Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 9


__ADS_3

Fattan menarik senyum sambil berdiri di depan cermin seraya mengaitkan satu persatu kancing baju kemeja nya. Masa cutinya telah berakhir dan waktu yang seharusnya dihabiskan di Bali bersama istrinya, justru dihabiskan di rumah dengan menggeram dan berpikir keras soal perasaannya. Selama sembilan hari dia terlihat seperti pengangguran namun pengangguran berkelas.


Kenapa? Karena sekalipun dia hanya duduk termenung di rumah tapi otaknya bekerja keras layaknya seorang ilmuwan namun ada bedanya. Jika ilmuwan memikirkan cara mengembangkan sesuatu maka Fattan memikirkan perasaan nya yang baru dia sadari.


Setelah selesai mengaitkan satu persatu baju kemeja nya. Fattan kembali menatap bayangannya di cermin dan kembali mengukir senyum menatap baju kemeja yang dikenakannya. Baju itu adalah baju kemeja yang Sakia siapkan untuknya di pagi tadi. Fattan merasa senang karena kebutuhannya disiapkan oleh istrinya. Wanita yang sudah sejak dulu dicintainya namun selalu ditolak kehadirannya.


"Apa yang Sabila lakukan di rumah. Sepertinya aku--" gumam Fattan dan langsung diam. Diamnya membuat seorang wanita tersenyum miring. Siapa lagi kalau bukan Sakia.


"Kalau cemas tinggal ke sana dan temui cinta mati nya. Lagian jarak rumah ini dan rumah Kak Sabila hanya beberapa belas meter saja" sindir Sakia. Wanita itu sejak tadi berdiri di depan pintu kamar dan hanya memperhatikan suaminya.


Fattan menelan saliva nya. "Bukan itu maksudku" jelas Fattan.


"Kalau pun itu juga nggak apa-apa. Santai saja. Terserah kalian mau ngapain, mau nikah pun terserah" kata Fadila tersenyum miring.


"Jangan bicara ngawur. Aku nggak suka!!" bentak Fattan. Dia sangat aneh. Dia bisa menyebut nama Sabila tapi dia paling tidak suka bila Sakia menyudutkan nya.


Sakia terdiam namun dia tidak takut dengan bentakan suaminya. Suara kasar seperti itu sering ia dengar. Bukan sekali tapi berulang kali. Sudah pasti itu di masa lalu.


"Sepertinya dia harus di ruqyah. Lima waktu tapi emosi sering meluap-luap. Pasti jin jahat yang bersarang di dalam tubuhnya" batin Sakia.


"Ayo sarapan" ajak Fattan hampir tak terdengar. Emosi pria itu sudah memudar.


Sakia mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Dia tidak ingin berjalan di samping suaminya ataupun mendahului suaminya. Dilihatnya punggung Fattan yang agak lebar dengan rambut yang digunting seperti model rambut opa-opa Korea. Sungguh, pria itu begitu tampan dan sangat memukai.


Di meja makan, Sakia diam begitu juga Fattan. Keduanya sibuk dengan sarapan masing-masing. Dering ponsel Sakia mengagetkan Fattan hingga pria itu melirik istrinya yang hendak menjawab panggilan.


"Assalamualaikum" ucap Sakia setelah menekan gambar hijau.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Kia, aku minta izin ya. Sepertinya aku akan datang terlambat hari ini. Pagi ini aku ada jadwal kuliah" jelas Alif di seberang telepon.


"Iya Lif ngak apa-apa. Nanti setelah kuliah baru kamu ke butik" balas Sakia dengan ramah.


"Alif lagi Alif lagi!" umpat Fattan dalam benaknya.


Sakia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali menghabiskan sarapannya. Sementara Fattan hanya diam dan tidak menyentuh sarapannya lagi. Selera makannya menghilang saat nama Alif hadir dalam percakapan pagi di telepon.


"Ada apa dengan Kak Fattan. Tatapannya seperti zombi kehausan darah" batin Sakia.


Setelah sarapan, Sakia mengantar suaminya hingga di depan rumah dan tak lupa mencium tangan Fattan sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Dari kejauhan, terlihat Papa Aher melihat ke arah Sakia. Sakia yang menyadari hal itu bergegas masuk ke dalam rumah untuk menghindari tatapan Papanya. Sakia belum mau bertemu Papanya, Mamanya maupun Sabila. Jika benar mereka merindukan Sakia sudah pasti mereka akan datang menjenguk Sakia tapi nyata tidak. Lagi-lagi kesibukkan mereka membuat Sakia merasa terasingkan.


"Kita tinggal berhadapan rumah tapi sampai detik ini kalian nggak datang menjengukku. Kalian selalu sibuk dengan pekerjaan kalian" gumam Sakia sambil menapakan kaki di tangga menuju lantai dua.


Sesampainya di kamar, diraihnya tas kecil yang hanya muat dompet dan ponsel. Wanita itu memasukkan ponselnya di dalam tas dan tak lupa mengambil kunci motor. Kemudian ke luar dari kamar dan turun ke lantai satu. Dia harus ke butik karena mesin jahit yang dia beli akan diantarkan hari ini. Sakia ingin membuat baju gamis dan baju lainnya sesuai desain yang dia buat. Bahkan wanita itu mendesain baju pengantin yang pernah ia impikan.


...---...


Sakia memarkirkan motornya di depan butik samping motor Nurin dan Nada. Dia bergegas masuk ke dalam butik untuk melihat mesin jahitnya.


"Assalamualaikum" Sakia mengucap sambil sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam" balas Nurin dan Nada berbarengan.


"Apa mesin jahitnya sudah di antar ke sini?" tanya Sakia menghampiri Nada dan Nurin yang sementara menulis alamat di tiap-tiap barang yang di packing.


"Masih dalam perjalanan. Tadi kurirnya sudah menelepon" jawab Nada.

__ADS_1


"Kak Kia, bagaimana dengan rencana kita yang tempo hari?" tanya Nurin menatap Sakia.


"Jadi lah adik ku, Sayang. Tempat yang akan di sewa nanti dekat dengan kampus jadi lumayan bagus. Nanti, kalau kita sudah beli semua perlengkapan restoran baru kita cari pegawai baru" jelas Sakia. Sakia, Nurin, Nada dan Alif. Mereka berempat berencana membuka restoran agar wanita-wanita yang tidak memiliki pekerjaan bisa bekerja dengan mereka. Itupun harus di lihat lagi kejujuran para wanita yang mendaftar nanti.


...--...


Matahari mulai tenggelam, langit kembali berwarna jingga tanda malam akan segera menyapa. Sakia pulang lebih awal dari suaminya. Sekalipun tidak ada lagi cinta bukan berarti dia mengabaikan tugasnya yang bisa dia lakukan. Seperti menunggu suami pulang kerja, mengambil tas kerja milik suami dan mungkin membantu suami melepas baju kerjanya.


"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam setelah membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" balas Sakia menghampiri suaminya dan tak lupa mencium tangan suaminya lalu mengambil tas kerja suaminya.


"Kak, Kia sudah siapkan air hangat untuk Kakak mandi" kata Sakia. Air hangat itu untuk dia namun karena suaminya pulang sebelum Sakia mandi maka biarkan saja suaminya yang mandi lebih dulu.


Fattan tersenyum. "Iya, Dek" balas Fattan lalu naik ke lantai dua yang di susul oleh istrinya.


Usai mandi dan bersiap-siap, Fattan turun ke lantai satu setelah mendengar bel rumah berdentang. Tidak mungkin Fattan meminta Sakia membuka pintu karena wanita itu sudah berada di dalam kamar mandi.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Sabila, kamu kenapa?" tanya Fattan saat melihat Sabila menangis.


Sabila tak menjawab, wanita itu langsung memeluk suami adiknya. Pria yang dia tinggalkan atau bisa dibilang pria yang pernah ia cintai. "Maafkan aku" ucapnya.


"Kalau masih cinta kenapa kabur? Jangan bikin dosa di rumah ini. Papa Aziz adalah pria baik-baik jadi jangan kotori rumahnya dengan perbuatan kalian yang tidak seharusnya itu" dengan suara lantang Sakia menyindir Kakak dan suaminya, Fattan, si suami yang dia anggap alim tapi masih berani memeluk wanita yang bukan muhrimnya.


"Sakia, ini nggak seperti yang kamu---"

__ADS_1


"Nggak perlu mencari pembelaan. Laki-laki munafik memang pantasnya dengan wanita munafik" kata Sakia berlalu ke dalam kamar.


__ADS_2