Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Boncap_Hanya untuk Almarhum


__ADS_3

Aziz memasukkan Fattan dan Fadila di salah satu sekolah PAUD (Pendidikan anak usia dini) yang ada di kota Makassar. Baik Fadila maupun Fattan sangat bahagia saat mendengar kabar bahagia itu. Akhirnya mereka bisa belajar di sekolah.


Aziz juga telah kembali beraktivitas seperti biasa. Sudah lama pria itu tidak masuk kerja. Dia sudah pasrah bila nantinya dipecat namun nyatanya tidak. Pria itu masih diterima bekerja di rumah sakit tempatnya bekerja dulu.


Perumahan Hertasning nomor A19


Aziz dan kedua anaknya sedang berada di dalam kamar si kembar. Sementara Mbak Ima sedang sibuk di dapur menyiapkan bekal untuk Aziz, Fadila dan juga Fattan.


"Papa, apa aku boleh berteman dengan orang lain saat di sekolah nanti?" tanya Fadila. Anak kecil itu duduk di atas kasur membiarkan ayahnya menyisir rambutnya.


"Boleh Sayang. Tapi kamu nggak boleh nakal di sekolah" balas Aziz. Setelah menyisir rambut putrinya, Aziz mengambil jilbab dan membantu putrinya mengenakan jilbab langsung yang sangat pas di kepala putrinya.


"Sekarang giliran Kakak Fattan" kata Aziz berpindah dan berdiri di depan putranya. Aziz menyisir rambut putranya dan tak lupa mengoles sedikit bedak baby di wajah dan di leher putranya.


"Selesai... saatnya kita ke sekolah!" sorak Aziz agar anaknya senang.


"Papa. Aku malas ke sekolah" ucap Fattan cemberut.


"Jangan malas, nanti Mama sedih di surga. Bukannya Mama selalu meminta kita belajar. Itu tandanya Mama mau kita rajin" jelas Fadila mengingatkan kakaknya.


Aziz tertegun mendengar kalimat putrinya. Sepertinya Fadila lebih bijak daripada Aziz dan Fattan. "Kenapa aku merasa seperti sedang diomeli Amrita" batin Aziz.


"Iya, nanti Kakak ke sekolah" kata Fattan mengukir senyum. Fattan turun dari sofa berjalan menuju meja di mana ada bingkai foto. "Mama, kami berangkat ke sekolah dulu. Baik-baik di surga ya" sambungnya lalu mencium foto Mamanya.


Fadila dan Aziz menghampiri Fattan. Mereka bertiga tersenyum memandangi foto Almarhum Amrita. Kemudian keluar dari kamar menuju lantai satu. Di lantai satu, Mbak Ima telah selesai menyiapkan bekal untuk Azi dan kedua anaknya.


"Fadila, Fattan, salim dulu sama Nenek Mbak" titah Aziz. Kini panggilan ke Mbak Ima adalah Nenek Mbak. Nggak sopan jika Fattan dan Fadila manggilnya Mbak Ima.


Fadila dan Fattan meraih tangan Mbak Ima lalu menciumnya. "Nenek Mbak. Kami ke sekolah dulu ya" pamit Fadila.


Mbak Ima tersenyum. "Iya Sayang. Yang rajin belajarnya. Jangan nakal di sekolah ya. Nenek Mbak sudah siapin bekal untuk kalian" kata Mbak Ima.


Aziz mengambil tupperware milik Fattan dan Fadila kemudian memasukannya ke dalam tas kecil Fadila dan Fattan. Dan tak lupa mengambil tupperware untuknya. "Mbak, kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum" pamit Aziz.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke sekolah PAUD, Fadila menyanyikan lagu kasih Ibu. Lagu yang selalu dia nyanyikan tiap pagi. Sementara Fattan hanya diam. Anak kecil itu memikirkan sesuatu yang tidak berani ia ungkapkan.


"Fattan, kamu kenapa Sayang?" tanya Aziz menatap putranya lewat kaca spion mobil.


Fadila menatap kakaknya yang menunduk. "Kakak kenapa?" tanya Fadila.


"Papa, kapan-kapan kita ke makam Mama ya. Mama pasti merindukan kita" pinta Fattan tanpa menatap Papanya.


Aziz mengukir senyum. "Iya Sayang. Hari jumat nanti kita ke makam Mama" kata Aziz.


Fattan mendongak tersenyum. "Terima kasih" ucapnya mengukir senyum lebar.


Sekolah PAUD


Aziz membuka pintu mobil dan menuntun kedua anaknya turun dari mobil. Di depan gedung sekolah, berdiri seorang guru yang masih muda. Namanya Nafida, wanita yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Mahdania. Mahdania meminta Nafida untuk menjaga Fadila dan Fattan selama kedua anak itu di sekolah. Nafida pun mengiyakan karena dia juga tinggal di area perumahan Hertasning.


"Nafida, aku titip anak-anakku ya. Ada Mbak Ima di rumah. Kamu bisa mengantar mereka langsung ke rumah" kata Aziz. Aziz membayar Nafida untuk selalu mengantar pulang Fattan dan Fadila. Karena pria itu pulang kerja di jam lima sore.


"Baik, Mas" balas Nafida tersenyum.


Rumah sakit


Aziz menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Kemudian turun dari mobil berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Dari kejauhan, terlihat Pak Berti menarik senyum menatap Aziz yang berjalan ke arahnya.


"Assalamualaikum" ucap Aziz.


"Waalaikumsalam. Semangat Dok, jangan pantang menyerah" kata Pak Berti menyemangati.


Aziz menarik senyum. "Iya, Pak. Makasih ya" balasnya seraya menepuk pundak kanan Pak Berti. "Aku bekerja dulu" sambungnya lalu masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangannya.


Setelah mengambil alat medisnya, Aziz ke ruang UGD untuk melakukan kewajibannya. Pasien bukan hanya satu yang perlu ditangani. Untungnya ada beberapa dokter yang juga dinas pagi. Dan ada beberapa dokter muda yang baru bekerja.


"Kau sudah lama datang?" tanya Aher yang baru saja tiba di UGD.

__ADS_1


"Belum lama. Maaf, tadi aku tidak sempat memanggilmu karena aku harus mengantar Fadila dan Fattan ke sekolah" kata Aziz.


"Kenapa kau tidak minta Nafida ke rumahmu menjemput mereka?" tanya Aher. Pria itu ingin menjodohkan Nafida dengan Aziz.


"Aku nggak mau ada wanita lain yang masuk ke rumahku selain keluargaku dan orang terdekatku" balas Aziz.


Aher sudah bisa menebak. Sahabatnya itu tidak tertarik lagi dengan pernikahan. Sepertinya Amrita adalah wanita yang miliki ruang sepenuhnya di dalam hati Aziz. "Ya sudah" kata Aher menyerah.


...ΩΩΩ...


Pukul 17:21 PM


Aziz baru saja tiba di rumah setelah beberapa jam di rumah sakit. Pria itu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum" ucap Aziz setelah membuka pintu.


"Waalaikumsalam" jawab Tante Eka, Pak Sofyan dan Mbak Ima yang sementara ada di ruang keluarga.


"Dari tadi Bu?" tanya Aziz mengambil tempat di depan orang tuanya.


"Lumayan" balas Tante Eka.


Aziz mengedarkan pandangannya mencari cari keberadaan putri dan putranya. "Fattan dan Fadila di mana?" tanya Aziz.


"Mereka di kamar" balas Mbak Ima.


Aziz mengangguk. "Aku ke atas dulu. Setelah mandi baru aku temui kalian" kata Aziz. Lalu beranjak dari duduknya.


Setelah mandi dan mengenakan pakaian, Aziz menemui keluarganya di ruang keluarga yang dilantai satu. Di lantai satu sudah ada Fattan dah Fadila. Kedua anak itu duduk di bersila di atas permadani.


"Aziz, ada yang Ibu bicarakan denganmu" kata Tante Eka.


Aziz yang baru saja mendudukkan bokongnya menatap serius orang tuanya. "Ada apa?" tanya Aziz.


"Apa kamu nggak berencana menikah lagi. Fattan dan Fadila masih membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu" jelas Tante Eka.

__ADS_1


"Apa kalian semua tidak bisa memberinya kasih sayang itu? Apa harus dari wanita lain?" tanya Aziz dengan berbagai pertanyaan. Pria itu tahu apa maksud orang tuanya.


"Aku nggak membutuhkan wanita lain untuk melayaniku. Tugasku sekarang mendoakan istriku agar Allah mempertemukan aku dengannya di akhirat nanti" sambungnya serius.


__ADS_2