
Malam hari, Sakia dan Fattan baru saja menyelesaikan shalat isya berjamaah di rumah baru mereka yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan KM 9, Kompleks Hartaco Jaya. Sejak Sakia mengutarakan perasaannya, sikap wanita itu nampak seperti dulu lagi. Malu-malu setiap kali berada di dekat Fattan.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Fattan mengerutkan kening.
"Nggak, Kia nggak kenapa-napa" jawab Sakia sambil melepas mukenanya lalu mengibaskan rambutnya. Malu dan pikirannya sudah traveling ke mana-mana. Dia mengingat perkataan Fattan.
"Kita akan melakukannya, tapi nanti. Tunggu Kia jatuh cinta lagi pada Kak Fattan"
"Apa Kak Fattan akan meminta haknya malam ini" batin Sakia segera menjauh dari suaminya. Dia membuka lemari lalu menggantung mukenanya di dalam lemari.
Fattan tersenyum, dia kembali melihat sifat Sakia yang dulu. Yang akan salah tingkah bila berada di dekat Fattan. "Kenapa malu, kan Kak Fattan suami Kia sekarang" kata Fattan.
"Siapa yang malu? Kia nggak malu kok" elak Sakia. Mulutnya berkata tidak tapi hatinya dag dig dug. Sakia yang beberapa bulan belakangan ini selalu bersikap tegas dan selalu menyindir suaminya kini menjadi Sakia yang dulu, pemalu.
Fattan tersenyum dan ingin sekali menggoda istrinya.
"Kia sudah siap?" tanya Fattan menggoda.
Pipi Sakia seketika merah merona. Dengan susah paya dia menelan kuat salivanya. Belum lama otaknya traveling dan sekarang pertanyaan itu keluar dari mulut pria yang berstatus suaminya. Haruskah dia menjawab belum? Pikirnya.
"Kenapa aku salah tingkah sekarang. Bukankah beberapa minggu yang lalu mulut ini ringan berkata bijak soal melayani suami" batin Sakia.
Sakia hanya bisa mengangguk. Kalimat bijaknya seakan menghilang. Mulutnya kaku untuk menjawab. Fattan yang sudah mendapatkan respon, dengan segera menuntun istrinya ke tempat pembaringan.
Tangan Fattan meraih resleting baju gamis istrinya. Menurunkan resleting tersebut hingga bagian dada Sakia terlihat. Sakia hanya diam mematung. Siap dengan tidaknya dia harus siap melayani suaminya. Dan kini, gamis yang dikenakan Sakia telah merosot ke lantai meninggalkan buste hounder dan ****** *****.
"Kak Fattan, Kia malu" ujar Sakia menunduk sambil menutup kedua gundukan nya. Saat tangan Fattan hendak membuka kancing buste hounder yang dikenakan Sakia.
Fattan tersenyum lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Kemudian menghampiri istrinya yang masih tersipu malu. "Ayo" ajak Fattan menuntun istrinya naik ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Fattan melepas bajunya. Lalu menatap istrinya. "Dek, sebelum kita melakukannya, Kakak mau tanya satu hal pada Kia. Kia mau menunda kehamilan atau nggak?" tanya Fattan dengan serius.
"Kenapa aku harus malu. Toh Kak Fattan suamiku" batin Sakia. Sakia berusaha mengabaikan rasa malunya. Menghirup udara dalam-dalam lalu menatap suaminya. Padangan keduanya berpapasan.
"Kia nggak mau menunda. Dan lagian, tanpa kita tunda, jika Allah belum memberi maka kita nggak ada diberi" jawab Sakia.
Setelah mendapatkan respon baik dari istrinya. Fattan mulai melanjutkan niatnya. Malam ini, keduanya akan menuntaskan hasrat yang beberapa bulan ini dipendam. (Selamat traveling 🤣)
...---...
Sementara di tempat lain, tepatnya di ruko, Nurin dan Nada sedang berdiri di balkon memandang jauh ke jalanan. Nurin memikirkan niat baik Alif sementara otak Nada sedang traveling.
"Ya Allah... kenapa aku yang bahagia" gumam Nada cekikan.
"Kenapa sih, Nad?" tanya Nurin dengan bingung.
"Astaghfirullah... sadar Nada... otakmu ini harus dibawa di rumahnya Bu Tutik biar diobati" kata Nurin dengan geram. Bu Tutik adalah dukun di kampung Nurin dan Nada.
"Hahahaha" tawa Nada pecah. Dia bersandar di pagar balkon menghadap pintu.
"Nur, aku tuh tahu loh mana orang perawan mana nggak. Dan selama Kak Kia menikah, aku perhatikan Kak Kia masih perawan. Itu tandanya Kak Fattan dan Kak Kia belum malam pertama. Kamu pasti tahu kan alasannya kenapa. Dan beberapa hari yang lalu Kak Kia curhat pada kita kalau Kak Kia sudah jatuh cinta pada Kak Fattan. Ya Allah... aku yakin, sekarang mereka sedang olahraga malam" ujar Nada, otaknya kembali traveling.
"Astaghfirullah. Kenapa otaknya mesum sih. Apa di ruko ini ada hantu mesumnya?" ketus Nurin.
Nada terkekeh. "Kalau ada hantu mesumnya, maka olahraga malam Kak Kia dan Kak Fattan sudah pasti terjadi di ruko ini. Tapi buktinya nggak. Itu tandanya nggak ada hantu mesum di sini" sanggah Nada.
"Besok pagi aku mau perhatikan Kak Kia. Aku penasaran dengan cerita cinta malam ini" gumam Nada lalu berbalik menatap jalanan.
"Nurin, bukannya itu Kak Alif" kata Nada sambil menunjuk Alif yang berada di samping ruko.
__ADS_1
"Mana mungkin. Kak Alif nggak mungkin ke sini" kata Nurin tak percaya.
"Tuh, lihat mobilnya. Itu mobil Kak Alif" kata Nada sambil menatap ke arah di mana Alif memarkirkan mobilnya.
"Nurin, kenapa sih kamu jual mahal bangat. Bersyukur ada laki-laki setia, tampan, berpendidikan dan juga mampan, yang mau menerima wanita dari kalangan kurang mampu seperti kamu. Bukannya bersyukur tapi sok jual mahal!" sindir Nada. Dia ingin Nurin menerima Alif tapi Nurin masih saja meragukan kesetiaan Alif.
"Bukan jual mahal tapi waspada!" ketus Nurin.
"Hei oon, waspada itu boleh. Emang laki-laki kurang mampu seperti kita ini, kesetiaannya bisa kamu jamin? Lagian kedua orang tua Kak Alif dan keluarganya yang lain, semuanya orang baik. Buktinya mereka menerimamu sekalipun kau dari kalangan bawah bahkan bisa dibilang miskin. Sempat rasa takut kamu nggak benar. Bukankah itu suatu keberuntungan bagimu. Atau kau mau menikah dengan si Jono, pria yang memiliki dua istrinya itu" kata Nada menceramahi Nurin.
"Kamu saja yang menikah sama si Jono!" ketus Nurin.
"Sekarang kamu samperin Kak Alif. Kasihan dia dari tadi nungguin kamu di bawah. Aku tahu, dia yang terus mengirim pesan yang kamu abaikan" kata Nada.
"Benar juga apa yang dibilang Nada. Aku belum mencoba tapi sudah parno. Bukankah aku mengenal Kak Alif. Tiga tahun selalu bersama di butik, aku mempelajari sikap Kak Kia dan Kak Alif. Dan menurutku Kak Alif bukan pria play boy. Tapi kenapa aku ragu" batin Nurin.
Di samping ruko, tepatnya di dalam mobil. Alif menatap Nurin di balkon. "Sangat sulit menyakinkan Nurin" gumam Alif.
...--...
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah baru Sakia dan Fattan. Kedua pasangan itu sedang mandi junub setelah dua kali mereka melakukannya. Sakia merasa kewalahan melayani nafsu Fattan yang begitu ganas.
"Kakak, kenapa nafsu sekali?" tanya Sakia melilitkan handuk di tubuhnya.
Fattan terkekeh. "Namanya juga sudah berbulan-bulan menahan keinginan" balas Fattan.
"Bukannya lalu Kia sudah memberi izin pada Kakak" kata Sakia.
"Andai dulu Kak Fattan melakukannya, Kia pasti akan meneteskan air mata. Dan itu sama saja dengan Kak Fattan memperkosa anak wanita orang lain, sekalipun itu istri Kakak sendiri" ujar Fattan.
__ADS_1