Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 97


__ADS_3

Berhubung di tanggal 13 Mei tahun 2021. Dan jatuhnya hari ini. Saya mau mengucapkan maaf bila ada kesahalan dalam setiap alur cerita yang saya buat. Bukan hanya di cerita ini saja, tapi juga di alur Novel lain. Mungkin ada kalimat dalam alur yang membuat kalian tersinggung atau merasa nggak pantas dicantumkan.


Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏



...ΩΩΩ...


Pasien wanita berumur 21 tahun bernama Ekawati Saputri, wanita itu baru saja di bawah masuk ke dalam ruangan UGD. Selang satu menit, terlihat Aziz dan beberapa perawat menghampiri sang pasien dan mulai melakukan penanganan pertama.


"Keluhannya apa Mbak?" tanya Aziz.


"Sesak napas dan dada terasa sakit" jelas pasien Ekawati.


"Sebelumnya pernah masuk rumah sakit?" tanya Aziz lagi.


"Tidak pernah, Dok. Ini kali pertama saya merasakan sakit seperti ini. Saat bernapas, dada saya terasa sakit. Bahkan jantung saya berdetak dengan cepat. Sebenarnya tangan saya sering berkeringat akhir-akhir ini tapi saya tidak memperdulikannya" jelas sang pasien.


"Sering mencuci malam-malam atau mandi malam?" tanya Aziz lagi.


"Sering, Dok" balas pasien Ekawati.


Setelah mendengarkan keluhan pasien, Aziz melakukan rekam jantung (EKG) pada pasien. Tak membutuhkan waktu lama, hasil rekam jantung pun ke luar. Berdasarkan hasil rekam jantung, terdapat pembekakan pada jantung, sehingga pasien harus dipindahkan di ruangan spesialis jantung untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Fakultas Mipa


Amrita meraih handle pintu ruangan dosen, membukanya dan tak lupa menutupnya kembali. Lalu berlari menemui teman-temannya di parkiran motor. Tangis bahagia terdengar beberapa menit berlanjut. Wanita cantik itu baru saja mendapatkan rezeki yang tak pernah terbesit dipikirannya.


"Teman-teman, Pak Muzi menyetujui proposalku" ungkap Amrita sesenggukan.


Flashback On


Pak Muzi adalah pembimbing kedua, Amrita. Pria paruh baya itu kebetulan ada di dalam ruangan dosen. Setelah mendapatkan Acc dari pembimbing pertama, Amrita berencana menunggu Pak Muzi kembali ke ruangannya di Prodi. Setelah itu baru konsul proposalnya. Namun keberuntungan berpihak padanya, wanita itu dipanggil oleh Pak Muzi setelah dia keluar dari ruangan Bu Eni, pembimbing pertamanya.


"Apalagi yang mau saya koreksi jika Bu Eni sudah menyetujui proposal mu, Amrita. Kamu mahasiswi pertama diangkatanmu yang akan naik proposal bulan ini" itulah kalimat yang diucapkan oleh Pak Muzi. Setelah mengatakan itu, Pak Muzi mengambil pulpennya.


"Mana proposal untukku?" tanya Pak Muzi.


Amrita mengeluarkan proposal dari dalam totebag nya lalu menyerahkannya pada Pak Muzi. "Ini, Pak" ujarnya.


Pak Muzi mengambil proposal dari tangan Amrita. Dan tanpa berpikir panjang, dosen tua itu langsung menulis tiga huruf di samping kanan lembar proposal. Tiga huruf yang sangat berharga bagi mahasiswa dan mahasiswi. Yaitu kata Acc.


Flashback Off

__ADS_1


"Alhamdulilah ya Allah. Kami turut bahagia Amrita" ucap Maya tersenyum.


"Makasih ya teman-teman. Aku izin bubar dari sini. Mau urus berkas-berkas untuk naik proposal nanti" ujar Amrita tersenyum sambil menyeka jejak air matanya.


"Aku temani. Berhubung pembimbingku nggak ke kampus hari ini" kata Hanin menawarkan diri.


"Ya sudah. Ayo kita pergi" balas Amrita.


--


Pukul satu siang, Amrita sudah tiba di rumah. Setibanya di rumah, Tante Eka dan Pak Sofyan pamit pulang karena pasangan itu mau pergi jalan-jalan.


"Mama... Mama..." teriak Fattan saat adiknya jatuh kesandung mainan.


Amrita yang sementara berada di kamar berlari kecil ke kamar anaknya. Dilihatnya Fadila tersungkur di lantai. "Ya Allah anakku...!" teriak Amrita berlari menuntun anaknya bangun.


"Hiks... hiks... hiks... Ma-ma, sakit" ucap Fadila sesenggukan.


"Dibagian mana yang sakit?" tanya Amrita menenangkan putrinya.


Fadila tak menjawab, ia memilih memeluk mamanya. "Mama, sakit" ucapnya lagi.


Amrita memukul lantai tempat anaknya jatuh. "Dasar lantai jahat! Dia bikin anak Mama sakit. Awas kamu ya... Mamanya Fadila pukul kamu!!" ujarnya dengan mimik wajah marah.


"Mama, tidur" ucapnya berulang kali menguap.


Amrita menatap jam dinding. Arah jarum pendek berada diangka satu, sementara jarum panjang diangka tiga. "Jam satu lewat" gumamnya lalu menggendong putrinya. Membawanya ke atas tempat tidur.


"Mama" panggil Fattan.


"Mau tidur juga Sayang? Ayo sini" panggil Amrita. Fattan mendekat lalu naik di atas tempat tidur.


Suara adzan membangunkan Amrita. Wanita itu melirik jam dinding. "Sudah saatnya Ashar" gumamnya beranjak bangun dengan pelan.


Amrita ke kamarnya untuk mencuci muka lalu mengambil air wudhu. Setelah itu bersiap-siap untuk shalat Ashar. Usai shalat Ashar, Amrita keluar rumah mengangkat jemuran di belakang. "Mendung lagi. Sepertinya sore ini bakalan hujan" gumamnya.


Gemuruh terdengar menggelegar. Dengan cepat Amrita berlari masuk ke dalam rumah. Meletakkan pakaian di sofa lalu masuk ke dalam kamar putrinya. Dilihatnya Fattan dan Fadila menangis ketakutan.


"Mama di sini Sayang. Fattan dan Fadila jangan takut ya" ujar Amrita kembali merebahkan tubuhnya di samping anak-anaknya.


"Mama, peluk" pintah Fadila.


Amrita tersenyum lalu memeluk Fattan dan Fadila. Kedua anak kecil itu kembali tidur tanpa rasa takut. Pelukan hangat orang tua adalah obat dari segala rasa takut. Dan itulah obat bagi Fattan dan Fadila. Keduanya bisa tidur nyenyak selama tangan Amrita berada di atas tubuh mereka.

__ADS_1


Rumah Sakit/Pukul 8 malam


"Lelah tapi harus semangat. Demi anak-anak, istri tercinta dan keluarga" gumam Aziz seraya meregangkan otot-ototnya.


"Aziz, ayo kita pulang" ajak Aher berdiri di depan ruangan sahabatnya.


"Iya" balas Aziz. Lalu mengambil martabak yang dia pesan lewat aplikasi.


Dalam perjalanan pulang, jalan nampak macet di bagian Pettarani. Hal itu membuat Aher cemas. Pria itu memikirkan istrinya di rumah. Sementara Aziz, ia fokus menyentir mobil sahabatnya.


Perumahan Citraland Hertasning nomor A20


Setibanya di perumahan, Aher bergegas keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Aziz. Aziz mengerutkan dahinya, menatap bingung sahabatnya.


"Aher, kunci mobilmu" ucap Aziz sebelum Aher menutup pintu rumahnya.


"Besok baru aku ambil" balas Aher lalu menutup pintu rumahnya.


Aziz berlari ke rumah nomor A19. Kemudian membuka pintu rumah. "Assalamualaikum. Fattan, Fadila, Papa pulang"


Fattan dan Fadila saling tatap. Keduanya keluar dari kamar menunggu sosok pria yang mereka panggil Papa. "Papa..." sorak Fattan dan Fadila bersamaan, keduanya melebarkan tangan mereka meminta dipeluk.


Aziz tersenyum menghampiri kedua anaknya di depan pintu kamar. "Papa belum bisa peluk kalian. Papa masih bau obat" ujar Aziz memberi penjelasan pada putri dan putranya.


"Mas, aku sudah siapkan air hangat dan pakaian ganti. Sekarang Mas mandi ya. Kami tunggu di sini" ujar Amrita keluar dari kamar.


"Terima kasih Sayang" balas Aziz tersenyum.


Usai mandi dan bersiap-siap, Aziz menemui istri dan anaknya di ruang keluarga. "Mana Fattan dan Fadila?" tanya Aziz mengambil tempat di samping istrinya.


"Sudah tidur Mas. Ini sudah jam setengah sepuluh" balas Amrita. Aziz melingkarkan lengannya pada pundak istrinya. Sementara Amrita menatap bingung suaminya yang tiba-tiba merangkulnya.


"Ayo" ajak Aziz.


"Kemana?" tanya Amrita dengan bingung.


"............" bisik Aziz tersenyum.


"Punya tenaga apa nggak?" tanya Amrita menggoda.


"Tentu saja ada" balas Aziz terkekeh.


"Ayo, Mas. Aku sudah tidak sabar" ajak Amrita tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2