Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 119


__ADS_3

"Ya Allah. Ada apa denganku. Kemarin Nafisa menelepon katanya dia melihatku di kampus dan tadi aku melihat orang duduk di tempat yang Nafisa katakan" batin Amrita.


"Mama, Mama kenapa?" tanya Fadila saat melihat Mamanya melamun dalam mobil. "Apa Mama marah padaku? Maafkan aku. Aku janji, aku nggak akan kayak tadi lagi" sambungnya menunduk.


Amrita berusaha mengukir senyum agar keluarganya tidak cemas. "Mama nggak marah sama kamu. Mama hanya mengantuk saja" balasnya.


"Mama tidur saja. Nanti aku bangunin Mama kalau kita sudah sampai rumah" ucap Fattan yang ikut nimbrung.


"Benar kata anak-anak, kamu tidur saja. Nanti kami bangunin kamu kalau udah sampai" timpal Aziz membenarkan perkataan anaknya.


Amrita tersenyum lebar dan mulai memejamkan matanya bersamaan dengan hilangnya senyum yang terukir di wajahnya. Pikirannya masih tertuju pada kalimat Nafisa yang membuat Amrita bingung juga cemas.


Flashback On


Drt drt drt... ponsel Amrita berdering. Amrita yang sementara di kamar bergegas mengambil ponselnya di ruang keluarga. "Nafisa" gumam Amrita. Lalu menjawab panggilan dari Nafisa.


"Assalamualaikum, Nafisa. Bagaimana?" tanya Amrita


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nafisa dengan cemas.


Amrita mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa Nafisa? Kamu di mana sekarang. Kenapa kamu terdengar gemetar?" tanya Amrita dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Aku di kampus, Amrita. Hanya saja ada yang aneh" balas Nafisa. Netra mata wanita itu mulai berkaca-kaca.


"Aneh kenapa? Coba katakan padaku" tanya Amrita yang mulai penasaran.


"Sebelumnya maafkan aku, Amrita. Tapi aku melihatmu di bawah pohon yang sering kita parkir motor" jelas Nafisa.


Degh!! Amrita tertegun. Entah sanggahan apa lagi yang bisa dia ucap. Mulutnya seakan kaku hingga hanya diam yang bisa dia lakukan.


"Amrita" panggil Nafisa.


"I-iya Nafisa. Terima kasih sudah memberitahuku. Kamu jangan cemas, aku baik-baik saja. Jangan beritahu yang lain. Cukup kita berdua yang tahu" balas Amrita memohon.


"Iya, Amrita. Jaga kesehatanmu ya. Aku nggak mau kamu sakit" balas Nafisa. Nafisa sangat takut saat melihat wanita yang mirip Amrita. Nafisa begitu mempercayai hal-hal misterius yang selalu dia dengar di kampungnya. Itulah kenapa wanita itu gemetar dan takut temannya akan kenapa-napa.


"Insya Allah, Nafisa. Doakan aku ya, semoga aku baik-baik saja" balas Amrita mencoba tersenyum.


Flashback Off

__ADS_1


Kediaman Pak Sofyan


Setibanya di rumah Papa mertuanya, Amrita membuka matanya kemudian membuka pintu mobil untuk kedua anaknya. "Ayo turun Sayang" ajak Amrita.


Fattan dan Fadila pun turun. Lalu menggandeng tangan Mama Amrita. "Papa, ayo kita masuk" ajak Fadila yang sudah tidak sabar bertemu Nenek dan Kakeknya.


Aziz tersenyum menghampiri keluarga kecilnya. Mereka pun melangkah menuju pintu rumah. Berulang kali pria itu menekan bel rumah namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Tak lama, terdengar suara dari dalam rumah. Nyatanya Mbak Ima sedang bersiap-siap hingga telat membuka pintu.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Silahkan masuk keluarga bahagia" ucap Mbak Ima mempersilahkan Aziz dan keluarganya untuk masuk.


Aziz, Amrita dan Fattan masuk ke dalam rumah membiarkan Fadila bersama Mbak Ima. Mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Fattan yang tidak melihat batang hidung Kakek dan Neneknya, anak kecil itu mengedarkan pandangannya kesana-kemari mencari-cari Kakek dan Neneknya.


"Papa, Kakek dan Nenek di mana?" tanya Fattan.


"Papa juga nggak tahu. Mungkin mereka lagi jalan-jalan" balas Aziz yang juga sebenarnya mencari Papa dan Ibunya.


"Mbak Ima, Papa dan Ibu di mana?" tanya Aziz.


Mbak Ima mendudukkan Fadila lalu duduk di samping Fadila. "Ibu dan Bapa sejak siang tadi di dalam kamar terus. Mbak nggak tahu mereka ngapain. Bisa jadi mereka sedang mencetak adik kecil untuk Nak Aziz" balas Mbak Ima bercanda gurau.


"Jangan bicara yang aneh-aneh!" ketus Aziz yang menolak mentah-mentah soal adik baru.


"Fadila... Fattan..." teriak Pa Sofyan yang baru keluar kamar. Berlari menghampiri kedua cucunya.


Aziz menatap Papanya dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Rambut Papa sudah tidak ada jadi aku nggak tahu apa yang Papa dan Ibu lakukan di kamar seharian ini. Tapi berdasarkan pengalamanku, aku dan Amrita sedang olahraga. Apa Papa juga sedang olahraga?" batin Aziz menerka-nerka.


"Wah..!! Ternyata cucu Nenek ada di sini" Tante Eka mempercepat langkahnya menghampiri cucu dan menantunya.


Aziz mulai memperhatikan Ibunya. "Ibu sepertinya terlihat bahagia. Apa jangan-jangan mereka---" batin Aziz. Pria itu tak ingin melanjutkan kalimatnya.


"Aziz kenapa?" tanya Tante Eka menatap aneh putranya.


"Hahahahaha" tawa Amrita pecah. Wanita itu menerka-nerka apa yang dipikirkan suaminya. "Jangan bilang Mas masih memikirkan perkataan Mbak Ima" tudingnya secara terang terangan.


"Memangnya Mbak Ima bilang apa?" tanya Tante Eka mengambil tempat di samping suaminya.


"Aku hanya bergurau dan ternyata Mas Aziz percaya" balas Mbak Ima menimpali.

__ADS_1


Tante Eka dan Pak Sofyan semakin bingung. "Iya apa? Apa yang kalian bahas selama kami di kamar?" tanya Tante Eka penasaran.


"Tadi aku bilang ke Mas Aziz saat Mas Aziz tanya di mana Ibu. Aku bilangnya kalau Ibu dan Bapak lagi buat adik untuk Mas Aziz" jelas Mbak Ima.


"Hahahahahaha" tawa Tante Eka dan Pak Sofyan bersamaan. Kedua pasangan itu merasa diri hingga mereka tertawa. Namun untuk mengandung lagi Tante Eka sudah tidak bisa.


"Ibu tidak perlu menjawabnya. Kalian sudah menikah jadi kalian pasti tahu" jelas Tante Eka. "Dan lagian Ibu nggak bisa mengandung lagi jadi kenapa kamu harus takut punya adik kecil" sambungnya menatap sinis putranya.


--


Pukul 20:11 PM


"Assalamualaikum" ucap Fakri yang baru saja pulang. Entah pria itu dari mana hingga baru pulang.


Fattan dan Fadila yang sementara bermain, kedua anak itu berlari menghampiri Om Fakri yang berjalan ke arah mereka. "Om, bagaimana tadi belajarnya?" tanya Fadila meraih tangan Omnya.


"Alhamdulilah lancar" balas Fakri.


Fakri duduk menyandarkan kepalanya di sofa. Pria itu merasa lega karena tinggal satu tahap lagi dia akan terbebas dari kampus. "Om, kami tidur sama Om ya" pinta Fadila.


"Iya. Oh ya, Kakek sama Nenek di mana? Mama sama Papa kalian di mana?" tanya Fakri yang tidak melihat keluarganya.


"Mereka di kamar" balas Fadila.


"Kami menunggu Om dari tadi. Tapi Om nggak pulang-pulang sih!" ketus Fattan.


"Tadi Om antar Tante kalian pulang di rumahnya jadi On telat pulang ke sini" balas Fakri menjelaskan. Entah kedua anak itu paham apa tidak, yang pasti mereka juga mengangguk seakan paham.


Di dalam kamar milik Aziz, Amrita berbaring berbantalkan paha suaminya. Wanita itu tidur miring melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Sementara Aziz mengelus kepala istrinya.


Ting!! satu notifikasi masuk di ponsel Aziz. Aziz mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang masuk dari Fakri. "Fattan dan Fadila tidur bersamaku"


"Sayang. Fakri baru saja mengirim pesan. Katanya Fadila dan Fattan tidur bersamanya" jelas Aziz.


"Mas, ayo kita tidur dan terus peluk aku hingga subuh" pinta Amrita.


"Apa kamu sakit?" tanya Aziz dengan cemas.


"Nggak kok Mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu memelukku dan mencium ku saat aku bangun. Kita lakukan itu sampai ajal menjemput kita ya, Mas" balas Amrita.

__ADS_1


__ADS_2