
Aziz berjalan menuju tempat sewa kapal. Harga sewa kapal yaitu dua ratus lima puluh ribu rupiah dan hanya bisa memuat lima orang saja. Aziz mulai menghitung jumlah mereka dan pas lima orang. "Cepat naik" titah Aziz pada tiga wanita dan satu pria yang selalu mengekor dibelakangnya.
Amrita tersenyum manis pada suaminya. Kemudian ia naik ke kapal yang disusul oleh Afika, Hanin dan Fakri. Setelah semuanya naik, mereka mulai menjelajahi wisata Ramang-Ramang. Mereka pergi di Sungai Pute yang dihiasi pohon lontar dan pohon nipah. Ditengah pegunungan karst juga ada telaga bidadari dengan lubang besar berisi air tawar
Saat mereka merasa puas menikmati wisata menggunakan Kapal, mereka mulai berjalan kaki menuju hamparan sawah. Amrita mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar yang bagus.
"Om, ayo kita kembali ke mobil. Aku lelah dan lapar" kata Amrita. Keringat mulai bercucuran di wajahnya.
"Iya kak, ayo kita makan. Anak dalam perutku sudah demo sejak tadi" sambung Afika memelas sembari mengelus perutnya yang keroncongan.
"Ayo. Selesai makan kita pulang" kata Aziz.
Amrita dan yang lainnya kembali terlihat lesuh saat Aziz menyebut kata "Pulang". Mereka masih ingin pergi ke hutan batu untuk berfoto-foto. "Om, kok pulang sih" ujar Amrita memelas.
"Ya Allah, aku sudah berniat untuk membahagiakannya dan sekarang aku kembali membuatnya sedih" batin Aziz. Dengan terpaksa Aziz menunda kepulangannya di rumah.
"Ya sudah, kalian berempat bisa pergi jalan-jalan. Nanti aku tunggu kalian di mobil" kata Aziz.
"Yeah...! Akhirnya kita bisa ke hutan batu..." sorak Fakri dan Amrita bersamaaan. Fakri menarik tangan Hanin sedangkan Amrita menarik tangan Afika. Mereka berempat pergi ke hutan batu untuk berfoto.
"Seperti apa sih keindahan hutan batu? Kenapa mereka sampai lupa makan atau memang mereka sudah kenyang makan angin?" gumam Aziz sembari menatap empat orang yang sedari tadi mengekor dan sekarang memilih pergi tanpa mengajaknya.
Aziz memilih untuk berkeliling di sawah. Saat ia sampai di sawah, pandangannya tertuju pada pasangan suami istri yang ia kenal. Berkali kali Aziz mengucek matanya memastikan bahwa apa yang ia lihat tidaklah benar.
"Ya Allah, ternyata itu Ibu dan Papa. Sudah tua tapi kaya anak ABG saja" gumam Aziz saat melihat ibunya sedang melakukan foto praweding bahkan pakaian mereka sudah terganti.
__ADS_1
Aziz mendekat, ia berjalan menghampiri Ibu dan Papanya. "Bu, Pa, kalau sudah punya anak dua tidak perlu sok-sok praweding segala" ujar Aziz.
"Hahahahaha" tawa Tante Eka pecah. "Bilang saja kalau iri..." ledek Tante Eka.
"Terserah Ibu dan Papa saja. Sini kunci mobil, aku lapar mau makan" kata Aziz menatap kesal Ibu dan Papanya.
Saat Azis hendak pergi, tiba-tiba Amrita, Hanin, Fakri dan Afika datang menghampiri Tante Eka dan Pa Sofyan. "Ibu cantik bangat... Papa juga. Ya Allah... gantengnya mertua aku ini" kata Amrita memuji kedua mertuanya.
"Pasangan Eka dan Sofyan akan selalu terdepan" balas Tante Eka yang disusul tawa oleh Pa Sofyan dan Afika.
Berhubung sudah pukul 03:50 P.M maka Pa Sofyan dan keluarganya memilih bersiap siap untuk pulang. Pa Sofyan membukakan pintu mobil untuk istrinya, kemudian Tante Eka pun masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan Dermaga Ramang-Ramang.
"Kami duluan ya. Sampai ketemu di rumah anak Ibu" ujar Tante Eka saat melewati Aziz dan yang lainnya.
"Suka sekali ninggalin anak!" ketus Aziz.
Aziz melihat ke tiga wanita dan satu pria yang harus ia jaga selama mereka diperjalanan.
Aziz memakirkan mobilnya di garasi rumah Papanya. Ia menoleh menatap ketiga adiknya dibelakang yang masih tertidur pulas. "Afika, Hanin, Fakri, bangun dek" kata Aziz.
Afika menggeliat. "Sudah sampai ya kak?" tanya Afika sembari membuka matanya.
"Sudah. Cepat bangun dan bangunkan Hanin dan Fakri" balas Aziz yang dibalas anggukan oleh Afika. Afika membangunkan Hanin dan Fakri. Selang beberapa detik kemudian, Hanin dan Fakri pun bangun lalu masuk ke dalam rumah.
Aziz tidak tega membangunkan Amrita, ia pun menggendong Amrita membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua. Saat hendak merebahkan Amrita di tempat tidur, tiba-tiba Amrita membuka matanya.
"Om, terimakasih" ujar Amrita, ia kembali menutup matanya.
Berhubung Amrita sedang datang bulan maka dia yang memasak untuk makan malam. Karena Tante Eka dan Afika serta Hanin sedang bersiap-siap untuk sholat Magrib. Amrita memasak sayur sop ayam, ikan goreng, sambal goreng dan tahu tempe goreng.
__ADS_1
Seusai sholat, Aziz menghampiri Amrita di dapur. Aziz menelan salivanya saat melihat menu yang tersaji di atas meja. Aziz melirik Amrita yang sedang mencuci piring, ia pun berjalan mengendap endap untuk mencicipi rasa ikan goreng dan sambal.
"Maling ikan...!!" teriak Tante Eka saat melihat Aziz hendak mengambil ikan dipiring.
Amrita meletakan piring yang ia pegang lalu lari ke meja makan. Di meja makan, ia melihat Om Aziz sedang diintrogasi oleh Tante Eka. Amrita menaik turunkan alisnya, ia mendekat menghampiri Ibu mertua dan suaminya.
"Ada apa ini Bu? Jangan bilang kalau Om Aziz yang maling ikannya?" tanya Amrita membulatkan mata tak percaya.
"Astagfirullah astagfirullah astagfirullah... Bu... aku tidak mungkin maling ikan Bu... aku hanya berencana mencicipinya. Itu saja, tidak lebih" jelas Aziz.
"Kalau kamu hanya mau mencicipi lalu kenapa kamu mengendap endap?" tanya Tante Eka menyelidik.
"Hahahahaha. Oww itu ya Bu, aku hanya ingin mengagetkan Amrita saja" balas Aziz tersenyum canggung.
"Amrita di dapur bukan di meja makan" ujar Tante Eka.
Pa Sofyan, Afika, Fakri dan Hanin keluar dari kamar masing-masing saat mendengar keributan di meja makan. "Bu, ada apa ini?" tanya Pa Sofyan mengambil tempat di kursi yang ada di ruang makan.
"Subhanallah, harum sekali sop ayamnya. Aduh... ada ikan kesukaan Papa lagi. Kalau seperti ini Papa akan minta Amrita dan Aziz untuk tinggal bersama kita" gumam Pa Sofyan saat melihat menu yang tersaji.
"Iya Pa. Ibu juga berpikir seperti itu. Bagaimana kalau Amrita dan Aziz tinggal di sini saja" timpal Tante Eka.
Ehem... Aziz berdehem. "Jangan harap aku mau tinggal di sini, aku juga punya rumah sendiri. Aku akan membawa istriku pergi" ujar Aziz dengan bangga.
"Kamu menikah dengan Amrita juga karena bantuan Ibu dan Papa. Jadi laki kok lembek" ujar Tante Eka tak mau kalah.
Yuk mampir di karya lanjutan IYTD kak 😊
__ADS_1