
Setelah mendapatkan kabar bahagia dari Hanin. Besoknya Fakri mengendarai mobil kakaknya ke Kota. Fakri nampak bahagia saat mendengar kabar bahagia itu. Wanita yang dia jaga selama beberapa tahun akan menjadi istrinya. Dan pada akhirnya cinta yang sempat tidak direstui telah direstui oleh sang kakek.
Setibanya di Kota, tepatnya di rumah. Fakri mencari Ibu dan Papanya agar mengantarnya ke rumah Hanin. Pak Sofyan dan Tante Eka pun menyetujui permintaan putranya. Keluarga besar Fakri di sambut baik oleh keluarga besar Hanin Inaya, terutama Kakek Sudiri. Setelah melalui proses pembicaraan yang panjang, keputusan pernikahan Fakri dan Hanin jatuh pada hari Senin, seminggu setelah pertemuan.
...---...
Seminggu kemudian
Hanin mengenakan baju kebaya putih dan jilbab senada. Wanita itu dirias secantik mungkin oleh make-up artist (MUA). Wajahnya yang terlihat sudah cantik semakin lebih cantik setelah di meka-up.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Nyonya Hibra, menghampiri putrinya di kamar.
"Sudah Ibu" balas Hanin tersenyum.
Nyonya Hibra dan Hanin ke luar dari kamar. Hanin duduk di samping Fakri. Fakri juga mengenakan baju jas putih dan peci warna putih. Di depan mereka ada tetua dan Pak Sailani. Dibelakang mereka ada sanak saudara. Baik dari keluarga besar Fakri maupun keluarga besar Hanin.
"Saudara Fakri Alif Zakri bin Sofyan Yahya Zakri, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putriku Hanin Inaya Hibra binti Hibra dengan mas kawin seperangkat alat shalat, perhiasan emas lima puluh gram dengan uang seratus juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanin Inaya Hibra binti Hibra dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai" ucap Fakri dalam satu helaan napas.
"Bagaimana saksi, sah?"
"SAAH..."
__ADS_1
Setelah akad nikah, salah seorang tetua yang duduk di samping Pak Sailani membaca doa. Usai membaca doa, mereka masuk kesesi acara selanjutnya, yaitu tanda tangan buku nikah. Kemudian ke acara serah terima mahar. Fakri menyerahkan maskawin berupa seperangkat alat shalat, emas dan uang. Lalu masuk ke acara selanjutnya, tukar cincin.
Fakri maupun Hanin tersenyum bahagia. Akhirnya mereka sah menjadi pasangan suami istri. Mereka tidak perlu tidur terpisah lagi dan tentunya keduanya sudah merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah menikah.
"Nenek, apa Tante sudah bisa tinggal dengan kita?" tanya Fadila sedikit berbisik.
"Iya Sayang. Sekarang Tante adalah keluarga kita" jawab Tante Eka menjelaskan.
"Kapan aku bisa mengenakan baju yang seperti Tante?" tanya Fadila lagi.
Tante Eka terkekeh. "Masih lama, Sayang. Kamu masih kecil belum bisa mengenakan baju seperti itu" jelasnya.
"Nenek, apa semua orang akan seperti Om?" tanya Fattan menatap Omnya yang terlihat tampan dan bahagia.
Fadila dan Fattan mengangguk paham tanpa mengalihkan pandangan mereka dari pasangan yang belum lama sah menjadi pasangan suami istri.
...---...
Tiga hari setelah acara pernikahan, Fakri dan Hanin ke rumah Tante Eka. Mereka mau pamit sebelum pergi honeymoon ke Bali. Bali ada target utama mereka untuk honeymoon sekalian mencetak anak.
"Assalamualaikum" ucap Hanin setelah membuka pintu rumah. Dia dan Fakri pun masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Fadila sedang menangis menatap foto pernikahan Mama dan Papanya.
"Waalaikumsalam" balas Tante Eka dan keluarganya bersamaan.
__ADS_1
Hanin dan Fakri duduk di sofa. "Ibu, Fadila kenapa?" tanya Fakri.
"Tanyakan saja padanya" kata Tante Eka. Wanita paruh baya itu tak mau menjawab karena merasa lucu dengan sikap Fadila yang terus memprotes Papa dan keluarganya.
"Om" panggil Fadila turun dari sofa lalu memeluk Fakri.
"Iya, Sayang. Kamu kenapa?" tanya Fakri dengan lembut.
Fadila terisak. "Nene, Kakek, Papa, dan Mama. Mereka semua jahat" lapornya. Aziz dan yang lainnya menahan tawa. Takut Fadila semakin marah sehingga mereka tetap diam dan membiarkan Fadila melapor ke Om Fakri.
Fakri dan dan Hanin mengerutkan kening. "Jahat kenapa?" tanya Hanin penasaran.
"Coba lihat foto Tante dan Om" kata Fadila menunjuk foto berukuran besar yang terpajang di dinding. "Aku dan Kakak ada di situ. Kita foto bersama. "Tapi kenapa di foto Mama dan Papa, aku dan Kakak nggak diajak" sambungnya dengan isak tangis yang semakin kencang.
Hanin dan Fakri ingin tertawa namun keduanya mencoba untuk tidak tertawa. "Sayang. Waktu Papa dan Mama menikah, Fadila dan Fattan masih di langit. Itu sebabnya Fadila dan Fattan nggak diajak foto bersama" jelas Fakri.
"Kenapa mereka tidak datang menjemput aku dan Kakak?" tanya Fadila sesenggukan.
"Waktu itu pesawat belum ada jadi mereka tidak bisa ke langit menjemput kalian berdua" jelas Fakri. "Nah, beberapa tahun setelah Mama dan Papa menikah, barulah pesawat ada. Ya sudah, Mama dan Papa jemput kalian ke langit" sambungnya.
"Coba kamu lihat foto yang sana" kata Hanin menunjuk foto Amrita saat mereka foto studio. "Di sana ada Fattan dan Fadila kan. Jadi, Fadila jangan nangis lagi. Nanti Mama sedih di surga" sambungnya menenangkan.
Fadila menyeka bekas air matanya dengan cepat. "Aku nggak mau Mama sedih. Aku nggak boleh nangis" kata Fadila menatap foto Mamanya. "Mama, maafkan aku. Aku nggak akan sedih lagi. Mama jangan sedih di surga ya. Tunggu aku, kakak dan Papa. Nanti kita main bersama di surga" sambungnya lalu tersenyum.
__ADS_1