
Pukul 04:15 subuh, Aziz dan Amrita menggeliat saat mendengar suara sikembar. Amrita dan Aziz beranjak dari ranjang, berjalan ke luar menatap ke lantai satu. Dilantai satu, keluarga Pa Sam dan Pa Adis sedang duduk melingkar untuk mengaji bersama sembari menunggu waktu subuh.
"Pa, nanti kita sholat berjamaah ya" ujar Aziz.
"Iya, Mas" balas Pa Adis.
Aziz mengajak Amrita untuk mandi, setelah selesai mandi dan bersiap-siap, keduanya turun lalu bergabung dengan keluarga Pa Sam dan keluarga Pa Adis. Amrita merasa terharu saat mendengar Putri Akila dan sikembar mengaji.
Pukul 05:00, mereka memulai sholat subuh berjamaah. Aziz sebagai imam dalam sholat subuh itu. Lantunan ayat suci dan kata "Aamiin" begitu merdu terdengar di dalam perumahan. Selesai salam, mereka pun zikir bersama lalu berdoa. Dalam doa, Pa Adis dan Pa Sam memohon kepada Allah agar Aziz dan Amrita diberi keturunan. Begitu pun dalam doa Miranti dan Lisa, mereka juga mendoakan hal yang sama.
--
"Tante, semangat belajarnya" kata Akila saat melihat Amrita hendak menyalakan mesin motornya.
"Iya, sayang. Tunggu Tante pulang ya" balas Amrita.
Akila mencium tangan Amrita, begitupun dengan sikembar Zain dan Zian. Amrita melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan perumahan menuju jalan raya. Saat Amrita sudah jauh, Akila dan sikembar masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Aziz sedang menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapih.
"Wah... Om Dokter..." sorak Akila.
"Darimana kamu tahu kalau Om adalah Dokter?" tanya Aziz tersenyum menghampiri sikembar dan Akila.
"Baju yang Om pakai, itu baju Dokter kan. Aku sering melihatnya di televisi" balas Akila girang
"Anak pintar. Oh ya, Om Dokter pergi kerja dulu ya. Kalian hati-hati di rumah" kata Aziz lalu mencium Akila dan sikembar.
Aziz berjalan ke luar, dibelakangnya, ada Akila dan sikembar yang kembali mengekor. Aziz tersenyum melihat ketiganya. "Sekarang kalian masuk. Pulang kerja nanti, Om akan belikan kalian pisang ijo" ujar Aziz.
"Yeah..." sorak Akila dan sikembar. "Baik Om, hati-hati ya, Om" balas ketiganya bersamaan. Aziz masuk ke dalam mobil, sedangkan Akila dan sikembar masuk ke dalam rumah.
RS Awal Bros
Dengan gagah, Aziz ke luar dari mobil, berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Seperti biasa, Pa Berti akan selalu menyapa Aziz.
__ADS_1
"Assalamualaikum Dok, Alhamdulilah, saya senang lihat Dokter bahagia"
"Waalaikumsalam. Alhamdulilah Pa, kebahagiaan hari ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya"
"Alhamdulilah, selamat bertugas Dok"
"Baik"
Aziz melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Di depan pintu, terlihat seorang dokter muda sedang menunggu Aziz. Aziz tersenyum saat melihat dokter muda itu. Yang tak lain adalah Safira, wanita yang sejak dulu sudah tergila gila pada Aziz.
"Assalamualaikum, Dok"
"Waalaikumsalam Safira, apa kamu kerja di sini?"
"Alhamdulilah, aku diterima kerja di sini"
"Alhamdulilah. Safira, maafkan aku, aku tidak bisa mengajakmu untuk berbincang bincang di dalam karena aku harus ke ruangan pasien"
"Tidak apa-apa Dok, aku kembali ke ruanganku dulu"
Aziz mencoba menjauh dari Safira, sekalipun posisi mereka di rumah sakit tapi Aziz tidak mau berduaan dengan wanita lain di ruangannya. Terlebih lagi wanita itu memiliki perasaan dengannya. Mendengar kabar Anaya akan menikah, Aziz merasa bahagia. Namun, saat melihat Safira, Aziz kembali cemas. Ia tahu bagaimana sikap Safira, wanita yang pernah melabrak Anaya hanya karena Anaya menerima cinta Aziz.
"Lebih baik aku mengecek kondisi pasienku" gumam Aziz. Aziz masuk ke dalam ruangannya lalu mengambil stetoskop. Ia ke luar menuju ruang kelas 1. Aziz tersenyum saat melihat pasiennya tersenyum bahagia. Bukankah kesembuhan pasien adalah harapan semua dokter.
"Apa masih terasa sakit, Pa?" tanya Aziz dengan ramah.
"Tidak Dok, saya merasa lebih baik daripada kemarin. Dok, tolong izinkan saya pulang, saya bosan di rumah sakit" balas pasien yang bernama Pa Safuddin.
"Jika Bapa merasa lebih baik dari sebelumnya maka kami akan mengizinkan Bapa untuk pulang. Nanti saya akan tuliskan resep, saya harap Bapa rutin meminum obatnya saat di rumah nanti" jelas Aziz.
---
Laboratorium Fakultas Farmasi
__ADS_1
Amrita dan teman-temannya sedang membersihkan alat yang mereka gunakan saat praktikum. Setelah selesai, mereka mengeringkan alat menggunakan tisu lalu meletakannya di tempat alat-alat laboratorium.
"Alhamdulilah, praktikum hari ini berjalan lancar. Laporan dikumpul dua hari setelah praktikum. Ingat, laporannya diketik menggunakan mesin ketik. Tidak ada yang namanya print out. Untuk kelompok satu, asisten kalian adalah Kak Ardi, kelompok dua Kak Mita, dan kelompok tiga Kak Wawan" jelas Kak Afifa, Asisten Dosen.
"Iye Kak" balas semua mahasiswa bersamaan.
"Mari kita akhiri pratikum ini dengan membaca doa. Ade, maju ke depan untuk membaca doa sesudah belajar" kata Kak Afifa. Ade pun maju kedepan lalu membaca doa sesudah belajar.
Seusai membaca doa dan salam, Amrita dan teman-temannya ke luar dari laboratorium. Amrita mencari teman kelompoknya, meminta mereka untuk berkumpul, ada sesuatu yang mau dia tanyakan. Jumlah mahasiswa dalam satu kelompok ada sepuluh orang, salah satunya adalah Fakri, Hanin dan Ade.
"Maaf, aku mengumpulkan kalian. Ada yang mau aku tanyakan pada kalian semua. Dimana kita akan berkumpul untuk mengerjakan laporan?" tanya Amrita.
"Di rumahku saja, mumpung ibu dan ayahku sedang ke luar negri" ujar Ade.
"Sepakat. Nanti malam kita cari apa-apa saja yang harus diisi dalam laporan. Besok, pulang dari kampus kita semua ke rumah Ade" ujar Hanin yang dibalas anggukan oleh anggota kelompok yang lain.
Amrita, Hanin, Fakri dan Ade, mereka berempat turun ke lantai satu menuju tempat parkir motor. Sesampainya di parkiran, mereka berempat duduk di atas motor masing-masing.
"Fakri, temani aku pergi beli mesin ketik ya" pintah Ade.
"Ngak perlu minta ditemani, toh kami bertiga juga belum punya mesin ketik" balas Fakri tersenyum.
"Kenapa tidak bilang dari tadi!!" ketus Ade.
"Jangan berkelahi. Sekarang buka baju Lab kalian, dan mari kita sama-sama ke toko yang menjual mesin ketik. Aku pikir, kita hidup di zaman moderen, lalu kenapa kita harus mengoleksi benda zaman kuno" ujar Amrita. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran para seniornya.
"Benar sekali. Sekarang zaman moderen, tapi kita seperti hidup di zaman kuno" sambung Hanin.
"Kita jalanin saja. Lagian, tidak semua mata pelajaran yang ada praktikumnya, menggunakan mesin ketik" ujar Fakri.
"Memang tidak menggunakan mesin ketik, tapi tulis tangan. Itu sama saja, sama-sama membuat kita menghabiskan waktu untuk menulis" balas Ade.
Saat Fakri, Hanin dan Ade sedang berbincang bincang, Amrita mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Aziz.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas. Aku mau minta izin untuk mengambil uang di ATM. Aku mau beli mesin ketik untuk membuat laporan"
Beberapa detik kemudian, Aziz membalas pesan dari Amrita. "Ambil saja. Uangku adalah uangmu, jadi kamu bebas mengambil berapapun yang kamu mau"