
Rumah Sakit/Malam hari
Pukul 20:00 PM.
Aziz sedang sibuk memeriksa kondisi pasien yang baru saja di bawah masuk ke dalam Unit Gawat Darurat (UGD). Setelah selesai, ia kembali ke ruangannya. Dan kini, pria itu sedang duduk di kursi memainkan ponselnya.
"Apa yang mereka lakukan sekarang" gumam Aziz lalu melakukan panggilan video call. Selang beberapa puluh detik, panggilan dijawab oleh sang istri.
"Assalamualaikum, Mas. Kangen ya" ucap Amrita menggoda.
"Hahahaha. Iya, Sayang. Baru kali ini Mas nggak bermalam dengan kalian" ungkap Aziz. "Kalian baik-baik saja kan?" tanyanya serius.
"Alhamdulilah. Kami baik-baik saja" balas Amrita.
"Anak-anak di mana?" tanya Aziz menatap samping kiri kanan istrinya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan anaknya.
"Mereka lagi belajar, ditemani Ibu dan Papa. Ibu dan Papa belum lama datang. Mas mau tahu, Ibu dan Papa berikan aku gamis yang sangat cantik" jelas Amrita.
"Alhamdulilah" balas Aziz.
"Sayang, aku kembali bekerja dulu. Ada panggilan darurat. Sayang dulu, cepat" kata Aziz tersenyum.
"Ummmuaachh" balas Amrita memberi ciuman lewat udara.
"Terima kasih. Assalamualaikum" ucap Aziz lalu memutuskan panggilan telepon. Aziz kembali ke Unit Gawat Darurat (UGD). Kembali menjalankan tugasnya.
Perumahan Citraland Hertasning nomor A19
Tante Eka, Pak Sofyan, Fakri dan Mbak Ima. Keempat orang itu sedang duduk bersama di ruang keluarga. Tatapan mereka terarah pada televisi. Mereka serius menonton film horor The Crazies. Film yang menceritakan virus beracun yang tidak biasa menjangkiti Kota Pertanian setelah sebuah pesawat mengalami kecelakaan. Naasnya lagi, virus beracun tersebut membuat orang-orang menjadi sosok psikopat berdarah dingin.
"Pa, nanti kita tidur melantai seperti waktu lalu ya. Aku nggak berani tidur di kamar sendiri" ujar Fakri sembari memeluk lengan papanya.
"Ibu juga takut, Pa" sambung Tante Eka memeluk putranya.
"Aku nggak mau tidur di ruang tengah lagi. Aku mau tidur di kamar Fattan dan Fadila" sangah Mbak Ima.
__ADS_1
"Mbak Ima, kenapa mengingatkan kejadian itu lagi!" ketus Tante Eka. Bulu kuduknya mulai berdiri.
"Papa, cepat matikan televisinya" pinta Tante Eka. Wanita paruh baya itu berlari masuk ke dalam kamar si kembar. Yang disusul oleh Mbak Ima dan Fakri.
Di ruang keluarga, tinggal Pak Sofyan seorang diri. Pria paruh baya itu melirik kiri dan kanannya. "Setang!!" teriak Pak Sofyan. Lalu melompat dari sofa berlari masuk ke dalam kamar si kembar. Di tempat tidur si kembar, Amrita sudah terlelap bersama kedua anaknya.
"Kita tidur di sini saja. Mbak Ima, Mbak naik di tempat tidur atas" titah Tante Eka. "Dan kamu Fakri, kamu tidur di tempat tidur bawah"
"Papa, kita tidur melantai saja. Takutnya nanti kita jatuh, jika tidur berdua di atas tempat tidur Fattan dan Fadila" jelas Tante Eka.
"Iya, Bu" balas Pak Sofyan. Pak Sofyan dan istrinya mengambil selimut yang mereka bawah. Sementara Fakri dan Mbak Ima ke tempat tidur masing-masing sesuai arahan Tante Eka.
Pukul 01:40 AM
Amrita mengedipkan mata berulang kali. Menatap ke arah sofa yang ada di kamar anaknya. Dilihatnya Ibu dan Papa mertuanya sedang tidur. "Pasti efek ketakutan. Dasar pasangan kocak" batin Amrita.
"Mama, jangan pergi" pinta Fadila tanpa membuka mata namun ia bisa merasakan pergerakan mamanya yang diam-diam akan bangun.
"Hmmm. Jangan lama" ujar Fadila, membiarkan mamanya bangun.
Amrita keluar dari kamar anaknya lalu masuk ke kamarnya. Ia mengambil dua bantal dan kembali masuk ke kamar anaknya. "Ibu, ini bantal" ucap Amrita meletakkan bantal untuk Ibu dan Papa mertuanya.
"Terima kasih sayang" balas Tante Eka tanpa membuka matanya.
---
Pukul 08:02 AM
Aziz baru saja tiba di rumah. Dengan gontai ia meraih handel pintu dan masuk ke dalam rumah. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya melihat anaknya sedang belajar di ruang keluarga.
"Assalamualaikum" ucap Aziz tersenyum.
"Waalaikumsalam" balas semua orang yang ada di dalam rumah.
__ADS_1
"Jangan peluk Papa sayang. Papa bau obat" kata Aziz sebelum kedua anaknya berlari memeluknya.
"Papa, cepat mandi sebelum Mama marah" titah Fadila.
Aziz mengerutkan keningnya. "Mama marah kenapa?" tanya Aziz.
"Papa nggak tidur di rumah" bisik Fadila tersenyum.
"Hahahahaha" Aziz tertawa kecil. "Ya sudah, Papa mandi dulu ya" ujarnya lalu masuk ke kamar.
Di dapur. Mbak Ima dan Amrita sedang menguji keahlian mereka. Membuat kue brownis kukus di pagi hari. Aroma harum tercium hingga di ruang keluarga. Membuat Pak Sofyan dan Tante Eka menunda jadwal mereka.
"Pa, Bu. Kalian mau ke mana?" tanya Aziz mengambil tempat di samping Fakri. Lalu menatap penampilan Mama dan papanya yang seperti anak muda umur 30an.
"Mau honeymoon lah. Kira kamu, hanya di rumah terus. Ibu jadi kasihan sama menantu Ibu yang kegiatannya hanya seputaran kampus, rumah. Dua itu saja" balas Tante Eka tersenyum menyindir putranya.
"Nyindir terus... tunggu sampai Amrita ujian tutup. Aku akan mengajaknya ke luar negri. Fattan dan Fadila sama Ibu" ujar Aziz tersenyum.
"Nggak masalah. Asalkan ada ongkos jaga" balas Tante Eka. "Oh ya , Aziz. Jangan lupa ya Nak. Jadilah suami yang mempercayai istrinya. Seperti Papa kamu yang mempercayakan Ibu memegang kartu ATM nya" ujar Tante Eka mengingatkan.
"Iya Bu. Kartu ATM memang sudah aku berikan pada Amrita sebelum Fattan dan Fadila ada di dalam kandungan Amrita" balas Aziz menjelaskan.
"Lebih baik aku ke dapur bantu Amrita dan Mbak Ima bikin kue. Duduk bersama kalian bikin aku minta nikah" ujar Fakri setengah bercanda.
"Hahahaha. Makanya, cepat urus proposal mu biar kamu penelitian, ujian hasil, ujian tutup, lalu wisuda. Setelah itu kamu lamar Hanin. Ibu siap membiayai makan dan minum kalian asalkan kalian wisuda dulu. Lagian, orang tuanya Hanin tidak akan mau punya menantu yang seperti kamu" ledek Tante Eka.
"Terserah Ibu mau bilang apa. Yang pasti aku calon menantu yang diidamkan calon Papa mertuaku" balas Fakri tak mau kalah. Lalu beranjak dari duduknya.
Di dapur, Amrita memotong kue brownis yang sejak tadi matang. Lalu meletakkannya di piring lebar. "Mau di bawa ke mana itu?" tanya Fakri yang baru saja tiba di dapur.
"Di ruang tengah. Ayo kita ke sana" balas Amrita. Dia dan Fakri pun ke ruang keluarga. Yang disusul oleh Mbak Ima. Mbak Ima membawa beberapa gelas yang berisi teh.
"Fakri, andai Papa bukan Papa mertuaku. Sudah pasti aku akan menertawakannya. Coba kamu lihat botaknya, semakin mengkilap" bisik Amrita.
"Hahahaha. Dasar menantu durhaka" balas Fakri terkekeh.
__ADS_1
"Kan sudah aku bilang. Andai Papa bukan mertuaku!" ketus Amrita yang tak terima dibilang menantu durhaka.