
Satu minggu kemudian
Clabers Cafe
Di sinilah Aziz dan keluarganya berada. Mereka berada dilantai dua untuk melakukan foto studio sebelum Amrita dan Fakri wisuda. Aziz dan keluarga kecilnya mengenakan baju warna Navi. Sementara Tante Eka dan keluarganya mengenakan baju warna Silver. Hanin ikut mengenakan baju warna Silver.
"Sayang, kamu cantik sekali" puji Aziz.
"Ehem!" Tante Eka berdehem. "Ada yang semakin jatuh cinta nih!" ledeknya mengukir senyum.
Aziz hanya bisa terkekeh mendengar ledekan Ibunya. Berhubung waktu sudah hampir masuk waktu dzuhur, mereka pun memulai pemotretan keluarga. Foto pertama yaitu foto keluarga besar. Gabungan keluarga Tante Eka dan keluarga kecil Aziz.
"Sekarang kami dulu" kata Aziz. Lalu mengambil tempat di sofa yang sudah disediakan. "Fadila, Fattan, ayo sini" panggil Aziz.
Amrita duduk di samping Fattan, sementara Fadila duduk di samping Aziz. Setelah foto duduk, mereka berdiri dan bertukar posisi. Usai keluarga kecil Aziz. Tante Eka memulai pemotretan dengan keluarganya yang terdiri dari Pak Sofyan, Mbak Ima dan Fakri. Sementara Hanin dia hanya ada dalam foto keluarga besar dan dia hanya foto berdua bersama Fakri. Takutnya nggak jodoh nanti fotonya sayang kalau dibuang. Disimpan pun akan menyakiti hati istri Fakri jika Fakri berjodoh dengan orang lain.
Setelah foto studio, Aziz dan keluarga kecilnya kembali ke perumahan. Sedangkan Tante Eka, Pak Sofyan dan Mbak Ima kembali ke rumah mereka yang berada di Daya. Sementara Fakri mengantar Hanin ke rumahnya. Hanin hanya tinggal berdua bersama pengasuhnya karena orang tuanya berada di Luar Negri.
...ΩΩΩ...
Rumah nomor A20
Pukul 16:02 PM
Aher dan Mahdania kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan orang tua Aher dan juga Mahdania. Mereka ingin melihat baby girl yang mulai bisa melihat. Kedatangan orang tua keduanya membuat Aher maupun Mahdania bahagia.
"Papa, kalau bisa kalian nggak usah kerja lagi. Lagian anak kalian hanya satu. Dan sudah menikah. Siapa lagi yang mau Papa biayai" ungkap Aher pada kedua pria paruh baya yang tak lain ada Pak Zainai dan Pak Hamdi.
"Memang anak Papa hanya satu. Tapi anak angkat Papa banyak. Kasihan kalau Papa biarkan mereka kelaparan" balas Pak Hamdi. Pak Hamdi belum lama membangun satu panti asuhan dimana ada dua puluh satu anak yang harus dia beri makan.
"Iya, Nak. Daripada uang kita nggak digunakan. Mending kita gunakan untuk keperluan anak yatim. Apalagi Mama sama Papa udah tua. Membahagiakan mereka juga bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti. Lagian Mama sama Papa nggak mampu pertanggung jawabkan uang itu di akhirat kelak" timpal Tante Lista, orang tua Mahdania.
__ADS_1
Aher dan Mahdania mengangguk paham. "Ya sudah. Tapi Mama sama Papa juga harus jaga kesehatan. Sering-sering ke sini. Kami juga butuh kasih sayang kalian bukan hanya mereka" kata Mahdania cemberut. Mama sama Papanya jarang ke rumahnya.
"Iya, Sayang" balas Tante Lista.
"Kalau alasan kalian apa?" tanya Aher pada Mama dan Papa kandungnya.
"Kamu tahu sendiri Papa orangnya nggak suka berleha-leha. Kalian sih, jangan hanya cetak satu anak. Usahakan nambah lagi. Biar Papa dan Mama punya teman di rumah. Papa malas kalau hanya lihat Bu Hesti" jelas Pak Zainal cemberut. Pria paruh baya itu ingin merawat baby girl tapi Aher tidak mau anaknya di bawah pergi.
"Tenang saja Papa. Aku akan mencetak dua belas anak dan tinggal sebelas anak lagi" jelas Aher bercanda gurau.
"Hahahahaha" tawa Tante Lista dan Tante Amma. Begitu juga Pak Zainal dan Pak Hamdi. Sementara Mahdania memoncongkan mulutnya ke depan.
"Aku baru melahirkan satu anak saja dia sudah pingsan apalagi aku melahirkan sebelas anak. Yang ada dia koma setahun" gumam Fadila hampir tak terdengar namun masih bisa di dengar oleh Aher.
"Ya Allah, Da. Hari itu aku pingsan karena nggak sanggup lihat kamu mengejan. Aku merasa bersalah telah membuatmu kesal selama masa kehamilan. Tapi nanti, saat kamu hamil anak kita yang ke dua, aku akan membawamu ke manapun kamu mau pergi" jelas Aher.
--
Berhubung Fadila dan Fattan sudah bisa naik tangga. Maka Aziz dan Amrita kembali tidur di kamar yang ada di lantai dua. Kamar yang mereka tempati sebelum Fattan dan Fadila lahir.
"Sayang, bawa dan anak-anak ke kamar. Biar aku yang rapikan sofanya. Mulai sekarang tempat nongkrong kita di lantai dua" jelas Aziz seraya mengatur sofa yang ada di lantai dua.
"Fattan, Fadila, ayo masuk kamar. Mulai sekarang kalian akan tidur di kamar baru" ajak Amrita menjelaskan. Lalu berjalan menuju kamar baru anaknya.
"Apa kamarnya lebih bagus daripada kamar di bawah, Ma?" tanya Fadila menggenggam tangan Mamanya.
"Lebih bagus kamar yang baru. Bahkan kamar yang baru lebih besar" balas Amrita menjelaskan lalu membuka pintu kamar.
"Bagus sekali Mama" ucap Fadila dan Fattan bersamaan. Keduanya berlari masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan tidur yang luas dan besar.
__ADS_1
"Apa kalian suka?" tanya Amrita.
"Suka Ma" balas Fattan dan Fadila tersenyum renyah
"Kakak mau tidur di sebelah mana?" tanya Fadila.
"Yang kiri" balas Fattan lalu naik di atas tempat tidurnya. "Akhirnya aku bisa tidur di tempat tidur yang luas" gumamnya.
Di luar, Aziz sedang mengatur sofa. Sofa yang nanti ya juga akan dijadikan tempat tidur bila mereka malas masuk ke dalam kamar atau bilang mereka ingin tidur dengan suasana yang berbeda.
"Sepertinya ini sudah bagus" gumam Aziz berdiri menatap hasil kerjanya.
Setelah merapikan sofa, Aziz turun ke lantai satu mengambil cemilan yang mereka beli. Cemilan yang nantinya akan menemani malam mereka berempat. Setelah mengambil cemilan, Aziz kembali ke lantai dua dan duduk di sofa.
"Semoga Allah memberikan kami kepercayaan lagi. Aku ingin dua anak lagi" gumam Aziz menyandarkan kepala di sofa.
Pukul 17:05 PM
Tawa Fattan dan Fadila terdengar menggelegar di lantai dua. Kedua anak itu sedang mengganggu Papa Aziz yang sibuk membaca buku. Aziz hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya. Bagaimana tidak, Fadila menarik tangan Papanya sementara Fattan mengacak-acak rambut Papanya. Keduanya ingin Papa Aziz ikut bermain tapi Aziz mengabaikan keduanya.
"Papa, satu seminggu belakangan ini Papa selalu membaca buku. Apa banyak pasien yang mau dibacakan dongeng?" tanya Fadila. Berbagai cara telah dilakukan agar Papa Aziz ikut bermain bersama mereka. Nyatanya Papa Aziz terlalu serius dengan buku kedokteran yang dianggap buku dongeng oleh anaknya.
Aziz menatap Fadila lalu menatap Fattan yang memoncongkan mulutnya ke depan. "Papa nggak baca buku dongen tapi lagi belajar" balas Aziz menjelaskan.
"Sekarang ayo kita ke kamar, bantu Mama merapikan pakaian kalian" ajak Aziz.
Aziz dan kedua anaknya menemui Amrita di kamar. Dilihatnya Amrita tertidur pulas bukan merapikan pakaian.
"Papa, kenapa Mama tersenyum?" tanya Fadila dengan bingung.
__ADS_1
"Papa juga nggak tahu" balas Aziz yang juga bingung.