
Fakultas Mipa
Amrita, Hanin dan Fakri sedang duduk di bawah tangga sembari mengerjakan tugas Farmasetik. Ketiganya bekerja sama agar tugas mereka cepat selesai. Dan yang lebih sakitnya lagi, semua tugas itu harus ditulis tangan. Tidak ada yang namanya tugas di ketik di leptop atau pun di komputer. Semuanya harus ditulis tangan.
"Ya Allah, sepertinya aku salah masuk jurusan" keluh Hanin sembari merenggangkan otot-ototnya.
"Aku pun berpikir begitu. Jari tanganku terasa sakit" timpal Fakri juga meregangkan tangannya ke belakang.
"Jangan banyak mengeluh. Kita sudah terlanjur di sini jadi mari kita jalani bersama" ujar Amrita menghela napas kasar. Ia pun sama dengan kedua sahabatnya, sama-sama menyesal karena memilih jurusan Farmasi.
"Ayo ke kelas, sebentar lagi Ibu Fifi akan masuk" kata Hanin sembari membereskan buku-bukunya.
Fakri dan Amrita mengisi buku mereka ke dalam tas. Ketiganya berjalan masuk ke dalam kelas. Karena Ibu Fifi tidak suka sama Mahasiswa yang terlambat, maka Amrita, Fakri dan Hanin memilih masuk sekalipun jam mengajar dosen kedua masih lima belas menit lagi.
RS Awal Bros
Seusai memeriksa keadaan pasiennya, Aziz memilih duduk diruangannya sembari menatap profil watshap Amrita. Ia terlihat cengar cengir melihat wajahnya terpampang jelas di profil watshap sang istri.
"Ya Allah, kenapa aku bisa sesenang ini. Aku seperti pria yang baru mengenal cinta saja" gumam Aziz menggeleng gelengkan kepala.
"Ada yang seperti kumang ni...!" ledek Aher yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Aziz.
"Kamu yang seperti kumang!!" celetuk Aziz.
"Hahahahaha. Santai bro, jangan emosi. Aku tahu penyebab senyum itu. Kalau boleh aku saranin nih, mending kamu bersikap harmonis pada Amrita. Kenapa? Sekalipun foto kamu terpapang jelas di profil tapi hati manusia tidak ada yang tahu bukan. Maka dari itu, aku saranin, kamu harus membahagiakan dia agar dia tidak mencari kebahagiaan ditempat lain" jelas Aher. Ia yakin, rencananya pasti berhasil. Aziz pasti akan kepikiran dengan perkataan Aher,dan dia pasti akan bersikap aneh lagi.
"Benar apa katamu. Aku pernah membaca status seseorang di facebook. Dan dia juga menuliskan kalimat seperti itu. Katanya, jangan bangga fotomu dipajang di profil pasanganmu, sempat itu hanya rencana dia saja untuk mengelabuimu" balas Aziz serius.
"Kalau itu, aku kurang setuju. Aku yakin, Amrita tidak akan mengelabuimu. Aku memberimu saran agar kamu bisa lebih romantis lagi. Buat istrimu bangga memiliki suami sepertimu, itu maksud aku" ujar Aher.
__ADS_1
"Membuat dia bangga? Bukannya bersuamikan dokter sudah pasti membuat dia bangga?" tanya Aziz dengan polosnya.
Aher nampak geram, ia menyentil jidat sahabatnya. "Apa kamu pikir Amrita orangnya gila gelar. Sekalipun kamu Dokter, jika kamu tidak membuatnya nyaman maka dia pasti akan pergi meninggalkan kamu"
"Jadi aku harus bagaimana? Beritahu aku agar dia nyaman denganku" kata Aziz. Pertanyaan itu membuat Aher semakin naik pitam.
"Sudah aku aku bilang padamu, Aziz... beri perhatian pada istrimu. Bersikaplah lebih romantis, romantis seperti Tante dan Om yang selalu terlihat harmonis sekalipun mereka sudah tua" jelas Aher geram.
Aziz terkekeh lalu mengangguk paham. Ia berjalan menuju jendela, menatap jauh ke gedung-gedung yang menjulang tinggi. Seulas senyum tersungging di bibirnya, ia mendapatkan ide untuk membuat Amrita tidak berpaling darinya.
"Aziz, dua hari lagi pernikahan Anaya dan Rikal. Apa kamu sudah mendapatkan pakaian yang bagus untuk ke acara nanti?" tanya Aher membuyarkan lamunan Aziz.
Aziz berbalik menatap sahabatnya, "Belum. Harusnya kita memakai pakaian yang seragam. Kita berempat, aku dan Amrita, dan kamu sama pacarmu"
"Oke fiks, aku setuju. Besok malam kita ke butik untuk melihat baju yang cocok untuk kita" jelas Aher tak kalah bahagianya.
Fakultas Mipa
"Ya Allah, sepertinya aku akan jarang tidur" gumam Fakri.
"Bukan kamu saja, aku juga" timpal Hanin.
"Kalian enak, hanya tugas yang kalian pikirin, tapi aku, aku harus mengurus tugas-tugasku dan melayani suamiku" imbuh Amrita menghela napas kasar.
"Enak kali, Amrita. Kamu bisa minta Kak Aziz untuk bantu kamu. Kak Aziz itu pandai sekali menggambar, kamu bisa memintanya untuk menggambar tanaman yang harus kita gambar" jelas Fakri.
"Kalau dia mau, kalau dia tidak mau" balas Amrita lesuh.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Ayo kita pulang dan mulai mengerjakan tugas pendahuluan" kata Hanin sembari membuka bindernya.
__ADS_1
"Tugas ada lima belas nomor. Fakri, kamu kerjakan nomor satu sampai lima. Amrita, kamu kerjakan nomor enam sampai sepuluh. Sisahnya, aku yang kerjakan. Untuk kamu Fakri, jam tiga malam, kamu harus mengirim jawaban dari soal yang kamu kerjakan. Kita harus mengerjakan tugas ini jauh sebelum lab dimulai, dengan begitu, kita punya banyak waktu untuk mempelajarinya" jelas Hanin sembari menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Baik Bu..." ledek Amrita dan Fakri bersamaan.
---
Malam hari
Seusai sholat isya, Amrita memilih mengambil kertas double folio untuk mengerjakan soal yang sudah dibagi. Matanya terfokus dilayar ponsel, jari tangan yang mulai berkutak di keyboard dan sesekali ia mengela napas kasar, menatap jawaban yang berasal dari sumber.
"Ya Allah, sebanyak ini kah jawaban nomor enam. Mana soalnya beranak lagi" keluh Amrita sembari menatap jawaban yang ada di layar ponsel.
Aziz menautkan keningnya saat mendapati istrinya tengah jungkir balik di sofa, kakinya di atas sofa dan kepalanya di lantai. Perlahan Aziz mendekat, memperhatikan tingkah aneh istrinya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Aziz.
"Mas..." rengek Amrita, masih di posisi awal.
"Kamu kenapa?" tanya Aziz lagi.
Amrita mengubah posisinya, ia duduk di sofa sembari menatap suaminya. "Aku lelah, jari tanganku mulai pegal-pegal. Rasanya, sebentar lagi jari tanganku akan menjadi mie, kriting gitu" keluhnya.
"Coba aku lihat tulisanmu" kata Aziz mengambil tempat disamping istrinya. Amrita menyerahkan kertas double folio, nomor enam dan nomor tujuh sudah ia jawab, tinggal nomor delapan, sembilan dan sepuluh.
Aziz menatap tulisan istrinya, seulas senyum terukir diwajah tampannya. "Berdoa banyak-banyak, semoga aku bisa meniru tulisanmu" ujar Aziz.
Amrita nampak bahagia mendengarnya. "Apa Mas ingin membantuku?" tanya Amrita bersemangat.
"Iya," balas Aziz santai tanpa menatap istrinya.
"Ya sudah, Mas tulis soal nomor satu, nanti jawabannya aku kirim di Watshap" kata Amrita girang, ia membuka aplikasi watshap, membuka group lalu melihat jawaban yang dikirim oleh Fakri.
__ADS_1
"Mas, aku baru kirim jawaban nomor satu dan nomor dua. Nanti nomor tiga nyusul ya" kata Amrita yang dibalas anggukan oleh Aziz. Aziz mulai membantu mengerjakan tugas pendahuluan istrinya. Ia terkekeh saat mendengar istrinya bergumam.
"Terima kasih suamiku" gumam Amrita lalu terkekeh kecil.