
Pancious Pancake House
Aziz dan Amrita sedang menikmati hidangan malam di Pancious Pancake House. Dan tak lupa mengambil gambar sebagai momen kebersamaan mereka. Lalu menguploadnya di story watshap dan akun lainnya. Setelah makan malam, Aziz mengajak istrinya ke Pantai Losari. Dan kini, keduanya sedang dalam perjalanan ke Losari.
"Mas, terima kasih" ucap Amrita tersenyum.
"Mas yang seharusnya berterima kasih, Sayang. Kamu istri yang paling sabar dan paling dewasa. Bahkan kamu lebih dewasa daripada Mas" jelas Aziz.
Ting! satu notifikasi masuk di ponsel Amrita. Amrita tersenyum membaca pesan yang baru saja masuk. Lalu membalasnya. "Terima kasih karena kakak sudah memberitahuku. Aku pasti berhati-hati"
Aziz melirik istrinya. "Ada apa?" tanya Aziz.
"Mbak Safira, Mas. Dia membayar orang lain untuk memberiku pelajaran. Sayangnya, orang yang dia bayar adalah seniorku saat aku masih suka ikut tawuran" balas Amrita.
"Apa dia sudah gila!" umpat Aziz.
"Mas, ada gunanya juga ya aku nakal. Banyak orang jahat yang aku kenal" ucap Amrita lalu terkekeh.
Aziz yang tadinya marah kembali tertawa. "Hahahaha. Di saat seperti ini pun kau masih bercanda" balas Aziz.
--
Aziz memakirkan mobilnya di parkiran yang ada di area Pantai Losari. Lalu dia dan istrinya turun dan duduk di bagian mesjid. Keduanya duduk sambil menikmati snack chitato.
"Mas, jujur saja ya, sebenarnya aku tidak takut sama Mbak Safira. Hanya saja, hidup kita tidak akan tenang bila terus dihantui oleh niat jahatnya. Apa Mas mau kita pindah dan merantau di Kota lain?" tanya Amrita sembari menatap air laut.
"Mas setuju. Lalu bagaimana dengan kuliahmu. Apa kau mau memulai dari awal lagi?" tanya Aziz.
"Aku siap memulai dari awal, Mas. Mumpung aku baru semester satu" balas Amrita.
"Ya sudah. Besok pagi Mas akan bicarakan hal ini dengan Direktur Rumah Sakit" ujar Aziz tersenyum. "Ayo kita berkeliling" ajak Aziz sambil menggandeng tangan istrinya.
Aziz dan Amrita menelusuri Pantai Losari bersamaan dengan pengunjung lainnya. Di sana, banyak muda mudi, orang tua bahkan anak kecil. Semuanya terlihat bahagia menikmati suasana indah dan ramainya pantai losari.
"Mas, kapan-kapan kita pergi di pulau yang di depan sana ya" ujar Amrita sambil menunjuk pulau Lae-Lae.
"Iya Sayang. Akhir pekan nanti kita pergi ke sana. Sekalian kita camping di sana" balas Aziz tersenyum.
__ADS_1
"Amrita... Aziz..." panggil Madania yang barusaja datang bersama Aher.
Amrita dan Aziz menoleh ke arah suara. Keduanya tersenyum melihat Aher dan Madania yang sedang menghampiri mereka.
"Kalian dari tadi di sini?" tanya Madania.
"Sekitar dua puluh menit lah" balas Amrita.
"Lumayan lama" ucap Madania. "Oh ya, ayo kita cari tempat duduk. Aku lelah jika harus berdiri" ajak Madania.
Aziz menggandeng tangan istrinya. Sedangkan Aher menggandeng tangan Madania. Mereka berempat duduk di bagian tulisan Pantai Losari. Sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang.
"Kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Aziz kepada Aher dan Madania.
Aher terkekeh. "Kamu tahu sendiri kan Madania berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sangat di segani orang-orang. Aku masih berusaha mengumpulkan uang, agar aku layak bersanding dengan Madania" jelas Aher.
"Apa itu syarat yang diberikan oleh kedua orang tua Madania atau kau sendiri yang tidak berani melamarnya?" tanya Aziz lagi.
"Aku yang tidak berani" balas Aher tersenyum.
"Dasar Om payah" gumam Amrita hampir tak terdengar.
"Oke, kita lihat saja nanti. Pekan depan, aku akan datang melamarmu" ujar Aher tersenyum.
---
Pukul dua belas malam, Aziz dan Amrita kembali ke rumah, begitupun dengan Aher dan Madania. Dalam perjalanan pulang, Amrita kembali tertidur di dalam mobil.
"Aku tahu kau takut. Tapi kau melawannya agar orang lain tidak menganggap remeh dirimu" batin Aziz.
Aziz memakirkan mobilnya di garasi. Lalu ke luar menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dengan pelan, Aziz membaringkan istrinya di tempat tidur. Tak lupa ia melepas sepatu kets yang dikenakan istrinya. Kemudian menutup sebagian tubuh istrinya dengan selimut.
"Selamat tidur sayang" ujar Aziz sambil mengecup istrinya dan ikut berbaring di sisi sang istri.
---
Usai sholat subuh, Aziz turun ke lantai satu. Ia mengambil pakaian kotor lalu memasukannya ke dalam mesin cuci. Menghidupkan mesin cuci, mengisi deterjen, menyalakan air lalu menutup mesin cuci. Kemudian ke dapur membuka kulkas dan mengeluarkan ikan mentah serta sayur buncis yang sudah di potong-potong kecil. Dan tak lupa menyiapkan bumbu untuk ikan dan sayur yang akan ia masak pagi ini.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit Aziz berkutak di dapur, kini masakannya sudah matang. Pagi ini ia berencana membawa bekal agar ia bisa makan di ruangannya tanpa harus ke kantin. Makanan yang ia bawah pun hanya sedikit, cukuplah untuk dia seorang.
"Mulai sekarang aku akan membawa bekal ke rumah sakit" gumam Azi.
Setelah menyajikan makanan di atas meja. Aziz membersihkan ruangan. Mulai dari lantai satu hingga lantai dua. Hitung-hitung ia sedang berolahraga pagi. Usai membersihkan ruangan lantai satu dan dua, Aziz kembali mengeluarkan pakaian dari mesin cuci lalu menjemurnya.
Di kamar, Amrita mengerjap saat sinar pagi mengenai wajahnya. Ia merenggangkan otot-ototnya sembari mengumpulkan nyawanya. Lalu menggeser selimut dan turun dari ranjang.
"Mas..." panggil Amrita sambil keluar dari kamar.
"Iya Sayang... Mas lagi jemur pakaian ni..." sahut Aziz.
"Jangan bilang Mas Aziz yang membersihkan seluruh ruangan ini. Pantas bersih" gumam Amrita. Lalu menghampiri suaminya di depan rumah.
"Kamu sudah bangun Sayang. Oh ya, mulai hari ini kita ubah cara hidup kita. Jika biasanya kita sarapan pagi hanya kue dan teh atau kopi, maka mulai hari ini kita harus makan makanan berat sebelum ke tempat kerja atau kuliah" jelas Aziz.
"Iya, Mas" balas Amrita sambil membantu suaminya menjemur pakaian.
Usai menjemur pakaian, Aziz dan Amrita kembali ke dalam rumah. Keduanya duduk di kursi dan mulai makan pagi. Pagi ini di mulai dengan menu ikan goreng, sayur buncis, sambal dan nasi.
"Mas, pagi ini aku ke kampus sekitar jam sepuluh" ujar Amrita.
----
Perumahan Spindleswood Mansion
"Beraninya kau menipuku Saiful!!" pekik Safira.
Prank...!! Prank...!! Serpihan vas bunga berserakahan di lantai. Safira membuang vas bunga yang ada di rak bunga minimalis.
"Kau sudah mengambil uangku dan kau juga menipuku!" umpat Safira.
Ting!! Satu notifikasi masuk di ponsel Safira. Safira mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang masuk dari Amrita.
"Sudah ku katakan, Mbak mencari lawan yang salah. Aku bisa melapormu ke polisi, Mbak. Tapi aku masih punya belas kasihan padamu. Jika Mbak tidak ingin masuk penjara, lebih baik sekarang Mbak berhenti mengganggu rumah tanggaku" Amrita.
"Apa kau pikir aku takut padamu? Tidak sama sekali! Lapor saja jika kau punya bukti" Safira.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saya lagi kurang sehat. Tadi beli ikan goreng dan ternyata ikannya gatal hingga bikin pusing setelah makan. 😭😭 Mau minum obat tapi lagi hamil 😌