
Seminggu telah berlalu. Dan sudah seminggu Aziz menjalani hari-harinya di rumah sakit tanpa gangguan Safira. Entah wanita itu ke mana. Hingga kini belum ada kabar tentangnya. Jika benar dia pergi, semoga dia pergi dan tak kembali. Dan jika pun dia kembali, semoga dia tak menjadi pengganggu rumah tangga orang lain.
"Hai Aziz, suaminya Amrita. Sejak Safira tidak masuk kerja, kuperhatikan kau nampak bahagia ya" Aher meledek sahabatnya sembari bersandar di pintu.
Aziz terkekeh. "Tentu saja aku bahagia. Bahagia bukan karena dia tidak masuk kerja, tapi aku bahagia karena hari-hariku kembali seperti biasa" sahut Aziz tersenyum.
"Sama saja Aziz. Andai dia masuk kerja maka kau tidak akan berkata seperti itu" cetus Aher tersenyum meledek.
"Terserah kau!" Aziz kembali meledek Aher. "Keluarlah dari ruanganku. Aku mau makan masakan istriku yang lezat ini" sambungnya tersenyum lebar. Sesaat setelahnya, Aziz mengerutkan keningnya menatap sahabatnya yang kini mendekat.
"Aher, aku minta kau mundur. Jangan harap aku akan berbagi makanan denganmu. Sudah aku katakan untuk segera menikahi Madania tapi kau terlalu pengecut. Jadi pergilah, aku tidak mau berbagi makanan denganmu, sekalipun itu hanya sedikit" seru Aziz sembari mengomeli sahabatnya.
Aher hanya bisa menggurutu lalu keluar dari ruangan sahabatnya. Benar kata Aziz, Aher terlalu pengecut hingga janji tinggal janji namun buktinya tidak ada. Bukannya Aher belum siap menikah tapi uang yang terkumpul baru sedikit. Terlebih lagi Madania adalah putri satu satunya dari keluarga terpandang. Tentu saja hal itu membuat Aher harus menyiapkan uang sebanyak mungkin.
"Andai kau hanya wanita lulusan Sekolah Menengah Atas, Madania. Mungkin sudah sejak dulu aku menikahimu" batin Aher sepanjang jalan menelusuri lorong rumah sakit.
...ΩΩΩ...
Berhubung waktu sudah sore, Aziz dan Aher bergegas ke parkiran karena sudah saatnya mereka pulang. Sesampainya di parkiran, baik Aziz maupun Aher masuk ke dalam mobil masing-masing dan pulang ke rumah masing-masing.
"Kenapa Madania tidak menjawab panggilanku" gumam Aher setelah menghubungi kekasihnya.
Ting... Satu notifikasi. Aher menatap nama pengirim pesan. "Madania" gumamnya pelan sambil membuka pesan dari kekasinya.
"Maafkan aku, Aher. Kau terlalu lama menepati janji. Malam ini, kerabat ayahku akan datang melamarku untuk putra mereka. Maafkan aku yang tidak bisa menunggumu, Aher. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."
"Madania...!!" teriak Aher sembari memukul stir mobilnya. "Aku harus mencegahnya. Madania tidak boleh menikah dengan orang lain. Tapi bagaimana, Ayah dan Ibu masih di luar Kota" sambungnya.
__ADS_1
"Tante Eka dan Pa Sofyan. Ya, mereka bisa melamar Madania untukku. Aku harus ke sana" gumam Aher melajukan mobilnya menuju Rumah Pa Sofyan.
...ΩΩΩ...
Aher baru saja sampai di Rumah Pak Sofyan. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol berulang kali. Berharap tuan rumah segera membuka pintu untuknya.
Cek--lek (Pintu terbuka lebar)
"Cari siapa ya Mas?" tanya Mbak Ima. Seorang asisten rumah tangga.
"Ada Tante Eka dan Pak Sofyan?" tanya Aher.
"Ibu dan Bapak lagi pergi, Mas. Katanya sih ke rumah Nak Aziz" balas Bi Ima dengan sopan.
"Terima kasih ya, Bu. Saya pamit pulang. Assalamualaikum"
Aher bergegas masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah sahabatnya. Malam ini, Aher harus datang ke rumah Madania untuk mencegah lamaran itu. Dia tidak mau dan tidak rela bila Madania harus bersanding dengan pria lain.
"Akhhh! Kenapa aku sial sekali sih! Pacar mau dilamar orang lain, Tante Eka tidak ada. Mana ponsel ikut mati lagi!" teriak Aher.
...ΩΩΩ...
Aher memakirkan mobilnya di depan rumah sahabatnya, Aziz. Dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri pintu dan menekan tombol yang ada di samping pintu itu. Sesaat setelahnya, ada seseorang membukakan pintu untuknya dan itu adalah Aziz. Tanpa dipersilahkan masuk, Aher sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
"Aher, kau kenapa?" tanya Aziz menghampiri sahabatnya setelah menutup pintu.
"Pertanyaanmu nanti saja baru ku jawab" sahut Aher. "Sekarang jawab pertanyaanku, di mana Tante dan Om?" tanyanya.
__ADS_1
"Ibu dan Papa baru saja ke Bandara. Katanya sih mau ke Jakarta. Tante Eqi sakit jadi mereka ke sana untuk membesuknya" balas Aziz yang nampak masih bingung dengan geragat sahabatnya yang tidak biasanya itu.
Di lantai dua, Amrita menutup buku cetak Farmasi Fisika. Lalu turun ke lantai satu. Kerutan di dahinya terbentuk jelas saat melihat Aher menangis di sofa. "Kenapa Om Aher menangis?" batinnya.
"Mas, Om Aher kenapa?" tanya Amrita sedikit berbisik. Ia berdiri di samping suaminya. Lalu menatap Aher yang kini terisak.
"Aher, kau kenapa. Kenapa kau menangis seperti wanita pada umumnya?" tanya Aziz dengan nada pelan hingga terdengar halus.
"Aziz, Amrita. Apa kalian tahu, malam ini Madania akan dilamar orang lain" balas Aher sembari menyeka air matanya.
Amrita ingin tertawa namun ia juga kasihan. Tertawa melihat Aher yang kini menangis tersedu-sedu dan kasihan mendengar jawaban dari pria yang selalu mau membantunya itu. "Lalu kenapa Om di sini? Kenapa Om tidak menemui orang tua Kak Madania?" tanya Amrita.
"Tujuanku ke sini untuk meminta bantuan Tante Eka dan Pak Sofyan, menemaniku ke rumah Madania dan melamar Madania untukku" balas Aher seraya menyeka bekas air matanya.
"Di mana orang tua Om yang bule itu?" tanya Amrita lagi.
"Mereka di Inggris, dan belum pulang" balas Aher.
...ΩΩΩ...
Berhubung tidak ada Tante Eka dan orang tua Aher juga masih di Luar Negri. Sesuai arahan dari Aziz dan Amrita, Aher memberanikan diri untuk datang seorang diri. Dan kini, pria itu sedang berdiri di depan rumah Madania.
"Ya Allah, bantulah aku" pintah Aher dalam hatinya.
Dengan gontai dan gugup, Aher mendekati rumah orang tua kekasihnya, Madania. Berharap Madania tidak jatuh kepelukan pria lain, selain dirinya seorang. "Kenapa aku gugup!" batin Aher.
Di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu yang cukup luas. Terlihat dua orang wanita paruh baya dan dua pria paruh baya sedang berbincang-bincang. Kedatangan kerabatnya itu untuk membicarakan hubungan anak mereka. Yang di mana menurut mereka lebih baik menikahkan keduanya. Mungkin dengan begitu, hubungan baik mereka akan terus terjaga hingga anak cucu mereka.
__ADS_1
Ting... satu notifikasi masuk di ponsel Aher. Aher membuka lalu membacanya. Lagi-lagi ia harus menelan rasa sakit yang amat dalam.
"Pulanglah. Dan persiapkan dirimu hingga pekan depan nanti" isi pesan dari Madania.