
Di lantai dua, Amrita mendengar suara pot bunga pecah. Selang beberapa detik, ia mendengar jeritan suaminya. Amrita berlari menuruni anak tangga. Air matanya menetes saat melihat suaminya jatuh pingsan.
"Om, bangun Om. Om bangun... jangan mati dulu Om. Aku belum siap untuk menjadi janda..." Amrita menangis tersedu-sedu sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
"Bisa bisanya dia menyumpahiku mati" batin Aziz dengan kesal.
"Ibu, aku harus menghubungi ibu" gumam Amrita. Ia berlari menaiki anak tangga mencari ponselnya di kamar.
Di ruang keluarga, Aziz terkekeh melihat istrinya berlari menaiki anak tangga. Ia kembali berpura pura pingsan saat melihat istrinya sedang berlari menuruni anak tangga.
"Om, tunggu sebentar ya. Ibu sudah dalam perjalanan ke sini" ujar Amrita terisak. Ia menyeka air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya.
"Amrita" panggil Aziz memegang kepalanya.
"Om, aku senang Om sudah sadar. Jangan pingsan lagi, aku tidak mau menjadi janda di usiaku yang masih muda ini" ucap Amrita sesegukan.
"Aku hanya pingsan, bukan meninggal" balas Aziz yang disambut kekehan kecil oleh istrinya.
"Tolong bantu aku" pintah Aziz.
Amrita mengangguk paham. Ia membantu suaminya bangun lalu mengantarnya naik ke lantai 2. "Pelan pelan Om" kata Amrita saat suaminya akan jatuh dari tangga.
"Astagfirullah, hampir saja aku jatuh dari tangga" batin Aziz.
Amrita mengantar suaminya ke dalam kamar, kemudian ia turun untuk mengambil air hangat. "Om, minum dulu air hangatnya" Amrita menyerahkan segelas air hangat untuk suaminya. Terdengar dering ponsel milik Amrita. Amrita mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan telepon dari ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bu"
"Waalaikumsalam. Sayang, bagaimana keadaan suami kamu? Jika dia masih belum sadar juga kamu bawa dia ke rumah sakit. Ibu dan Papa tidak bisa kesitu. Ban mobil kami bocor" kata Tante Eka.
"Om Aziz sudah sadar, ini lagi di kamar" balas Amrita.
"Syukur Alhamdulilah. Sayang, ibu titip anak ibu ya. Sekarang kalian istrahat. Assalamualaikum" kata Tante Eka.
Mall Nipa
Tante Eka dan suaminya, yaitu Pa Sofyan. Keduanya sedang berada di Mall Nipa. Mereka yakin, pastih putra mereka hanya berpura pura pingsan.
"Aku tidak habis fikir dengan jalan pikiran Aziz. Bisa bisanya dia berpura pura pingsan. Ibu jadi penasaran dengan kejadian yang terjadi sore tadi hingga Aziz mengambil langkah gila itu" ujar Tante Eka pada suaminya. Mereka berkeliling di dalam Mall Nipa.
"Hahahaha. Papa rasa mereka berdua sangat cocok. Papa tahu bagaimana sifat Amrita. Dia memang terlihat seperti preman tapi orangnya baik. Sekali pun dia suka ikut tawuran tapi Papa yakin, dia punya alasan tertentu" kata Pa Sofyan.
__ADS_1
"Ibu harap, Aziz bisa menuntun Amrita" ujar Tante Eka. "Pa, coba lihat baju yang ini. Baguskan?" tanya Tante Eka sembari memegang baju tunik bahan wolcrape.
"Iya bagus. Tapi ini tidak muat jika ibu yang pakai" balas Pa Sofyan.
"Ini bukan untuk ibu tapi untuk menantu ibu" balas Tante Eka. Tante Ekan mengambil baju Tunik warna Army lalu membawanya ke kasir.
Perumahan Hertasning
Aziz menatap sayu istrinya. "Amrita, badanku sakit semua" kata Aziz cemberut.
Amrita menghela napas panjang, menghembuskannya secara perlahan. "Sekarang Om tidur tengkurap, nanti aku mijitin Om" titah Amrita.
Aziz menyunggingkan senyum. Ia menuruti perkataan istrinya. "Amrita, terimakasih" ujarnya.
"Sama-sama" balas Amrita. Ia mulai memijat suaminya. "Om, sepulang dari mendaki nanti. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan. Pekan depan aku sudah aktif kuliah" ujar Amrita.
"Akkkhh...!!" Aziz berteriak saat belakangnya terasa sakit. "Pelan dikit napa" ketusnya.
Amrita memijat suaminya dengan sangat pelan. "Om, bagaimana?" tanyanya menunggu jawaban dari suaminya.
"Kamu mau kita jalan-jalan ke mana?" tanya Aziz membalikan badan.
"Ke Malino" balas Amrita dengan girang. Ia sangat menyukai tempat wisata yang di Malino.
Amrita menaikkan alisnya. "Memangnya kenapa?" tanya Amrita.
"Aku bosan ke sana. Sebelum menikah, aku dan dokter lainnya berlibur di sana dan sekarang aku harus ke sana lagi" jelas Aziz.
"Bagaimana kalau kita ke Bali?" tanya Aziz tersenyum manis.
"Ke Bali..." Amrita membulatkan mata tak percaya. "Itu impian aku bangat...!!" sorak Amrita dengan girang. Ia melompat di atas tempat tidur.
Aziz tersenyum melihat istrinya bahagia. "Amrita, ayo sini" panggil Aziz menepuk nepuk tempat tidur disampingnya.
Amrita menurut, ia duduk menghadap suaminya. "Ada apa Om?" tanyanya.
Aziz menatap manik mata istrinya. "Sekali pun kamu sering membuatku kesal, tapi aku akan tetap memaafkanmu" ujar Aziz.
"Kenapa?" tanya Amrita.
"Kamu tidak perlu tahu jawabannya. Yang pasti, kamu istriku selamanya" balas Aziz. "Ayo tidur, besok kamu harus mendaki kan"
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak ikut. Aku belum membeli perlengkapan untuk mendaki" balas Amrita dengan raut wajah lesuh.
"Aku sudah menyiapkan semuanya" kata Aziz, ia menyungingkan senyum. Senyum yang membuat Amrita tak mengedipkan mata. Namun dengan secepat kilat Amrita tersadar dari lamunannya.
"Benarkah?" tanya Amrita memastikan.
Aziz mengangguk. "Besok pagi, kamu tinggal mengambil tasmu pada Fakri. Aku memintanya untuk menyiapkan sebagian dari apa yang harus kamu bawa. Kamu cukup menyiapkan pakaian ganti untuk ke sana"
Tanpa izin, Amrita memeluk erat suaminya. "Om, terimakasih banyak" kata Amrita. Ia terlihat malu saat menyadari kelakuannya.
Pagi Hari
Amrita mengerjap, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Dan benar saja, Aziz melingkarkan tangannya dipinggangnya. Amrita tersenyum kecil saat melihat suaminya tertidur pulas.
"Aku mencintaimu Om tampan" bisik Amrita.
Setelah mengatakan cinta pada suaminyan, Amrita beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Sesampainya di dapur, Amrita membuka kulkas untuk mengambil air es.
"Kenapa juga aku menyukai Om Aziz. Jika dia tahu perasaanku yang sebenarnya, dia pasti akan mengejek ku habis habisan. Aku harus pandai menyimpan perasaanku padanya. Takutnya, Om Aziz masih mencintai Kak Anaya" gumam Amrita.
Amrita menaiki anak tangga, ia masuk ke dalam kamar menyiapkan pakaian kerja suaminya. Setelah selesai, Amrita kembali menuruni anak tangga untuk menyiapkan makanan buat dirinya dan suaminya. Tak membutuhkan waktu lama, ikan goreng dan nasi serta susu sudah tersaji di atas meja.
"Ummm..." Aziz menggeliat saat sinar cahaya pagi mengenai wajahnya.
"Om, bangun. Aku sudah siapkan nasi dan ikan goreng. Sayur sudah habis di kulkas jadi aku tidak memasak sayur" kata Amrita menarik tangan suaminya.
Aziz duduk di atas ranjang, ia menatap Amrita secara intens. "Amrita, aku memimpikan mu semalam" ujar Aziz serius.
"Mimpi apa?" tanya Amrita.
"Aku bermimpi, semalam kamu mengutarakan perasaanmu padaku" balas Aziz. "Heh... andai itu kenyataan, aku pasti akan menertawakanmu" lanjutnya.
"Kenapa harus menertawakanku?" ketus Amrita.
"Ya karena tidak mungkin kamu jatuh cinta padaku" balas Aziz santai.
"Bagaimana jika mimpi itu kenyataan?" tanya Amrita serius.
"Maka kamu harus bersiap siap" balas Aziz lagi.
"Bersiap-siap? Maksudnya apa bersiap siap. Aku tidak mengerti" gumam Amrita.
__ADS_1
"Om... apa maksudnya bersiap-siap...!!" teriak Amrita saat Aziz sudah tidak ada dihadapannya.