziz melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu membuka jas dokternya lalu melepas satu persatu kancing baju kemeja yang dikenakannya seharian. Kemudian berjalan menuju kamar mandi yang kebetulan pintunya tidak tertutup rapat.


"Mas ngagetin aja. Kenapa nggak bersuara kalau masuk!!" ketus Amrita. Wanita itu tersentak kaget saat melihat pintu kamar mandi terbuka lalu ditutup.


"Kamu yang kurang teliti. Harusnya kamu tutup rapat pintunya bukan membiarkannya sedikit terbuka. Bagaimana jika ada orang masuk dan melihat kondisimu yang sekarang? Aku hanya mengingatkanmu, ini demi kebaikanmu" balas Aziz sembari mengomeli istrinya yang ceroboh.


"Tadi aku menutupnya. Hanya saja aku lupa mengambil handuk jadi aku keluar lagi dan lupa deh menutup rapat pintunya" jelas Amrita.


"Jangan diulangi lagi" kata Aziz lalu berdiri dibawah pancuran shower bersama dengan istrinya.


Adzan magrib yang menggema di masjid membuat keduanya mempercepat kegiatan mereka. Lalu keduanya mengambil air wudhu. Setelah itu keluar bersiap-siap. Aziz mengambil peci dan sajadah lalu berpamitan pada istrinya untuk ke masjid.


"Papa, boleh aku ikut. Sekalian aku belajar dan aku janji aku tidak akan ribut" ucap Fattan yang sudah siap dengan baju koko warna putih dan peci di kepala. Dia dan adiknya berdiri di depan kamar.

__ADS_1


Aziz tersenyum lalu mengangguk menyetujui. Dia dan Fattan pun bergegas ke masjid yang lumayan jauh dari rumah. Mereka pergi menggunakan sepeda motor agar cepat sampai. Sementara Amrita dan Fadila memulai shalat magrib berjamaah di rumah.


--


"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam setelah Papanya membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam" balas Amrita tersenyum.


Fattan berlari kecil lalu mencium tangan Mamanya. "Mama, tadi aku tidak ribut. Aku berdiri di samping ayah. Orang-orang tidak memarahiku karena aku terus diam dan hanya mengikuti gerakan mereka" jelas Fattan tersenyum lebar.


"Anak pintar. Ingat ya. Dimana pun Fattan mau shalat, Fattan nggak boleh ribut. Apalagi di masjid. Masjid itu rumah Allah. Nggak baik kalau kita ribut. Takutnya mengganggu orang lain. Bagaimana perasaan Fattan kalau lagi serius belajar tiba-tiba diganggu sama Fadila. Fattan marah nggak? Pasti marah kan. Dan pasti nggak fokus lagi untuk belajar. Sama halnya dengan orang shalat. Kalau kita ribu maka mereka tidak akan kusyuk" jelas Amrita mengingatkan sekaligus menasehati putranya.


"Sekarang Fattan temui Fadila. Dia lagi belajar menulis di kamar" titah Amrita yang dibalas anggukan oleh Fattan.


Amrita menghampiri suaminya yang sejak tadi berdiri dan tersenyum. Lalu mencium tangan suaminya. "Sekarang Mas ganti baju setelah itu kita makan malam" titah Amrita.


"Iya, Sayang. Oh ya, bagaimana kalau kita ke rumah Ibu. Kita pergi bawa uang yang sudah kamu buka untuk mereka. Sekalian kita bawa anak-anak di sana. Malam ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ujar Aziz tersenyum.


"Aku mau, Mas. Bagaimana kalau anak-anak tidak mau bermalam di rumah Ibu?" tanya Amrita.


"Mereka pasti mau. Percaya sama aku" balas Aziz.


Setelah mengganti pakaiannya. Aziz mengajak keluarganya untuk makan malam. Usai makan, mereka bersiap-siap ke rumah Tante Eka. Tentu saja Fattan dan Fadila tidak keberatan jika harus bermalam di rumah Nenek mereka. Toh di sana ada Kakek dan Nenek yang begitu lucu.


Dalam perjalanan. Aziz terus tersenyum. Ada sesuatu yang pria itu rencanakan. Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Pak Sofyan.


"Kakek..." teriak Fadila dan Fattan setelah turun dari mobil lalu berlari kecil memeluk Pa Sofyan yang sementara berdiri di depan pintu menunggu Fakri pulang dari beskem.


"Cucu Kakek mau bermalam di sini ya?" tanya Pa Sofyan tersenyum lebar.


"Iya, Kakek" balas Fattan dan Fadila bersamaan.


Aziz dan Amrita masuk ke dalam rumah. Begitu juga Pa Sofyan dan kedua cucunya. Mereka bergabung dengan Tante Eka yang serius menyaksikan drama Korea.


"Bu, ini uang untuk Ibu dan Papa. Anggap saja ini bonus karena aku mau titip anakku di sini. Aku mau jalan berduaan dengan istriku. Mau menikmati indahnya kota Makassar di malam hari" jelas Aziz sembari menyodorkan amplop coklat yang berisi uang satu juta. Kebetulan Aziz baru gajian setelah pulang dari Pantai Lae-Lae. Dan Amrita meminta Aziz untuk membaginya dengan orang tua mereka. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Mereka selalu memberi orang tua mereka uang.


"Baik sekali putra dan menantu kita ini Pa. Kalau kayak gini terus Ibu siap menjaga Fadila dan Fattan. Setahun pun Ibu siap" ucap Tante Eka tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hahahaha. Ibu nggak tahu kalau itu memang untuk mereka. Bukan imbalan karena menjaga cucunya. Nanti saja baru aku jujur. Aku mau jalan-jalan dulu" batin Aziz tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2