
Pagi telah menyapa, namun sinar matahari pagi nampak malu-malu untuk menampakan diri, mungkin karena langit sedang mendung. Di Perumahan Citraland nomor A20, terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di depan pintu kamar putrinya.
"Sabila... buka pintunya!!"
Teriak Papa Aher. Tangan kanannya mengetuk pintu kamar Sabila berulang kali. Sementara tangan kirinya meremas ponsel yang dipegangnya. Melihat postingan Sabila membuat Papa Aher emosi dan ingin memberi pelajaran pada putrinya itu.
Postingan yang di posting sejak kemarin pagi dan Papa Aher baru tahu esok harinya tepatnya hari ini pukul 08:11 AM. Itupun berkat rekan kerjanya yang mengirimkan gambar screenshot yang di dalamnya terdapat postingan Sabila. Dan anehnya lagi, saat Papa Aher membuka aplikasi Facebook untuk melihat secara langsung, pria itu tidak menemukan postingan putrinya. Itu tandanya Sabila sudah menghapusnya. Sekalipun begitu, postingan Sabila sangat tidak pantas, menurut Papa Aher.
Cek--lek... (Pintu kamar tebuka)
"Ada apa sih, Papa. Masih pagi juga, sudah teriak-teriak!" ketus Sabila sambil mengucek matanya.
"Apa maksudnya ini?" Papa Aher memperlihatkan status yang di posting Sabila di Facebook.
Degh!!
Sabila terdiam. Namun dengan segera dia beracting layaknya orang yang tidak tahu apa-apa. "Akun ku di bajak. Bukan aku yang membuat status itu, Papa" jelas Sabila dengan acting nya yang bagus. Sungguh, wanita itu pantas menjadi artis karena acting nya.
Papa Aher terkekeh. Pria itu merasa seperti sedang dibodohi. Dan yang lebih sakitnya lagi, putrinya sendiri yang membodohinya. "Jangan membodohi Papa! Apa kau pikir Papa orang awam yang nggak tahu tentang pembajakan akun!" seru Papa Aher.
"Ya, memang benar aku yang buat postingan itu!!" teriak Sabila.
"Sabila! Turunkan nada bicaramu! Itu Papamu bukan adikmu!!" seru Mama Mahdania. Wanita paruh baya itu menapakkan kaki di tangga menghampiri suami dan putrinya. Ajaran baik yang mereka berikan selama ini sia-sia saja.
__ADS_1
"Aku benci Mama dan Papa! Kalian lebih sayang Sakia daripada aku!" seru Sabila lagi.
Plak!!
Lagi-lagi Mama Mahdania menampar Sabila.
"Berpikir dulu sebelum berbicara. Kau bilang Mama dan Papa nggak sayang padamu. Lalu kemewahan yang kau dapatkan selama ini dari siapa? Orang lain atau dari kami? Kau lihat adikmu, dia nggak mau kuliah karena kamu. Kamu yang membuat kekacauan hingga adikmu merasa diabaikan, karena Papa selalu tertuju di masalah yang kau buat hingga Papamu terlihat pilih kasih!!
"Kau lanjut S2 dibiayai oleh Mama dan Papa dan kau bilang kami nggak sayang padamu!! Papamu hampir tiap hari memarahi adikmu itu karena siapa? Karena kamu! Untuk membelamu namun nyatanya kaulah yang bersalah!!"
"Kau bukan anak-anak lagi. Kau sudah dewasa. Harusnya kau gunakan otakmu bukan hawa nafsumu. Kau benci adikmu, sedangkan dia lahir di rahim yang yang sama denganmu" hardik Mama Mahdania.
"Awas saja kau Sakia, karena kau aku di gampar oleh Mama! Dan karena kau aku dimarahi Mama dan Papa" batin Sabila memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan kuat dari Mama Mahdania.
"Papa kecewa padamu, Sabila" ujar Papa Aher. Nampak kekecewaan terlihat dari raut wajahnya. Pria paruh baya itu kembali ke lantai satu dengan penyesalan. Menyesal telah memarahi putri bungsunya selama ini. Dan nyatanya, semua kesalahan berawal dari Sabila.
...🍁🍁...
Ting!! satu notifikasi pesan masuk, namun bukan dari costumer melainkan dari Fattan. "Assalamualaikum, Dek. Kalau kerja jangan sampai lelah ya (Smile peluk)" itulah pesan yang dikirim Fattan untuk istrinya.
"Waalaikumsalam. Iya Kak, kalau Kia cape nanti Kia istirahat" Sakia.
"Bagaimana perasaan Kia hari ini?" Fattan.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Kia bahagia, Kak" Sakia.
"Lalu lagi ngapain sekarang? Kakak ganggu?" Fattan.
"Lagi nungguin Nurin, Nada dan Alif. Hari ini kami mau bersihkan restoran. Kakak nggak ganggu kok. Santai saja" Sakia.
...🍁🍁...
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit, Fattan nampak cemberut membaca nama Alif dalam balasan pesan dari istrinya. Sekalipun ada Nurin dan Nada tapi tetap saja Fattan cemburu. Fattan tahu betul bagaimana besarnya cinta Alif pada Sakia. Alif sering curhat pada Fattan tapi dia tidak menyebutkan nama wanita yang dicintainya. Dan Fattan baru tahu saat Sakia menyebut nama Alif di hari di mana dia diminta untuk menggantikan Sabila.
"Apa ini yang dinamakan cemburu berlebihan hingga aku terlihat bodoh?" gumam Fattan. Pria itu merasa dirinya bodoh karena rasa cemburunya yang berlebihan. Boleh dikata Sakia sudah menjelaskan padanya bahwa dia tahu posisinya dan tahu statusnya. Ya, Sakia berstatus istri dari Fattan Furqan Zakri. Jadi Fattan tidak perlu bersikap berlebihan pada Alif.
"Sakia jahat sih! Dikirimin bunga tapi bunganya dia buang" Fattan cemberut menatap foto pernikahannya yang dia jadikan wallpaper ponselnya.
"Atau aku kirimkan dia kue kesukaannya . Iya iya iya, sepertinya kue pilihan yang bagus. Kalau bunga dibuang maka kue nggak mungkin dibuang" gumam Fattan seketika dia terdiam. "Tapi Sakia marah semalam karena aku beli terang bulan" sambungnya menghela napas pelan.
"Kue apa yang Sakia nggak bisa buat? Aisss!! Nggak ada yang Sakia nggak bisa buat. Wanita itu terlalu sempurna dalam hal kue dan roti" gumam Fattan mendengus kesal.
Setelah berpikir keras dan mondar mandir di ruangannya, Fattan duduk di kursi. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengambil hati istrinya. Sakia terlalu sempurna, menurutnya.
"Atau aku belikan dia emas? Lebih-lebih dia akan marah. Atau aku belikan dia gamis dan jilbab? Sepertinya gamis dan jilbab itu bagus. Aku pesan lewat online saja. Beberapa hari pengiriman juga nggak apa-apa" gumam Fattan berbicara dengan dirinya sendiri lalu mengambil ponselnya. Pria itu membuka aplikasi shopee dan mencari gamis serta jilbab. Jarinya terhenti dan pria itu kembali berpikir.
"Dia juga menjual gamis dan jilbab, kalau aku pesan di orang lain nanti dia bilangnya apa" Fattan menghela napas pelan.
__ADS_1
"Aku bodoh sih!! Sakia pandai memasak, buat kue dan roti juga karena ingin membahagiakan aku!! Coba dari dulu aku sadari perasaan ini, mungkin hari ini akulah pria beruntung sejagat raya. Bukan seperti sekarang yang terlihat bodoh dan bingung mau ngapain. Huh!! Istri cinta mati aku bodoh mati. Istri nggak cinta lagi kebalik aku yang cinta mati!"
Fattan mendengus kesal menruntuki dirinya sendiri. Panggilan darurat membuat pria itu bergegas ke UGD. Antara tugas dan pikiran cinta maka tugas yang harus diutamakan. Terlebih lagi berada di rumah sakit.