Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 20


__ADS_3

Perumahan Citraland nomor 20


Masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan. Mama Mahdania resign dari pekerjaannya untuk menjaga Sabila. Depresi berat yang dialami Sabila sangat mencemaskan terlebih lagi hampir seminggu Sabila mengonsumsi obat terlarang.


"Fattan, maafkan Papa dan Mama yang telah menghardik mu. Kami termakan emosi hingga nggak berpikir jernih" kata Papa Aher.


"Papa juga mau minta maaf karena nggak percaya padamu dan meninjumu" kata Papa Aziz.


"Fattan nggak marah kok" kata Fattan.


"Ma, Pa, kalau bisa Mama dan Papa simpan semua foto yang ada Kia. Kan Mama dan Papa tahu sendiri, Kak Sabila nggak ingin Kia jadi adiknya" ujar Sakia.


"Nggak boleh" sanggah Papa Aher.


"Kia nggak punya foto di rumah ini juga nggak masalah. Toh Kia anak Mama dan Papa. Kia hanya nggak mau Kak Sabila semakin depresi kalau lihat Foto Kia di rumah ini" jelas Sakia.


"Benar yang dikatakan Sakia. Simpan saja di gudang. Itu juga demi kebaikan Sabila. Kasihan dia, siapa lagi yang akan mengerti dirinya kalau bukan keluarganya sendiri" timpal Papa Aziz.


"Ya sudah. Nanti aku simpan semua foto yang ada Sakia" kata Papa Aher.


Setelah berbincang-bincang, Papa Aziz pamit pulang ke rumahnya. Begitu juga Fattan dan Sakia. Kedua pasangan itu juga pamit pulang. Di rumah, tinggalah Papa Aher dan Mama Mahdania.


"By, ini semua bukan kesalahan Sabila, tapi kita. Kita yang kurang memperhatikan keinginan Sabila. Sejak Sakia masih dalam kandungan, Sabila sudah menjauh dariku. Mungkin karena dia nggak ingin punya adik. Saat Sakia lahir pun, Sabila nggak mau lihat dan bermain dengan adiknya. Harusnya kita sudah paham tapi kita mengabaikan itu" ungkap Mahdania dengan bulir bening yang terus membanjiri pipinya.


"Iya, Da. Benar katamu. Ini bukan salah Sabila juga bukan salah Sakia, kitalah yang salah. Harusnya kita paham dan memisahkan mereka. Tapi kita justru membiarkan mereka bersama" kata Aher membenarkan.


"By, di ponsel Sabila ada riwayat pesan masuk. Yang katanya jaga anak mereka baik-baik. Apa itu tandanya Sabila nggak memberitahu Ayah dari anaknya tentang keguguran itu?" ujar Mama Mahdania.


"Bisa jadi. Efek samping obat yang dikonsumsi Sabila membuatnya berkhayal hingga dia selalu menganggap bahwa dirinya masih hamil" jelas Papa Aher.


"Habislah sudah masa depan anak kita, By" tangis Mahdania semakin pecah. Wanita paruh baya itu berhambur memeluk suaminya.

__ADS_1


Dibalik pintu kamar, Sabila mendengar pembicaraan Mama dan Papanya mengenai kegugurannya. Refleks wanita itu menangis meraung-raung di balik pintu. Bila benar dia keguguran maka tamatlah sudah riwayatnya. Pria yang menghamilinya tidak akan kembali lagi. Lalu bagaimana dengan masa depannya?


🍁🍁


Kebohongan Sabila dan masalah kejiwaannya sudah terbongkar. Saatnya kita kembali ke urusan Fattan dalam mengejar cinta istrinya 🤣


🍁🍁


Dalam perjalan ke butik, Fattan melirik istrinya yang senyam-senyum. Wanita itu nampak bahagia. "Dek, senyam-senyum kenapa sih? Bahagia kok nggak ajak ajak" tegur Fattan.


Sakia terkekeh. "Apa harus mengajak Kak Fattan. Jadi cowok kok kepo bangat" ledek Sakia.


"Dek, jangan pasang ekspresi datar lagi ya. Senyum seperti itu bagus. Kakak takut kalau lihat Kia muka masam. Mau tegur pun Kakak nggak berani" kata Fattan tersenyum.


"Makanya, jadi laki jangan suka cemburuan. Dikit-dikit sensi. Seperti wanita haid saja" sindir Sakia.


"Hidup kok suka sekali menyindir orang!" ketus Fattan cemberut.


"Hahahahaha" tawa Sakia pecah. "Kakak, kapan Kakak libur?" tanya Sakia serius.


"Aku mau ajak Kakak berlibur di Malino bersama Nurin, Nada dan Alif serta pegawai restoran" jawab Sakia.


Butik Sakia Fashion


Fattan memarkirkan mobilnya di depan butik. Hari ini hari libur tapi Sakia sengaja membuka butik karena wanita itu ingin packing barang yang mau dikirim ke alamat costumer. Banyak orderan masuk, mau tidak mau dia harus packing barang karena costumer terus menanyakan resi. Boleh dikata mereka baru mengirim bukti transfer.


"Kakak istirahat di sofa saja. Nanti Kia bangunin kalau sudah selesai. Atau Kakak bisa langsung istirahat di ruko" kata Sakia sambil meletakkan tas selempang kecilnya di atas meja.


"Kak Fattan bantu Kia saja. Biar cepat selesai" kata Fattan.


Fattan mulai membantu istrinya packing barang. Melihat banyaknya orderan, Fattan merasa takjub dengan bisnis istrinya dan ketiga rekannya yang lain. "Dek, orderan sebanyak ini sekali gajian kalian dapat berapa perorang?" tanya Fattan.

__ADS_1


"Kia lupa. Yang pasti, setiap bulan itu kami bisa dapat seratus juta. Dari seratus juta itu kami buka untuk modal lalu keuntungannya kami bagi. Setelah dibagi, masing-masing dari kami membuka lagi sebagian dari gaji kami untuk uang kas Komunitas sedekah" jelas Sakia.


"Subhanallah. Berarti gaji Kia lebih besar daripada gaji Kak Fattan" ujar Fattan.


"Hehehehe" kekeh Sakia. "Gaji kita berbeda dan ilmu pengetahuan kita juga berbeda. Kakak punya ilmu yang bisa kakak gunakan untuk menolong orang lain, tapi Kia, Kia hanya bisa menghitung" jelasnya.


"Kia jauh lebih menolong orang lain. Buktinya, sebagian uang yang Kia hasilkan, Kia sedekahkan pada orang lain. Bahkan Kia, Nurin, Nada dan Alif memperkerjakan orang lain. Bukankah kalian orang-orang hebat" puji Fattan.


"Menurut Kakak, Kia sudah menjadi orang sukses. Karena orang sukses itu adalah orang-orang yang memperkerjakan orang lain. Itu arti sukses menurut Kakak" jelas Fattan sambil menulis alamat penerima.


Dua jam telah berlalu, Fattan dan Sakia telah selesai mengepak barang. Fattan meregangkan otot-ototnya. Begitu juga dengan Sakia. Karena merasa lelah, keduanya merebahkan tubuh mereka di atas tumpukan barang yang sudah di packing.


...🍁🍁...


Ruko


"Kenapa aku di kamar? Bukankah tadi aku di butik" gumam Sakia. Wanita itu melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 14:11PM.


"Ya Allah... aku belum shalat" gumam Sakia. Lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mengambil wudhu, dia keluar mencari mukenanya.


"Dek, cari apa?" tanya Fattan berdiri di depan pintu sambil memegang segelas air es yang dicampur nutri sari.


"Cari mukena, ini sudah jam dua dan Kia belum shalat dzuhur" jelas Sakia sambil membuka lemari pakaiannya.


"Bukannya Kia haid? Kenapa mau shalat" kata Fattan mengingatkan.


Sakia memukul jidatnya dengan pelan. "Astaghfirullah. Kenapa aku bisa lupa. Apa aku kelainan? gumamnya pelan.


"Ayo kita ke sofa. Kakak lagi buat pisang keju dan es nutri sari" ajak Sakia.


Sakia tersenyum. "Tumben memasak. Biasanya hanya tahu ada" sindirnya berlalu melewati suaminya.

__ADS_1


"Tuh kan, mulai menyindir lagi" ketus Fattan.


"Hahahahaha" kekeh Sakia lalu mencubit pipi suaminya. "Gemes deh" ujarnya tersenyum


__ADS_2