
Happy Reading❤
----------------------
"Dasar gadis nakal tidak tahu malu! Aku pastikan tubuh mungilmu itu akan aku pilah-pilah. Kamu terlalu nakal Amrita! Entah apa yang membuatmu menjadi manusia yang nakal seperti itu!!"
Aziz menggeram dengan kuat, wajahnya memerah menahan emosi yang memuncak. Ia melajukan mobilnya menuju rumah. Tak membutuhkan waktu lama, Aziz sampai di rumah ibunya. Ia turun dari mobil berlari masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar Aziz terus menggerutu. Bayangan Amrita yang terus mengejeknya selalu terngiang ngiang diingatannya.
"Akh!! Kenapa juga aku menciumnya malam itu dan ibu, kenapa ibu membuat jebakan yang membuatku harus menjadi pria sejati" umpat Aziz.
Tante Eka masuk ke dalam kamar putranya, senyum terukir diwajahnya saat melihat baju putranya dipenuhi dengan muntahan.
"Itu pasti ulah Amrita. Hahahahaha, rasain kamu anak nakal. Ibu suka kamu menikah dengan gadis nakal agar kamu tahu bagaimana rasanya dibuat kesal" batin Tante Eka.
"Sayang, baju kamu kenapa?" tanya Tante Eka sembari menghampiri Aziz yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau mandi! Calon menantu kesayang ibu sangat nakal bahkan lebih nakal dari sikapku yang dulu" ketus Aziz sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Tante Eka terkekeh. "Bagus Amrita. Terus buat Aziz marah. Hahahahaha" batin Tante Eka. Tante Eka memilih ke luar dari kamar putranya. Senyum terus terukir saat apa yang ia inginkan selama ini telah ia temukan. Rasanya Allah mulai berpihak padanya.
Waktu menunjukan pukul 16:00 P.M, Amrita sedang duduk di depan pintu kamarnya. Dirinya dilema antara bekerja dan tidak.
"Om Aziz melarangku bekerja tapi bagaimana dengan kebutuhanku sehari-hari. Apa aku bekerja secara diam-diam saja" gumam Amrita. Memejamkan matanya sembari membenturkan kepalanya dipintu kamar.
"Amrita, kamu kenapa? Apa ada masalah, cerita sama kakak" kata Kak Yuli yang baru saja pulang dari kampus.
Amrita mendongak menatap kak Yuli. Mengerucutkan bibir adalah kebiasaan Amrita saat ia ingin bermanja pada anak-anak Kos. "Aku ingin bermanja" kata Amrita menunduk.
"Ayo ikut kakak di kamar" ujar Kak Yuli sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya. Amrita mengikuti Kak Yuli lalu masuk ke dalam kamar. Selang beberapa detik, Kak Stela dan Kak Arini juga masuk ke dalam kamar kak Yuli.
"Cerita pada kami, kamu kenapa?" tanya kak Yuli yang dijawab anggukan oleh Kak Stela dan Kak Arini.
"Jangan kaget ya kak. Kakak harus janji untuk tidak marah" ujar Amrita menatap kak Yuli lalu menatap yang lainnya.
__ADS_1
"Sebenarnya.. sebenaranya..." Amrita tak berani berkata jujur. Ia menarik napasnya pelan-pelan lalu menghembuskannya perlahan.
"Sebenarnya.. sebenarnya.."
"Iya, sebenarnya kenapa dan ada apa Amrita!!" teriak Kak Yuli dengan kesal. Bukan hanya Kak yuli yang kesal, Stela dan Arini pun kesal.
"Dua hari lagi aku akan menikah dengan Om Om" ujar Amrita menunduk.
"Apa!!!" Kak Yuli, Kak Stela dan Kak Arini membulatkan mata tak percaya.
"Hahahahaha. Kamu pasti bercanda kan" ujar Kak Arini. Mereka tidak percaya Amrita akan menikah. Setahu mereka, Amrita tidak pernah berpacaran apalagi sampai menikah dengan Om Om.
"Mana ada adik imutku ini mau menikah dengan Om Om" timpal Kak Stela dengan senyum.
"Tunggu" ujar Kak Yuli membuat Stela dan Arini menautkan kedua alis mereka.
"Amrita, apa Om yang kamu maksud itu adalah Dokter yang mencarimu siang tadi?" tanya Kak Yuli.
"Hiks hiks hiks. Iya kakak, Om itu mengambil benda berhargaku. Hiks hiks hiks" balas Amrita sesegukan.
"Berani sekali pria bejat itu merusak masa depan adikku!" pekik Kak Stela. Ia memukul dinding kamar yang kebetulan dinding kamar terbuat dari Teakblock.
"Bawa kakak di rumahnya, kakak ingin menendang kehidupannya. Berani sekali dia mengotori adik kesayanganku!" timpal Kak Arini.
"Aku pasrah kak, aku tidak bisa pergi lagi. Mana ada pria yang mau denganku. Hiks hiks hiks" Amrita semakin terisak.
Tanpa Amrita sadari, Kak Stela memotret Amrita lalu mempostingnya diakun miliknya. Kak Stela mempoting foto Amrita dengan caption "Karena pria bejat, adik kesayangan kami harus menikah dengan Om Om. Sabar adikku, mungkin Allah punya rencana lain. Semoga Om bejat itu mendapatkan karma yang setimpal"
Selang beberapa detik, notifikasi mulai masuk. Banyak komentar yang turut memprihatin kejadian yang menimpah Amrita. Namun ada salah satu akun yang berkomentar beda dengan yang lain. Nama akun itu @Azizsenova.
Dalam komentar akun @Azizsenova ia menuliskan. "Katakan pada Amrita untuk bersiap-siap. Om yang ia maksud akan datang menjemputnya. Katakan padanya untuk mengumpulkan tenaga ekstra karena sebentar malam mereka akan bertempur"
"Amrita, coba kamu baca ini" kata Kak Stela sembari menyerahkan ponselnya pada Amrita. Amrita mengambil ponsel kak Stela lalu membaca komentar tersebut. Amrita membuka akun tersebut lalu melihat foto-foto yang ada diunggahan akun @Azizsenova. Mata Amrita membulat saat ia melihat Aziz berfoto dengan pasiennya.
"Amrita kamu kenapa?" tanya Kak Stela bingung.
__ADS_1
"Kakak, akun ini aku Om yang aku maksud" balas Amrita dengan suara tercekat.
"Apa! Coba kakak lihat" Stela merampas ponselnya dari tangan Amrita. Kak Stela dan Kak Arini melihat lihat foto Aziz.
"Tampan bangat Omnya. Kakak juga mau menikah dengan Om Om. Asalkan Omnya tampan seperti dia" kata Kak Arini.
"Senyumnya ya Allah, bikin aku mau pingsan" timpal Kak Stela.
"Tampan tak terhitung jika sikap bejat" kata Kak Yuli.
Aziz menggeram kuat saat melihat postingan akun @Stelasafari. Yang di mana ia melihat dirinya disebut sebagai pria bejat. Dengan kesal Aziz mengambil kunci mobilnya. Ia berniat menghampiri Amrita di kos. Tak membutuhkan waktu lama, Aziz sampai di depan Pondok Mega.
"Aku akan memberimu pelajaran Amrita. Kamu mempermalukan aku di depan semua orang dan aku pastikan kamu akan menyesali perbuatanmu" gumam Aziz sembari mencoba menghubungi Amrita.
"Om, ayo masuk" kata Amrita yang tiba-tiba membuka pintu.
"Kamu kenapa? kenapa kamu menangis?" tanya Aziz saat melihat mata Amrita memerah. Aziz menarik tangan Amrita, membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Amrita saat Aziz menyalakan mesin mobil.
Aziz tak menggubris pertanyaan Amrita. Ia melajukan mobilnya menuju jalan raya. Di dalam mobil, baik Aziz maupun Amrita, keduanya tak saling bercerita. Bahkan Aziz tak tahu ke mana ia akan membawa Amrita pergi. Rasa kesalnya menghilang saat melihat Amrita menangis.
"Katakan padaku apa yang kamu inginkan?" tanya Aziz.
Amrita menoleh menatap lekat manik mata Aziz yang kini menatapnya. "Apa Om yakin dengan pertanyaan Om"
"Aku yakin dengan pertanyaanku" balas Aziz dengan serius.
"Jangan perna Om---" Amrita menghentikan kalimatnya saat Aziz mengangguk paham sekalipun ia belum dengar apa yang dikatakan Amrita.
"Baiklah. Setelah acara pernikahan selesai, kamu akan tinggal di Perumahan yang sudah aku beli. Rumah itu untuk kamu. Tiap bulannya aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Kamu bisa jalani hidup tanpa melihat pria bejat sepertiku" kata Aziz. Mulutnya berkata baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya.
"Kenapa hatiku sakit setelah mengatakannya. Apakah aku jatuh cinta padanya?" batin Aziz.
__ADS_1