Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 79


__ADS_3

"Hahahahaha. Aku tahu kamu menjahiliku. Aku yakin, kau sudah tahu kan kalau Madania adalah calon istrimu" ujar Aziz yang berusaha mencari kebenaran.


"Hahahahaha. Sekarang kamu mulai pintar ya. Baguslah, dengan begitu kamu tidak akan dijahili oleh istri nakalmu lagi" balas Aher tersenyum. "Oh ya, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aher menautkan kedua keningnya melihat banyak kado dilantai.


"Lagi unboxing. Banyak sekali kado ulang tahun dari teman-temanya. Bola mataku sampai mau keluar melihatnya" balas Aziz lalu terkekeh.


"Cie-cie... Amrita, ulang tahun ngak traktir aku" ledek Aher.


Amrita yang sedang sibuk unboxing kembali terkekeh. Lalu mendekati suaminya. "Ahahaha. Om, harusnya Om yang traktir aku" ujar Amrita tersenyum.


"Cie-cie... yang dijahilin Mama papanya. Kasihan deh, Om Aher" ledek Amrita lalu tertawa lepas.


"Jadi kamu juga tahu!" Aher membulatkan mata. "Ya Allah, semoga Amrita cepat hamil ya Allah. Aku ingin punya keponakan. Ingat Amrita! Doa orang terzalimi cepat dikabulkan oleh Allah" kata Aher.


"Aamiin. Doa Om Aher sudah Allah kabulkan" balas Amrita tersenyum. Pikiran nakalnya tiba-tiba hadir begitu saja. "Ahaiiiii, yang tinggal menghitung hari bakalan malam pertama ni.." ledek Amrita dengan girang.


Aziz dan Aher bergidik mendengar kalimat terakhir Amrita. Bisa-bisanya bumil memikirkan malam pertama. "Sadar Amrita, Jangan pikiran mesum" ujar Aziz menggelengkan kepala.


"Hahahahaha" tawa Aher pecah. "Amrita, doakan aku ya. Semoga setelah nikah nanti, seminggu atau sebulan langsung target jadi. Aamiin" ujar Aher.

__ADS_1


"Aamiin. Ingat Om! Jangan hanya mengandalkan doa, usaha juga penting. Begitupun sebaliknya, usaha tanpa doa juga akan percuma" balas Amrita tersenyum.


Benar kata Amrita. Sekalipun kita berdoa meminta keturunan, namun jika nafsu tidak tersalurkan maka doa akan sia-sia. Di dunia ini tidak ada orang yang hamil tanpa hubungan badan.


Aher kembali terkekeh. "Ya sudah. Kamu lanjut unboxingnya. Nanti kado dari aku dan Madania nyusul belakangan" ujarnya.


Setelah panggilan dimatikan, Amrita kembali melakukan unboxing. Sementara Aziz memilih menggaris kertas double folia. Kertas itu akan digunakan untuk menulis laporan Fisika Dasar. Di mana syarat kertas harus 4-4-3-3. Atau left 4 cm, top 4 cm, right 3 cm dan bottom 3 cm.


"Sayang, kenapa sih ribet sekali. Kenapa bukan kertas HVS saja yang digunakan. Kan gampang, tinggal diedit di leptop, print satu, lalu copy perbanyak" kata Aziz tanpa mengalihkan pandangannya dari penggaris.


"Aku juga maunya begitu, Mas. Tapi mau diapa, kami hanya bisa mengikuti aturan yang dibuat oleh asisten laboratorium. Ada dua istilah pasal dalam laboratorium kata teman-temanku. Pasal pertama, praktikan akan selalu salah sekalipun dia atau mereka benar. Pasal kedua, jika asisten salah, maka kembali ke pasal satu, praktikan tetap salah" jelas Amrita.


"Jahat sekali asisten kalian" ujar Aziz menggelengkan kepala.


"Sabar saja. Jalanin dan nikmati masa-masa itu. Ada waktunya rasa sakit akan berlalu dengan seiring berjalannya waktu" ucap Aziz tersenyum.


Pukul sepuluh malam, Aziz baru saja selesai menggaris kertas double folio sebanyak enam puluh lima lembar. Ia merapikan double folio di atas meja lalu berbaring berbantalkan paha istrinya yang sedang sibuk nonton drama Korea.


"Biarkan saja kadonya di situ. Nanti besok pagi baru dirapikan" kata Aziz sambil memejamkan mata. "Sayang, kita tidur di sini saja ya. Aku malam naik ke atas" sambungnya.

__ADS_1


--


Pagi hari, berita tentang kematian Safira kembali menjadi tranding topik dibeberapa chanel. Para petugas kepolisian begitu cepat mendapatkan bukti dan menangkap pelaku pembunuhan Dokter cantik itu. Amrita yang sementara nonton berita berteriak hingga Aziz yang berada di kolam renang berlari menghampiri istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Aziz dengan panik.


"Mas, coba Mas nonton berita itu" kata Amrita sembari menunjuk televisi. Dalam berita pagi ini, dokter cantik itu dibunuh karena kedapatan bermalam bersama dengan suami sahabatnya.


"Safira adalah sahabat saya. Sudah berulang kali saya membaca pesan mesra antara dia dan Mas Kiman, suami saya. Bukan hanya itu saja, bahkan saya sering melihat mereka jalan berduaan di malam hari. Saya sudah memberi peringatan pada keduanya, namun mereka malah semakin dekat" tutur wanita yang bernama Milani, sahabat Safira. Yang termasuk tersangka dalam kasus pembunuhan Safira.


"Dua malam sebelum kejadian, saya sempat memergoki keduanya sedang melakukan hubungan terlarang di rumah Safira. Saya bisa masuk karena pintu rumahnya tidak terkunci. Hati saya sakit menyaksikan hubungan yang menjijikan itu. Dan dari situ saya berencana meleyapkan mereka berdua"


"Saya kembali ke rumah menunggu suami saya pulang. Pukul satu malam, Mas Kiman tiba di rumah. Aroma parfum Safira begitu menyengat di baju Mas Kiman. Dengan amarah yang tidak bisa saya kontrol, saya menusuk Mas Kiman dengan pisau yang sudah saya siapkan"


"Saya membawa Mas Kiman ke rumah sakit. Setelah lukanya diobati, saya tinggalkan Mas Kiman di rumah sakit dan saya kembali ke rumah karena kondisi saya yang sementara mengandung. Esok harinya saya datang dan Mas Kiman sudah tidak ada. Kata petugas di rumah sakit, suami saya kabur dari rumah sakit. Saya mencari Mas Kiman dan ternyata Mas kiman berada di rumah Safira"


"Malam hari, saya ke rumah Safira. Dan lagi-lagi saya mendapati mereka melakukan hubungan yang menjijikan itu. Dengan emosi yang meluap, saya tancapkan pisau tepat diperut Safira hingga berulang kali. Sementara Mas Kiman malah kabur"


Itulah pengakuan dari Milani, sahabat Safira yang jadi tersangka kasus pembunuhan Safira. Pengakuan itu membuat Amrita menutup mulutnya tak percaya dengan sifat wanita yang sempat berusaha mengganggu rumah tangganya. Sementara Aziz nampak biasa saja. Pria itu sudah tahu sifat Safira, yang memang sejak masih sekolah sudah menjadi perusak hubungan orang lain.

__ADS_1


Mampir juga di NOVEL YANG TAMAT YA KAK 😊😊



__ADS_2