
Restoran Sedekah
Alif tengah duduk di kursi memperhatikan Nurin yang sedang bekerja bersama pegawai lainnya. Sudah seminggu hatinya selalu deg degan bila berada di dekat Nurin. Apakah itu tandanya Alif sudah move dari Sakia?
"Ada apa denganku. Kenapa aku terlihat gugup berada di dekat Nurin?" batin Alif.
"Jika benar aku mencintai Nurin, nggak akan ku biarkan orang lain merebutnya dariku. Cukup aku kehilangan Sakia, aku nggak mau kehilangan wanita kedua yang berlabuh di hatiku" gumam Alif pelan.
Alif mengulas senyum saat Nurin berjalan kearahnya. "Kakak, apa Kakak nggak ke kampus?" tanya Nurin menggeser kursi yang berada di depan Alif.
"Nanti siang. Kakak nggak ada jadwal kuliah lagi. Tinggal mau masukkan berkas untuk ujian skripsi" jawab Alif menjelaskan.
Nurin yang pada dasarnya hanya lulusan SMA di kampungnya, wanita itu hanya mengangguk anggukan kepala. Dia pernah dengar orang-orang berkata "Ujian Skripsi" tapi dia sendiri tidak tahu, ujian skripsi itu yang bagaimana.
"Kenapa aku gugup berada di dekatnya" batin Alif.
"Kak Alif, Kakak kenapa?" tegur Nurin.
"Nggak, Kakak nggak kenapa-napa" jawab Alif berbohong.
"Nurin kerja dulu ya" kata Nurin lalu kembali bekerja.
...--...
Sementara di Butik Sakia Fashion, Nada dan Sakia sedang mengecek barang yang baru diantarkan ke mereka. Pesanan gamis model terbaru dari Jakarta. Ya, mereka mengambil barang dari Jakarta lalu menjualnya kembali dengan harga yang terjangkau.
"Kakak, barang yang dari Jakarta sesuai jumlah yang di pesan. Warna dan modelnya juga sama seperti yang kita pesan" jelas Nada pada Sakia yang sementara mengeluarkan gamis dari dalam karung goni. Gamis orderan dari Bandung.
"Alhamdulilah. Dek, tolong kamu cek gamis yang Kakak keluarkan dari karung. Sepertinya Kakak salah hitung. Hehehehe" pinta Sakia terkekeh.
"Hahahaha. Kebiasaan Kakak nggak hilang hilang. Nggak bisa diganggu kalau lagi mengecek barang masuk" ujar Nada tertawa. Nada mengambil nota barang belanjaan lalu mulai menghitung jumlah gamis yang masuk.
__ADS_1
Hampir tiga jam Sakia dan Nurin melakukan pengecekan. Keduanya terbaring di atas tumpukan barang yang berserekahan dilantai. Lelah, sangat lelah. Itulah yang dirasakan Nada dan Sakia.
"Dek, sepertinya kita harus nambah pegawai. Kakak nggak kuat" ujar Sakia sambil menatap langit-langit butik.
"Aku juga merasa begitu, Kak. Banyak costumer yang nggak sabaran sekali. Sekali ketik keep langsung mau dihubungi. Kakak, kita cari dua pegawai lagi ya. Untuk membantuku menjadi admin" jelas Nada memohon.
"Iya, Dek. Apa kamu punya kenalan yang lagi cari pekerjaan?" tanya Sakia.
"Ada sih. Tapi dia di kampung. Kalau rekrut dia berarti ditugaskan untuk mengepak barang karena di kampung kan orang nggak gunakan ponsel. Jadi dia nggak tahu bagaimana caranya nanti" jelas Nada.
"Nggak apa-apa. Nanti kita ajari dia. Dia anak yatim?" tanya Sakia lagi.
"Bukan. Dia punya Ibu dan Bapa tapi dia anak pertama dari lima bersaudara. Dialah tulang punggung keluarganya. Kalau kita panggil dia, dia bisa biayain sekolah adiknya" jelas Nada.
"Ya sudah, kamu hubungi keluargamu untuk minta wanita itu ke Makassar. Nanti biayanya Kak Kia yang tanggung" ujar Sakia.
"Kakak..." Nada memeluk Sakia. "Terima kasih" ujarnya dengan netra mata yang berkaca-kaca. Wanita yang dimaksud Nada adalah sahabat Nada dari kecil. Mereka tumbuh bersama dan harus berpisah karena Nada merantau ke Kota demi keluarga.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa, waktu sudah menjelang sore. Sakia dan Nada menutup butik. Sementara di tempat lain, tepatnya di restoran, Alif dan Nurin sedang beristirahat bersama pegawai yang bekerja di pagi hari. Dan yang bekerja di sore hingga malam juga sudah ada.
Fattan baru saja tiba di ruko. Pria itu menapakkan kaki menuju lantai dua ruko. Berhubung pintu tidak tertutup, Fattan langsung masuk. Seulas senyum tersungging manis saat mendapati istrinya tertidur pulas di atas permadani tepatnya di depan televisi. Wanita itu lelah hingga dia tidur sepulang dari butik.
"Kia pasti lelah. Seharian melakukan pengecekan barang dan live di Makassar dagang" gumam Fattan. Fattan tidak mau membangunkan istrinya. Dia masuk ke kamar melepas baju jasnya lalu keluar dari kamar menuju dapur. Membuka tudung saji, tidak ada makanan. Itu tandanya Sakia belum memasak.
"Lebih baik aku memasak sekarang" gumam Fattan. Fattan mengambil celemek lalu memakainnya. Mengeluarkan ikan dan sayur dari kulkas.
Satu jam kemudian, ikan panggang dan sayur bayam bening telah tersaji di atas meja bersama sambal yang tidak terlalu pedas.
"Uwwaaa" Sakia baru saja bangun dari tidurnya. Masih dengan mata tertutup, dia bangun dan duduk.
"Cepat mandi, setelah itu kita makan" titah Fattan menghampiri istrinya.
__ADS_1
Sakia membuka matanya setelah mendengar suara suaminya. "Sejak kapan Kakak pulang?" tanya Sakia dengan mata membulat.
"Sejak tadi. Kakak sudah memasak. Kia tinggal mandi, lalu kita makan. Nggak perlu tunggu malam, Kak Fattan udah lapar" kata Fattan.
Sakia beranjak dari lantai lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Fattan cemberut di sisi tempat tidur. Dia ingin mandi di kamar sebelah tapi dia tidak tahu di mana Sakia menyimpan celana boxer milik Fattan. Fattan memanggil Sakia, tapi wanita itu sibuk dengan pancuran air yang mengguyur tubuhnya.
Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)
"Kakak kenapa?" tanya Sakia melihat wajah suaminya yang cemberut.
"Cari dalaman tapi nggak dapat" balas Fattan dengan bibir manyun.
"Hehehehe" kekeh Sakia melihat ekspresi suaminya. "Ya sudah, sekarang Kakak mandi nanti Kia yang siapkan pakaian ganti" kata Sakia.
Fattan mengukir senyum lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa belas menit kemudian, dia keluar dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Dek, Kak Fattan berotot juga ya" ujar Fattan sambil menatap tubuhnya di cermin.
"Berotot tapi cengeng" ledek Sakia yang dibalas kekehan kecil oleh Fattan.
Setelah mengenakan baju dan celana, Fattan dan Sakia ke meja makan. Mereka akan memulai makan malam di pukul enam sore. Saat sedang makan, terdengar ketukan pintu dari luar.
"Cepat pakai jilbab, nanti Kakak yang bukakan pintu" ujar Fattan. Sakia masuk ke kamar mengambil jilbab sementara Fattan berjalan menuju pintu.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
"Assalamualaikum" Alif mengucap salam. Yang datang adalah Alif, bukan Papa Aziz.
"Waalaikumsalam. Ngapain ke sini" balas Fattan lalu bertanya. Rasa cemburu kembali menghampirinya, saat pria yang sangat mencintai Sakia berdiri di depan pintu.
"Idih! Aku bukan orang lain. Pertanyaan Kakak mengungkapkan, bahwa Kakak adalah pria yang nggak suka keluarganya berkunjung ke rumahnya" sindir Alif lalu masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan masuk.
__ADS_1
"Makanya, jangan bodoh jadi laki-laki. Baru sadar kan. Akhirnya jadi pria yang egois" sindir Alif lagi seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
Fattan tertegun. Dia membenarkan perkataan Alif. Sejak dia menyadari perasaannya pada Sakia, dia tidak berbalas pesan dengan Alif lagi. Beda dengan dulu, Fattan sering menghubungi Alif.