
"Alhamdulilah, akhirnya kamu sadar juga, Dek" ucap Fattan mencium tangan istrinya.
Sakia menatap disekelilingnya, suasana dan dekorasi ruangan berbeda dengan ruangan sebelumnya. "Kak, kita di mana?" tanyanya serius.
"Kita di ruang VVIP, anak-anak kita masih di ruang NICU" jelas Fattan.
"Mereka baik-baik saja kan, Kak?" tanya Sakia memastikan.
Belum sempat Fattan menjelaskan, Dokter Nurma masuk ke dalam ruang rawat Sakia. Dokter Nurma pun mulai memeriksa kondisi Sakia. "Selamat ya, Dok, Buk. Alhamdulilah, sekali dapat anak langsung lebih dari dua" ucap Dokter Nurma tersenyum.
"Saya permisi dulu" pamit Dokter Nurma lalu keluar dari ruang rawat Sakia.
Malam hari, tepatnya di pukul 8:15 PM, Sakia berdiri di depan ruang NICU bersama suaminya. Pasangan itu menatap ketiga anak mereka yang berada di dalam inkubator. Mereka mengira anak yang dikandung Sakia hanya satu, namun ucapan Fadli dan Sukma membuat Sakia dilema dan bertanya-tanya. Dan siapa sangka, janin yang berada dalam rahimnya justru tiga.
Berhubung berat bayi Sakia dibawah normal, maka ketiganya harus bermalam di inkubator. Keluarga besar Zakri hanya bisa menatap keluarga baru mereka dibalik kaca yang ada di ruang NICU. Sekalipun begitu, mereka sangat bahagia. Bahkan Sakia melahirkan dua anak wanita dan satu laki-laki. Kelahiran bayi kembar perempuan membuat Fadli dan Fadlan merengek untuk tinggal bersama Sakia.
......🍁🍁......
Pagi hari, di ruangan Sakia, keluarga besar Zakri berkumpul dan sekali-kali tertawa. Sementara di atas hospital bed, Fadli dan Fadlan kembali merengek untuk yang kedua kalinya.
"Tante, izinkan Abang tinggal di rumah Tante" pinta Abang Fadli.
"Fadlan juga mau tinggal di rumah Tante" sambung Fadlan.
__ADS_1
Sakia terkekeh, sementara Fadila membulatkan mata. "Apa kalian nggak sayang Mama lagi?" tanya Fadila pada kedua putranya.
"Kami sayang Mama tapi kami juga mau adik perempuan" balas Fadli manyun.
Fadli turun dari hospital bed, berjalan menghampiri Nurin yang sedang duduk di sofa menggendong baby Mutmaina. "Tante, izinkan Abang tinggal dengan kalian. Abang mau adik perempuan" pintanya pada Nurin saat Sakia tak meresponnya.
Semua keluarga Zakri, Papa Aher dan Mama Mahdania, tertawa melihat tingkah Fadli dan Fadlan. Kelahiran bayi kembar tiga itu membuat Papa Aziz bahagia, bahkan pria paruh baya itu menyarankan nama untuk cucu perempuan dan cucu laki-lakinya. Ritta Venisa Zakri, nama untuk anak bungsu. Ritma Venisa Zakri, untuk anak kedua dan Muh. Farid Zakri, nama anak sulung Sakia dan Fattan. Nama Ritta diambil dari nama akhir Mama Amrita, dan Ritma kebalikan dari nama Amrita.
"Sayang, kamu boleh tinggal dengan kami, tapi, kamu harus minta izin dulu sama Mama dan Papa kamu" balas Nurin tersenyum.
"Abang minta izin pada Papa saja" ucap Fadli berjalan menghampiri Papa Farhan.
Anak kecil yang baru berusia 5 tahun itu meraih tangan Papa Farhan. "Papa, izinkan Abang tinggal dengan Tante dan Nenek ya" pintanya memohon.
"Ade juga mau tinggal dengan Tante Kia. Papa, biarkan Abang Fadli tinggal dengan Nenek. Nanti Papa dan Mama tinggal dengan Kakak Azam" sambung Fadlan memohon.
Di depan pintu, terlihat Sabila berdiri seorang diri. Sejak kehamilan Sakia, Sabila mulai menyendiri, dia hanya keluar kamar untuk makan dan olahraga pagi. Karena perubahan itu, hingga Mama Mahdania dan Papa Aher tidak mengajak Sabila membesuk Sakia. Mereka takut, takut Sabila akan berulah lagi.
"Kakak, ayo sini" panggil Sakia.
Sabila menatap semua yang ada di dalam ruangan, mereka yang di dalam juga menatap bingung Sabila yang enggan untuk masuk. Perlahan, langkah kaki Sabila melangkah masuk menghampiri adiknya, Sakia.
"Ba--bagaimana keadaanmu?" pertanyaan pertama yang Sabila tanyakan, setelah sekian lama dia memusuhi adiknya.
__ADS_1
"Alhamdulilah, Kia baik-baik saja, Kak" balas Sakia. "Kak Bia gimana kabar?" sambungnya bertanya.
Sabila mengulas senyum. Menahan bulir bening yang mulai tertumpuk. Sembilan bulan dia menyendiri dan merenungi kesalahannya. Jika ditanya apa kesalahan terbesarnya, maka dia akan menjawab, "menorehkan luka pada adik dan hati orang tuanya".
"Kakak baik-baik saja" balas Sabila. "Kak Fattan, Sakia, aku minta maaf. Aku kesini mau pamit pada kalian semua" sambungnya. "Dan berhubung Mama dan Papa di sini, Bia juga mau pamit sama Mama dan Papa. Pukul satu siang nanti Bia mau ke Amerika, mau lanjut S2 di sana"
"Dek, Kakak titip Mama dan Papa ya. Maafkan Kakak yang menjadi penghalang antara kamu dan Mapa" ungkap Sabila. "Ada hadiah untuk keponakan Kakak, tapi hadiahnya ada di rumah. Nanti biar Mama dan Papa yang bawa ke rumah kamu"
Sakia terisak, begitu juga Mama Mahdania. Bukan hanya Sakia dan Mama Mahdania yang merasa sedih, tapi yang lainnya juga ikut sedih. Mereka tahu, berada di posisi Sabila cukup sulit. Ya, cukup sulit. Sembilan bulan Sabila melawan dirinya sendiri. Melawan egonya agar bisa bekerja sama dengannya. Hal itu tidak mudah, terlebih lagi kejahatannya sangat diluar batas. Karena tekadnya yang besar, hingga dia bisa berdamai dengan dirinya.
"Kak Bia, Kia juga minta maaf. Maafkan Kia yang belum bisa menjadi adik yang baik untuk Kakak. Maafkan Kia, Kak" ungkap Sakia sesenggukan.
Sabila mendekat dan memeluk adiknya. "Kakak yang harusnya minta maaf. Kia adik yang baik, Kak Bia saja yang nggak mensyukuri itu" ucap Sabila seraya melerai pelukan mereka.
Fadli dan Fadlan yang tadinya merengek, kedua bocah itu diam menyaksikan pemandangan indah di hadapan mereka. "Abang, kita jangan berkelahi ya" ujar Fadlan pada Abang Fadli.
"Iya, Dek" balas Abang Fadli.
......🍁🍁......
Seminggu setelah kelahiran baby kembar tiga, Fattan dan Sakia memilih tinggal di rumah Papa Aziz. Kedua pasangan itu berniat menjaga Papa Aziz dihari tuanya. Dengan tinggal di rumah Papa Aziz, maka Sakia juga bisa menjaga Mama dan Papanya. Bukan hanya Sakia dan Fattan yang tinggal di rumah Papa Aziz, Fadila dan keluarganya pun memilih tinggal di rumah Papa Aziz, sesuai keinginan Fadli dan Fadlan. Namun bukan untuk selamanya, melainkan hanya sementara waktu saja.
Setelah kepergian Sabila di Amerika, Tante Mahdania dan Papa Aher lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan merawat ketiga cucu mereka.
__ADS_1
...... Cerita Tamat......
Terima kasih untuk kalian yang mengikuti novel ini dari pertama hingga akhir. Maaf karena saya jarang balas komentar kalian. Alasannya sudah saya katakan di episode sebelumnya. Sekali lagi terima kasih banyak. 🤝🤝