Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 86


__ADS_3

2,5 tahun kemudian


Sekarang Amrita dan teman seangkatannya sudah semester enam. Baby Fattan Furqan Zakri dan Fadila Annisa Zakri. Kedua bayi kembar itu selalu dijaga oleh Nene mereka, yaitu Tante Eka. Seperti hari ini, Baby Fattan dan Baby Fadila berada di rumah Nene mereka.


"Assalamualaikum. Mas, sepulang dari rumah sakit langsung Mas ke rumah saja. Biar aku yang jemput anak-anak" kata Amrita dibalik telepon. Amrita sedang berada di parkiran kampus bersama teman-temannya.


"Waalaikumsalam. Semangat sayang" balas Aziz tersenyum.


Setelah melakukan panggilan dengan suaminya, Amrita memasukkan ponselnya di dalam totebag dan kembali fokus dengan tumpukan laporan yang ada di atas motor. Laporan itu adalah laporan praktikum yang akan mereka kumpul namun asisten belum juga datang.


"Fakri, itu Kak Lulu" kata Hanin melihat Kak Lulu, asisten penanggung jawab kelompok tiga.


"Sini laporannya" kata Ade dan Fakri. Lalu keduanya membagi dua laporan tersebut dan mengejar Kak Lulu.


Kak Lulu terus naik hingga ke lantai tiga. Dan masuk ke dalam Laboratorium Tehno. Beberapa puluh menit setelahnya, ia keluar memanggil Ade dan Fakri. Fakri dan Ade pun menghampiri Kak Lulu.


"Lengkap?" tanya Kak Lulu. Lengkap artinya sudah sampai penutup atau belum.


"Lengkap, Kak" balas Ade.


Asisten Kak Lulu mulai memeriksa satu persatu laporan kelompok tiga. "Hanin Inaya. Mana orangnya ini?" tanya Kak Lulu.


Huh... huh... Amrita dan beberapa teman kelompoknya terlihat ngos-ngosan berlari dari lantai satu ke lantai tiga, setelah membaca pesan dari Fakri di group. Fakri meminta teman kelompoknya untuk segera merapat ke lantai tiga karena laporan diperiksa satu persatu.


"Mana yang namanya Hanin Inaya?" tanya Kak Lulu lagi.


"Saya, Kak" balas Hanin mengangkat tangannya.


"Kenapa ditipex? Ganti ya" tanya Kak Lulu lalu mencoret halaman pertama laporan Hanin.


Ingin rasanya Hanin menangis. Tidak ada manusia yang sempurnya, begitupun dengan ketikan yang diketik oleh tangan manusia. Dalam satu lembar ketikan, pasti ada yang kurang huruf atau lebih. Apalagi laporan diketik menggunakan mesin ketik.


"Iya, Kak" balas Hanin. Menahan air matanya yang sedari tadi tertumpuk di kedua sudut matanya.


Sudah lima lembar Kak Lulu mencoret laporan Hanin. Alasannya sama, ada tipex. Boleh di kata yang ditipex bukan satu kata, melainkan satu huruf. Amrita mengelus belakang Hanin, agar sahabatnya itu tidak menangis.


"Affi Anggina yang mana?" tanya Kak Lulu lagi.


"Saya, Kak" balas Affi juga mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Karena isi laporan kalian sama semua maka saya hanya mau lihat tanda tipex saja. Untuk pantulan, kalian bisa lihat di laporan Hanin Inaya" jelas Kak Lulu.


Jumlah mereka di kelompok tiga ada sepuluh orang. Tidak ada yang tidak dicoret laporannya, semua ada. Namun jumla lembar yang dicoret berbeda beda. Karena ketelitian mereka juga berbeda.


"Terima kasih, Kak" kata Ade saat semua laporan sudah diperiksa.


"Iya. Besok jam tiga saya tunggu kalian di kampus. Tidak boleh ada yang tidak datang. Yang tidak datang maka laporannya tidak saya periksa" kata Kak Lulu dengan tegas.


"Iya, Kak" balas Ade dan teman-temannya bersamaan.


Setelah Kak Lulu masuk ke dalam Lab. Fakri membagikan laporan ke teman-temannya. Dilihat dari mimik wajah mereka, semuanya nampak sedih dan juga kesal.


"Tidak ada lagi kan mata kuliah. Ayo kita kerjakan pantulan. Berhubung baru jam satu" kata Fakri.


"Apa kalian membawa mesin ketik kalian?" tanya Ade.


"Iya" balas semua teman kelompoknya bersamaan.


Amrita dan teman kelompoknya kembali ke parkiran. Mereka akan mengerjakan pantulan di indekos Maya, teman sekelompok mereka yang indekosnya dekat kampus. Ada beberapa teman kelompok yang tidak memiliki motor, sehingga sebagian dari mereka ikut Amrita naik mobil dan yang lainnya mengendarai motor mereka masing-masing.


Pondok MB


"Hanin, berikan padaku pantulannya" kata Amrita.


"Ini" balas Hanin menyerahkan laporannya pada Amrita.


"Kalian mau pintar atau hanya mau kejar gelar S. Farm?" tanya Amrita.


Semua teman-temannya, menatapnya dengan bingung. "Maksud kamu?" tanya Hanin tak paham.


"Jika kalian ingin pintar, aku akan membagi pantulan. Jika kalian hanya ingin mendapatkan gelar maka aku akan membiarkan kalian fokus mengetik" jelas Amrita.


"Bagi saja" balas Safna dan teman-temannya yang lain.


Buku tebal berbasis Inggris. Ada yang sampai tiga volume dan ada juga hanya satu. Dan ada beberapa buku berbasis Indonesia. Hampir dua puluh buku disusun dengan rapi berdasarkan ukurannya agar dengan mudah mereka mengambilnya. Buku-buku cetak itu yang mereka harus bawa saat Praktikum Teknologi Sediaan Steril. Dan untuk semua jawaban dari pantulan ada di buku-buku itu.


--


Pukul lima sore, Amrita dan teman-temannya selesai mengerjakan pantulan. Tinggal mereka salin menggunakan mesin ketik. Setelah merapikan laporan dan buku cetak yang berserakahan di lantai, mereka pamit pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.

__ADS_1


"Fakri, bisakah kamu menyetir?" tanya Amrita saat mereka diparkiran Pondok MB 2.


"Bisa. Sini kuncinya" balas Fakri. "Maya, ini kunci motorku. Besok kamu bawah motorku di kampus ya" kata Fakri sembari menyerahkan kunci motornya pada Maya.


"Sampai jumpa teman-teman. Hati-hati di jalan ya" kata Amrita pada teman-temannya.


"Iya. Kalian juga hati-hati" balas Hanin dan yang lainnya.


--


Kediaman Pa Sofyan


Amrita keluar dari mobil tanpa membawa laporannya. Tujuannya ke rumah Ibu mertuanya yaitu menjemput kedua anaknya.


"Assalamualaikum" Amrita dan Fakri mengucap salam.


"Waalaikumsalam" sahut Tante Eka dan Pa Sofyan bersamaan.


Fattan dan Fadila menoleh mendengar suara Ibu mereka. Keduanya berjalan menghampiri sang Ibu. Amrita tersenyum melihat kedua anaknya berlenggak-lenggok dengan lincahnya.


"Mama..." panggil Fattan dengan suara khasnya anak kecil.


"Mama... Papa" panggil Fadila. Saat menyebut kata Papa, anak kecil itu menatap ke arah pintu.


Amrita yang memahami itu tersenyum dan berjongkok memeluk kedua anaknya. "Papa di rumah" balas Amrita tersenyum.


"Ibu, Papa, aku nggak bisa berlama-lama di sini. Aku belum memasak untuk makan malam nanti. Boleh aku pulang sekarang" ujar Amrita.


"Iya, Sayang. Besok pagi Ibu akan ke rumah kalian" balas Tante Eka.


"Fattan, sini sama Kakek" panggil Pak Sofyan lalu menggendong Fattan dan membawanya ke mobil. Pa Sofyan mendudukan Fattan di mobil dan memasangkan seat belt bayi. Begitupun dengan Tante Eka yang juga memasangkan seat belt bayi pada Baby Fadila.


"Hati-hati ya Sayang. Hubungi Ibu jika kamu sudah sampai" ujar Tante Eka.


Dalam perjalanan pulang ke perumahan. Baby Fattan dan Fadila terus terkekeh. Kedua Baby itu saling menatap dan tertawa. Amrita yang melihat tingkah keduanya juga ikut tertawa.



Ilusi Fattan dan Fadila

__ADS_1


__ADS_2