
"Sah..."
Kata "Sah" yang keluar dari mulut semua orang yang hadir di acara akad membuat hati Alif lega namun tidak dengan Si Jono. Alif melirik Si Jono, dalam hati Alif tertawa melihat ekspresi wajah Si Jono.
"Aku menang..." sorak Alif dalam hati.
Usai ijab kabul, membaca doa serta memasang cincin nikah dan penyerahan mas kawin serta susunan acara lainnya, semua tetua beranjak dari duduknya berjalan keluar menuju rumah orang tua Nada.
...--...
Di rumah Pak Sam, Ferri nampak gugup. Dia mondar mandir di dalam kamar. Dia tidak memiliki saingan tapi rasa gugup tetap menyelimutinya. Sukma yang berada di dalam kamar bersama Kakaknya, anak kecil itu nampak geram melihat Kakaknya yang mondar mandir di depannya.
"Kakak, jangan seperti orang gila!" ketus Sukma.
"Kakak gugup. Kalau Kakak salah ucap kalimat ijab kabul gimana. Kita nggak bisa bawa pulang Kak Nada ke Makassar" jelas Ferri menggigit kukunya.
Sukma membulatkan matanya. "Itu nggak boleh terjadi. Kakak harus membawa pulang Kak Nada. Kakak, apa kita culik Kak Nada saja? Seperti di film-film itu" kata Sukma dengan ide polosnya.
"Itu bukan ide yang bagus" ujar Ferri.
Cek--lek... (Pintu terbuka)
"Ayo keluar, Nak" titah Tante Anita.
"Mama, Kakak gugup" lapor Sukma.
"Itu hal biasa. Ayo kita keluar" ajak Tante Anita lagi. Ferri keluar dari kamar begitu juga Sukma. Sama seperti Alif, Ferri juga duduk di depan tetua yang akan mengantarnya ke rumah keluarga Nada bersama empat orang wanita.
__ADS_1
Satu jam kemudian, kalimat ijab kabul terucap dengan lantang. Masyarakat yang ikut menyaksikan acara ijab kabul ikut bahagia. Terlebih lagi keluarga besar Ferri dan Alif.
......🍁🍁......
Malam hari, Usai acara resepsi, Nurin masuk kedalam kamar dan duduk ditepi ranjang. Belum sempat dia melepas pakaiannya, terdengar pintu kamar terbuka. Di depan pintu, terlihat Alif berjalan menghampirinya. Nurin menunduk saat melihat Alif, dia malu bahkan sangat malu. Pria yang dia panggil Kakak kini menjadi suaminya. Nurin benar-benar tidak menyangka akan menikah dengan Alif. Sementara Alif tersenyum melihat Nurin yang salah tingkah.
"Mau Kakak bantu?" tanya Alif serius.
"N-nggak perlu, Kak" balas Nurin dengan gugup.
"Kenapa malu? Bukankah kita sering bersama di butik dan di restoran. Atau jangan-jangan kamu diam-diam jatuh sama Kakak" tuding Alif tersenyum.
"Siapa bilang? Aku nggak nggak merasa diam-diam suka" elak Nurin. Kagum sih iya, tapi untuk jatuh cinta sepertinya Nurin belum menyadari perasaannya.
"Nggak apa-apa bila belum suka atau nggak suka. Yang pasti, sekarang kita pasangan suami istri" ujar Alif seraya melepas satu persatu baju jas putih yang dia kenakan.
"Kak Alif, bisakah Kakak membelakangiku?" pinta Nurim ragu-ragu dan juga takut Alif marah atau tersinggung.
Sementara di rumah Nada, pasangan Nada dan Ferri justru berbanding terbalik dengan pasangan Nurin dan Alif. Jika pasangan Nurin dan Alif ada yang malu maka tidak dengan pasangan Nada dan Ferri. Ferri selalu menggoda Nada dan Nada balik menggoda suaminya, membuat Ferri tertawa didalam kamar.
"Dek, ternyata kamu nggak seluguh yang Kakak kira" ujar Ferri tersenyum.
"Apa itu tandanya Kakak menyesal melamar ku dan menikahi ku?" tanya Nada serius.
Ferri terkekeh. Dia mendekat dan memeluk Nada dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita yang belum sehari menjadi Nyonya Ferri. "Nggak ada kata penyesalan. Yang ada hanya kata Alhamdulilah karena kamu mau menikah dengan Kakak yang masih pengangguran ini" ungkap Ferri.
Nada tersenyum, menatap wajah Ferri lewat cermin di kamarnya. "Kakak, terima kasih untuk kebaikan Kakak dan keluarga. Penghargaan kalian membuat keluarga ku merasa bahagia dan bangga memiliki putri seperti diriku" ungkap Nada. Uang pernikahan yang diminta keluarga Nada hanya 10 juta tapi keluarga besar Alif justru melipat gandakan hingga menjadi 100 juta.
__ADS_1
"Wanita baik-baik, pekerja keras, dan pandai menjaga nama baik keluarga adalah wanita yang layak mendapatkan penghargaan dari suami maupun keluarga dari suaminya. Apa yang kamu dapatkan hari ini hanyalah awal dari kebahagiaanmu. Kakak janji, Kakak akan membahagiakanmu juga keluargamu" jelas Ferri. Ferri membawa Nada di atas tempat tidur. Keduanya duduk bersila di atas ranjang. Ferri menatap manik mata Nada, begitu juga dengan Nada.
"Dek, badai dalam rumah tangga itu pasti ada. Kakak hanya minta, jika badai itu datang menerpa rumah tangga kita, kita berdua melewatinya bersama. Bila Kakak berada di jalan salah, mohon tegur Kakak dan jangan diemin Kakak. Begitupun Kakak, bila kamu membuat kesalahan atau hal-hal yang Kakak nggak suka, Kakak akan menegur selama itu demi kebaikanmu atau demi keharmonisan rumah tangga kita" jelas Ferri.
Nada meneteskan air mata bahagia. Kalimat yang dilontarkan Ferri adalah kalimat bijak, menurutnya. "Iya, Kak. Tuntun aku agar kita bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah" pintanya.
......🍁🍁......
Satu minggu kemudian
Sebelum keluarga besar Alif dan keluarga besar Ferri ke Ambon, keluarga besar Alif dan Ferri bekerja sama dengan Bapak Dusun Tiber untuk mengumpulkan masyarakat Tiber di balai Dusun. Semua masyarakat bingung dengan pemberitahuan yang tiba-tiba. Namun sekalipun begitu, perwakilan dalam satu rumah tanggah tetap ada.
"Terima kasih Pak, Buk, semoga kebaikan kalian Allah balas berlipat ganda. Aamiin" ucap seorang pria separuh baya pada keluarga besar Ferri dan Alif.
"Aamiin" ucap mereka bersamaan.
Di dalam balai Dusun Kampung Tiber, terpancar kebahagian di wajah semua masyarakat yang hadir. Bagaimana tidak, keluarga besar Ferri dan keluarga besar Alif mengikhlaskan sebagian harta mereka untuk diberikan pada masyarakat Dusun Tiber yang menurut mereka, mereka layak mendapatkannya.
Senyum menjadi tangis. Ya, mereka menangis saat mengantar kedua keluarga kaya raya itu naik ke dalam speed boat tujuan Ambon. Di pantai, banyak orang yang mengantar mereka.
"Nurin, Nada, jaga diri kalian di sana. Jadilah istri dan menantu yang baik" ujar seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah tetanggah Nurin dan Nada.
Nurin dan Nada yang merasa kepergian mereka adalah kepergian mengabdi atau menjalankan tugas sebagai seorang istri, kedua wanita itu menangis sesenggukan. Entah kapan keduanya bisa kembali ke kampung, merayakan hari kebesaran bersama keluarga dan masyarakat yang ada di Kampung Tiber.
"Iya, Tante" balas Nada dan Nurin bersamaan.
"Jaga tutur kata, jaga nama baik keluarga dan nama baik Kampung kita. Tak harus menjadi sarjana untuk mengharumkan nama Kampung, menjadi istri yang berbakti dan berkata lemah lembut juga dapat mengharumkan nama baik Kampung kita" sambung seorang wanita yang lain adalah orang tua Nada.
__ADS_1
Dari kejauhan, tepatnya di dalam speed boat, Sakia meneteskan air mata. Hampir sepuluh hari berada di Kampung Tiber membuat wanita itu merasa bahagia. Bahkan dia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari tetangga rumah Pak Adis dan Pak Sam. Kasih sayang dari wanita-wanita separuh baya yang telah menganggap Sakia sebagai anak kandung mereka.
"Sampai jumpa kampung terdamai. Semoga Allah memberiku umur yang panjang agar aku bisa kesini lagi menginjak dan menikmati pemandangan laut dan gunung di sini" batin Sakia.