Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 32


__ADS_3

"Dek, besok kamu ajak Nurin dan Nada bermalam di rumah. Besok pagi kakak harus ke Jogja bersama rekan kerja yang lain. Ada urusan di sana" kata Fattan sambil mengelus rambut istrinya yang tengah berbaring di ranjang.


Sakia menatap Fattan sekilas. "Berapa hari?" tanya Sakia.


"Nggak lama, hanya satu minggu" jawab Fattan. Sakia memelas. Rasanya dia tidak rela jika suaminya pergi.


"Nanti Kakak sering telepon" sambung Fattan. Sakia tersenyum lega.


"Ayo kita tidur" ajak Fattan. Mendekap istrinya dalam pelukan hangatnya.


......🍁🍁......


Pagi hari, Fattan dan Sakia sedang dalam perjalanan ke Bandara. Mereka mengendarai mobil milik Fattan yang nantinya akan dibawa pulang oleh Sakia. Sakia melirik suaminya, bohong bila dia bilang baik-baik saja. Karena kenyataannya, wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Entah kenapa, dia merasa cemas dan ingin mencegah suaminya pergi.


"Kakak, apa nggak bisa ditunda?" tanya Sakia.


"Nggak bisa, Dek. Kakak ke sana bukan hanya sendiri, tapi sama rombongan dokter lainnya" jawab Fattan.


Beberapa belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Fattan memasuki area Bandara. Fattan memarkirkan mobilnya di parkiran mobil. Dia dan Sakia pun turun. Fattan membuka bagasi mobil, mengambil tas ranselnya, lalu menghampiri istrinya.


"Ayo" ajak Fattan. Dia dan Sakia ke terminal keberangkatan dan bergabung dengan rombongan.


Sakia menggenggam erat tangan suaminya. Fattan yang menyadari genggaman tangan istrinya berbeda, dia menatap istrinya. "Dek, kamu baik-baik saja kan?" tanya Fattan memastikan.


Sakia mengulas senyum. "Kia baik-baik saja, Kak" jawab Sakia.


"Tunggu Kakak pulang ya. Jangan nakal-nakal. Jaga hati jaga mata. Hehehehe" kata Fattan terkekeh.


"Dok, ayo kita masuk ke dalam" ajak salah satu dokter yang juga ke Jogja.


"Ah iya" balas Fattan tersenyum. Lalu kembali menatap istrinya.


"Kakak check in dulu. Kia bawa mobil hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebut. Patuhi lalu lintas biar aman dan selamat" kata Fattan mengingatkan.


Sakia mengangguk. Lalu mencium tangan suaminya. "Kakak, jangan lupa kabarin Kia kalau udah sampai" kata Sakia.

__ADS_1


Fattan tersenyum lalu mengantri masuk ke dalam Bandara untuk melakukan check in. Setelah Fattan sudah berada di dalam Bandara, tepatnya di tempat check in, Sakia kembali ke parkiran mobil lalu masuk ke dalam mobil.


"Apa seperti ini rasanya ditinggal suami" gumam Sakia sesenggukan.


Ting!!


Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Sakia. Sakia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sakia terisak, namun ia bahagia membaca pesan masuk dari suaminya.


"Jangan menangis ya. Jaga kesehatan, dan jangan telat makan, nanti Kia sakit. Kalau Kia nggak jaga kesehatan, siapa yang akan merawat Kia di rumah. Mis you sayang (Smile love)"


Sakia menghidupkan mesin mobil dan mulai mengendarai mobil suaminya. Dalam perjalan pulang, dia terus mengingat suaminya. Seakan penyesalan tentang sikapnya yang galak, sewaktu awal menikah membuatnya sedikit menyesal. Hanya sedikit, tidak sepenuhnya dia menyesal.


Andai dia tidak bersikap tegas dan selalu menyindir suaminya, maka bisa jadi dia tidak akan tahu perasaan suaminya yang sebenarnya. Itulah kenapa, dia tidak sepenuhnya menyesali sikapnya.


Setelah hampir empat puluh menit diperjalanan, akhirnya Sakia sampai di Butik Sakia Fashion. Wanita itu mengerutkan keningnya saat mendapati Nada menangis. "Dek, kamu kenapa?" tanya Sakia dengan hati-hati.


"Kakak, ada kabar duka juga kabar bahagia" jawab Nada.


"Maksudnya gimana? Jujur Kakak nggak paham" kata Sakia.


"Kabar buruknya?" tanya Sakia penasaran.


"Kabar buruknya, ternyata Kak Ferri ke kampung untuk melamar ku. Huuuuuu... Huuuuuu" Nada menangis. " Mama mengira aku pacaran di sini. Mama memintaku pulang" jelas Nada dan terus menangis.


"Bukankah bagus bila Ferri melamar mu. Kamu pernah kan bertemu keluarganya. Kamu sudah tahu bagaimana dengan keluarganya" ujar Sakia yang memang sudah tahu tujuan Ferri mengikuti Alif.


Nada berhenti menangis. Dia menyeka bekas air matanya lalu terdiam sesaat. Secepat kilat ekspresi sedih menjadi tawa bahagia. "Kakak... aku akan menikah..." sorak Nada berhambur memeluk Sakia.


Sakia terkekeh. "Jadi kapan kamu pulang?" tanya Sakia melerai pelukannya.


Nada berpikir keras. "Menurut Kakak bagusnya kapan?" tanya Nada meminta saran.


"Kalau menurut Kakak sih tunggu keputusan dari keluarga Nurin. Biar kalian bisa pulang bareng. Ingat! Bila hatimu benar-benar yakin pada Ferri maka terima dia sebagai imam mu. Ferri orangnya baik, bila dia sudah memutuskan untuk melamarmu tanpa mengajakmu taaruf itu tandanya dia percaya, bahwa kamu bisa menjadi istri yang baik, sekaligus Ibu yang baik untuk anak-anaknya di suatu hari nanti" nasehat Sakia.


"Kakak, apa ini yang dimaksud Tante Sukma" kata Nada lalu menceritakan obrolannya dengan orang tua Ferri.

__ADS_1


"Nah, itu buktinya Ferri sudah memberitahu Ibunya dan Ibunya sudah setuju" jelas Sakia.


"Dek, kalau kamu ragu, kamu bangun shalat di sepertiga malam minta petunjuk pada Allah" ujar Sakia mengingatkan.


Nada tersenyum mengangguk. Dia akan meminta petunjuk pada Allah. Dilamar tiba-tiba rasanya seperti mimpi indah. Terlebih lagi itu lamaran pertama dalam hidupnya.


"Ternyata Kak Ferri nggak bercanda dengan ucapannya. Ya Allah, semoga dialah jodohku yang tertulis di lauhul mahfudz. Aamiin" batin Nada.


......🍁🍁......


Malam telah tiba, Nada dan Nurin menemani Sakia di rumah. Ketiga wanita cantik yang terlihat seperti kakak beradik itu sedang menonton kajian yang dibawakan oleh salah satu ustadz terkenal, mereka nonton lewat aplikasi youtube.


Drrrrrttt... drttttt...


Kring kring...


Ponsel Sakia dan Nurin bergetar dan berdering bersamaan. Nurin dan Sakia saling tatap lalu tertawa. Keduanya mengambil ponsel mereka kemudian menerima panggilan telepon.


"Dek, Kakak ke kamar sebentar ya" pamit Sakia karena yang menghubunginya adalah Fattan, suami tercintanya.


Sesampainya di kamar, Sakia menjawab salam suaminya. "Gimana kabar? Kakak udah makan?" tanya Sakia.


"Alhamdulilah baik. Kia gimana? Nggak nangis lagi kan?" tanya Fattan. Dia yakin, istrinya itu pasti merindukannya. Sakia terdiam. Dugaan suaminya benar, Sakia sangat merindukannya.


"Nggak lama lagi Kakak pulang. Kalau Kia nggak bisa tidur, nanti Kakak telepon di nomor lama. Ada ponsel Nokia kecil di dalam laci yang di samping tempat tidur. Kakak sengaja nggak bawa. Kia bisa letakan ponselnya di samping Kia. Nanti Kakak temani hingga subuh" jelas Fattan.


"Beneran ya, Kak. Temani Kia sampai subuh" ujar Sakia.


"Iya. Kia nggak sendirian di rumah kan?" tanya Fattan.


"Nggak. Ada Nurin dan Nada di sini. Mereka tidur di kamar sebelah" jawab Sakia.


Sakia keluar dari kamar, berniat menemui Nurin dan Nada. Namun keningnya mengkerut saat melihat Nurin menangis. "Kakak, tunggu sebentar ya" kata Sakia pada suaminya.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Sakia pada Nurin.

__ADS_1


__ADS_2