Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 33


__ADS_3

"Kak Kia, aku di lamar pria tua" ungkap Nurin menangis.


"Apa!!" Sakia dan Nada membulatkan mata tak percaya.


"Nurin, siapa?" tanya Nada penasaran dan juga syok.


"Si Jono, pria beristri dua itu" jelas Nurin sesenggukan.


"Si Jono? Astaghfirullah. Dasar pria tua! Sudah punya dua istri tapi masih saja gatal. Apa sih yang dia cari hingga menikah banyak" kata Nada dengan amarah memuncak.


"Kok bisa si Jono sih yang lamar Nurin. Lalu bagaimana dengan Kak Alif" batin Nada.


Pukul sepuluh malam, Nurin tertidur di sofa yang berada di ruang tamu lantai dua. Matanya sembab, bahkan dalam tidur pun, dia masih meneteskan air mata. Nada yang menyaksikan itu merasa iba. Dia tidak menyangka, Nurin akan menikah dengan si Jono. Lalu bagaimana dengan Alif? Apa lamaran pria itu ditolak atau si Jono yang duluan melamar Nurin? Entahlah.


"Kak Kia, Kakak istirahat saja. Biar aku yang temani Nurin tidur di sini" kata Nada. Nada maupun Sakia sudah mencoba menghubungi Ferri, Alif, maupun keluarga Nada namun semua nomor yang mereka hubungi diluar jangkauan.


"Iya, Dek. Tunggu Kakak ambilkan kalian selimut" kata Sakia lalu masuk ke kamar dan kembali membawa dua selimut besar.


"Ini" Sakia menyerahkan selimut pada Nada. Nada pun mengambilnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut sementara Sakia menghampiri Nurin dan menutup tubuh Nurin dengan selimut.


Sakia kembali ke kamar. Melirik jam dinding. Belum sempat dia menghubungi suaminya, ponsel Nokia kecil yang dimaksud Fattan berdering di dalam laci. Sakia membuka laci kecil lalu mengambil ponsel Nokia. "Kak Fattan" gumam Sakia.


"Assalamualaikum, Dek. Ayo tidur" ajak Fattan diseberang telepon.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Iya, Kak" balas Sakia naik di atas tempat tidur. Mengambil guling, memeluknya erat dan tak lupa menarik bed cover menutupi sebagian tubuhnya. Ponsel dia letakan di sampingnya.


"Selamat tidur istriku. Semoga mimpi indah. Ummuaah" ujar Fattan memberi ciuman lewat udara.


"Selamat tidur, Kak" balas Sakia tersenyum.


Sakia dan Fattan mulai menutup mata. Keduanya membiarkan ponsel mereka tanpa memutuskan panggilan. Mereka beda kota, tapi tidur seperti sedang bersampingan.


Pukul 04:31 AM, Sakia mengerjab saat mendengar suara suaminya. Dan ternyata panggilan telepon belum terputus. "Iya, Kak" sahut Sakia dengan serak.


"Bangun, Dek. Nggak lama lagi subuh di situ. Kakak matiin teleponnya ya. Di sini baru jam 03:31 AM, Kakak mau lanjut tidur dulu. Kia hati-hati di situ ya" kata Fattan dengan mata tertutup. Pria itu kaget bangun saat mendengar alarm dari ponsel Dokter Ferdi, alarm yang sengaja Fattan atur agar dia bisa membangunkan istrinya shalat subuh.


"Iya" balas Sakia seraya menggeser selimut lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur. Seulas senyum tersungging manis saat menyadari panggilan telepon tersambung dari jam sepuluh malam hingga jam 04:33 AM.


......🍁🍁......


"Kak, andai lalu aku menerima Kak Alif. Maka aku nggak akan menjadi calon istri si Jono. Sekarang Kak Alif nggak bisa dihubungi. Aku pun nggak tahu di mana Kak Alif berada" ungkap Nurin dengan pelan.


Sakia menatap Nada. Memberi kode pada Nada untuk menjelaskan semuanya. Nada pun mengangguk pelan. "Ehem" Nada berdehem.


"Nurin, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku dan Kak Kia mau jujur sama kamu. Sebenarnya kami itu mau ngasih kejutan ke kamu, karena kami tahu dan sangat yakin, kalau kamu mencintai Kak Alif. Hanya saja kamu masih ragu dengan perasaan dan ucapan Kak Alif, hingga kamu tidak memberinya lampu hijau" jelas Nada.


"Jujur saja, untuk membuktikan keseriusan dan cintanya padamu, Kak Alif datang ke kampung kita untuk melamar mu pada orang tua dan keluargamu. Dan aku maupun Kak Kia nggak nyangka akan seperti ini. Mungkin, saat Kak Alif dan Ayahku ke rumah mu, si Jono sudah lebih dulu melamar mu" sambung Nada menjelaskan.

__ADS_1


"Iya, Dek. Maafin Kak kami ya. Kalau memang kamu mencintai Alif, kamu ikut Nurin kembali ke kampung. Mumpung Alif masih di kampung mu. Bujuk Ayah Ibumu, kan Ayahmu belum memberi jawaban pada si Jono itu" sambung Sakia.


Nurin menangis. "Kenapa kalian nggak bilang. Nada, ayo kita pulang. Mumpung Kak Alif masih di sana. Aku mau bicara sama Ayahku. Aku mau nikah sama Kak Alif, buka sama si Jono" ujar Nurin sesenggukan.


"Nanti subuh kita kita berangkat biar langsung ke kampung. Ayo sarapan. Setelah itu kamu temani Kak Kia ke butik biar aku yang ke restoran. Nanti biar aku pesan tiket di Traveloka" kata Nada.


Nurin mengangguk seraya menyeka air matanya. "Aku harus pulang. Aku nggak mau jadi istri ketiga si Jono" batin Nurin.


...--...


Setelah sarapan, Nada ke restoran sedangkan Nurin dan Sakia ke butik. Dan kini, Sakia dan Nurin sudah berada di butik. Baik Sakia maupun Nurin nampak tak bersemangat. Sakia merindukan suaminya sementara Nurin memikirkan cara untuk menghadapi Ayahnya.


Drrtt... drrttt...


Ponsel Sakia berdering. Tertera nama kontak "suamiku" di layar ponsel. Sakia melirik Nurin yang sedang memeriksa stok gamis yang belum terjual.


"Dek, Kakak jawab panggilan dulu ya. Kamu tinggalkan dulu pekerjaan itu. Sekarang kamu berbaring di lantai dua. Nanti biar Kakak yang cek setelah menerima panggilan" kata Sakia yang dibalas anggukan oleh Nurin.


Nurin naik ke lantai dua butik sementara Sakia menjawab panggilan telepon dari suaminya. "Assalamualaikum, Kak" sapa Sakia.


"Waalaikumsalam, Dek. Kakak nelepon hanya mau ingatkan, kalau kerja jangan paksa tenaga. Istirahat sebelum merasa penat. Kakak nggak mau Kia kenapa-napa. Apalagi Kakak nggak ada di situ. Ingat pesan Kakak, JANGAN SAMPAI LELAH" jelas Fattan menekan tiga kata terakhirnya.


"Iya, Kak. Kapan Kakak pulang?" tanya Sakia. Entah ia sadar dengan pertanyaannya atau efek rindu.

__ADS_1


"Hehehehe" kekeh Fattan. "Baru juga kemarin Kakak pergi" jawab Fattan.


"Aduh!! Kenapa aku bertanya seperti itu" batin Sakia meruntuki kebodohannya.


__ADS_2