
Sabila berdiri di balkon dengan senyum yang tak dapat diartikan. Sekali-kali tangan kanan-Nya mengelus perutnya yang rata. Dengan senyum mengembang, wanita itu berjalan masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya di atas nakas. Lalu menghidupkan layar ponselnya dan mulai mengetik sesuatu di aplikasi pesan.
"Aku ingin bertemu denganmu"
Pesan terkirim. Tak berlangsung lama, terdengar notifikasi pesan.
"Datang saja di butik. Kalau di tempat lain Kia nggak mau"
"Oke, adik ku cantik dan manis"
Setelah berbalas pesan dengan Sakia, Sabila kembali tersenyum lebar. Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sabila ke luar dari kamar mandi setelah hampir dua puluh menit dia di dalam. Dia ke luar mengenakan jubah mandi dengan rambut yang basa.
...🍁🍁...
Butik Sakia Fashion
"Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Sabila mengambil tempat di sofa yang berada di dalam butik.
"Alhamdulilah. Kia baik-baik saja. Kia dengar Kakak mengurung diri di kamar dan nggak mau kuliah lagi" Sakia menghampiri kakaknya dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Kakaknya.
Sabila tersenyum sinis. "Di mana suamimu? Aku mau minta pertanggung jawaban" ujar Sabila dengan entengnya.
Sakia mengerutkan dahinya. "Maksud Kakak?" tanya Sakia tak paham.
"Aku mengandung anak Fattan. Dan usia kandunganku sudah tiga bulan. Aku ke sini mau minta sama kamu, untuk meminta suamimu bertanggung jawab atas perbuatannya" jelas Sabila.
"Hahahahahaha" Sakia tertawa lepas sementara Nada hanya diam mendengar percakapan kakak beradik itu.
"Tertawala adikku. Tak lama lagi, tawamu akan menjadi tangis mu" kata Sabila tersenyum.
"Kak Bila, Kia nggak akan menangis tapi Kakak lah yang akan menangis. Sekalipun anak itu adalah anak Kak Fattan, tapi kalau Kia nggak memberi izin pada Kak Fattan untuk nikah lagi, Kak Bila mau apa?" ujar Sakia. Sakia mengenal kakaknya, menunjukan sisi lemahnya akan membuat Sabila tertawa bahagia jadi lebih baik Sakia bersikap tegas dan tidak perduli.
"Oh ya, kita lihat saja nanti" kata Sabila tersenyum miring.
"Nanti malam baru Kakak datang, sekalian panggil Mama dan Papa. Kia nggak sabar ingin melihat reaksi Papa saat mendengar putri kesayangannya hamil diluar nikah" kata Sakia.
"Dan satu lagi, jika Kakak nggak ingin malu maka jangan katakan bahwa anak itu adalah anak Kak Fattan" ancam Sakia.
__ADS_1
"Malu? Untuk apa aku malu, toh ini anak Fattan" kata Sabila dengan entengnya.
"Ya sudah. Kalau kakak mau seperti itu silahkan Kakak urus semuanya. Aku tunggu kalian di ruko yang sana" kata Sakia sambil menunjuk ruko yang dia dan Fattan sewa.
...🍁🍁...
Matahari mulai tenggelam dan bulan kembali menampakan diri. Terlihat Fattan baru saja tiba di ruko. Pria itu terlihat bingung karena ada dua pria paruh baya dan satu wanita paruh baya menatapnya tajam. Siapa lagi kalau bukan Papa Aziz, Papa Aher dan Mama Mahdania. Di samping Mama Mahdania ada Sabila yang menunduk.
"Assalamualaikum" ucap Fattan sambil membuka sepatunya.
"Waalaikumsalam" balas Sakia menghampiri suaminya lalu mengambil tas kerja suaminya.
"Kia, ada apa dengan mereka?" tanya Fattan berbisik.
"Duduk saja. Kakak mau diintrogasi oleh Mama dan Papa" jelas Sakia.
Bugh!!
Papa Aziz melayangkan tinjunya tepat di wajah Fattan. "Papa nggak mengajarimu untuk menodai wanita!!" bentak Papa Aziz.
Plak!!
Papa Aher menampar Fattan. "Kamu tanya kenapa? Harusnya kami yang bertanya kenapa!" bentak Papa Aher.
Papa Aher dan Papa Aziz berdiri sambil menatap Fattan. Fattan berdiri dengan wajah bingung diantara Papa Aziz dan Papa Aher. Sementara Sakia hanya diam menatap suaminya. Entah kenapa? Melihat suaminya ditinju dan ditampar, hatinya terasa sakit dan ingin memeluk suaminya.
"Kenapa kamu nggak menolak pernikahan itu kalau memang kamu sudah menodai Sabila!!" hardik Papa Aziz.
Degh!! Fattan mulai paham. Dia ditampar dan ditinju karena kata "menodai" Sabila.
"Demi Allah, Fattan nggak pernah melakukan hal itu" kata Fattan.
"Masih berani kamu mengelak!" hardik Mama Mahdania. Sementara Sabila menangis sesenggukan.
"Demi Allah, Ma, Pa, Fattan nggak pernah melakukan itu" jelas Fattan lagi.
Plak!!
__ADS_1
Tadi tinju, sekarang tamparan yang Papa Aziz daratkan. Emosi membuat mereka tidak berpikir jernih hingga mereka main fisik. "Masih mau mengelak kamu!" seru Papa Aziz.
"Papa, apa nggak bisa dibicarakan dengan baik-baik selain dengan tangan?" pertanyaan itu dengar ringannya ke luar dari mulut Sakia. Fattan adalah suaminya. Istri mana yang suka melihat suaminya ditinju dan di tampar. Terlebih lagi tidak ada bukti yang memberatkan suaminya.
Papa Aziz dan Aher mengusap wajah mereka sambil mengucap istighfar. Lalu keduanya kembali duduk di sofa. Namun tatapan mereka pada Fattan masih sama. "Jawab jujur, apa benar kamu dan Sabila pernah tidur bersama?" tanya Papa Aher.
"Paa.. anak yang aku kandung ini anaknya Kak Fattan. Kenapa Papa masih bertanya seperti itu lagi!" seruh Sabila.
"Jaga mulutmu Sabila! Jangan permalukan dirimu!" hardik Fattan tak terima.
"Hahahahaha" tawa Sabila pecah. "Dasar pria pengecut! Mau enaknya susahnya nggak mau!" Sabila berdecih.
"Jika benar aku pernah menodai mu lalu kenapa kau kabur menjelanh seminggu pernikahan? Kenapa?" seruh Fattan.
Sabila terdiam, begitu juga Papa Aziz, Papa Aher dan Mama Mahdania.
...🍁🍁...
Sepulang Papa Aziz, Papa Aher dan Mama Mahdania serta Sabila. Fattan menarik tangan Sakia. Pria itu bersimpuh di lantai sambil memeluk kedua lutut istrinya. Dia tidak berani menatap mata sang istri yang sejak tadi diam membisu.
"Kia, tolong percaya pada Kakak" ujar Fattan disela-sela tangisnya.
"Kak Fattan" panggil Sakia dengan pelan.
Fattan mendongak. Air matanya terus membanjiri pipinya. Bukan tuduhan yang membuatnya menangis tapi rasa takut, dia takut Sakia tidak mempercayainya.
"Kakak nggak pernah melakukan itu. Apa lagi sampai menghamilinya" jelas Fattan.
"Kia mau ke dapur" kata Sakia agar Fattan menjauhkan tangannya dari kedua lututnya. Sakia ke dapur mengambil air es dan kain lap kecil lalu kembali menemui suaminya yang masih duduk bersimpuh di lantai.
"Sini" Sakia meminta suaminya mendekat. Fattan berdiri dan duduk di samping istrinya.
"Menghadap ke sini" Sakia meminta suaminya untuk menghadapnya. Fattan pun kembali menurut.
"Kia. Kia percaya kan sama Kak Fattan?" tanya Fattan sesenggukan.
"Jangan menangis lagi. Kakak suami Kia. Kita tidur di ranjang yang sama dan makan bersama. Nggak mungkin Kia nggak mempelajari sikap Kakak. Kia yakin, Kakak nggak mungkin melakukan itu. Buktinya, sampai detik ini Kakak masih menjaga kesucian Kia seperti menjaga adik kandung" jelas Sakia tersenyum sambil mengompres luka suaminya.
__ADS_1