Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 15


__ADS_3

"Om Aziz" gumam Amrita. Matanya mulai berkaca kaca.


Aziz menatap manik mata istrinya yang sudah dipenuhi dengan bulir air mata yang siap untuk jatuh. "Ayo ke mobil" kata Aziz.


Amrita mengikuti langkah kaki suaminya lalu masuk ke dalam mobil. Ia terisak saat sudah duduk di dalam mobil. "Om" panggil Amrita sesegukan. "Maafkan aku" ujarnya.


Aziz semakin bingung. Ia ingin memeluk istrinya, namun niatnya ia urungkan saat ia mengingat kalimat permintaan istrinya sebelum mereka menikah. "Apa ada yang melukaimu?" tanya Aziz. Keduanya duduk di dalam mobil yang terparkir dipinggiran jalan dekat kantor pengadilan agama.


Amrita menggeleng. "Tidak ada" jawabnya singkat.


Aziz menautkan keningnya. "Lalu apa yang membuatmu datang mencariku? Apa uang yang di ATM sudah habis?" tanyanya lagi.


Amrita kembali menggeleng. Aziz kembali dibuat bingung. "Lalu apa yang membuatmu datang mencariku?" tanya Aziz untuk yang ketiga kalinya.


"Ayo kita pulang, pulang ke rumah" kata Amrita. Ia menatap sayu suaminya.


Aziz mengangkat alisnya sebelah. "Jangan bercanda Amrita. Aku mengenalmu walaupun pertemuan kita belum lama" ujar Aziz.


Amrita menghela napas kasar. "Lupakan saja" kata Amrita.


Aziz menghela napas panjang. Ia menyalakan mesin mobil menuju kontrakannya. Amrita menautkan keningnya saat melihat suaminya masuk ke dalam kompleks Hartako Jaya.


"Om, kenapa kita ke Hartako Jaya?" tanya Amrita.


Aziz tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia menepikan mobilnya di samping Rumah Makan Mas Eki. "Kamu mau makan apa?" tanya Aziz menatap istrinya.


"Nasi goreng biasa" balas Amrita tanpa menatap suaminya.


"Tunggu di dalam mobil" kata Aziz. Aziz membuka pintu mobil menghampiri pegawai rumah makan Mas Eki. "Mas, pesan nasi goreng dua. Dibungkus ya" ujarnya.


"Baik Mas" balas salah seorang pegawai RM. Mas Eki.

__ADS_1


Aziz duduk di kursi yang disediakan dalam rumah makan. Ia duduk sembari memperhatikan pegawai yang sedang memasak nasi goreng yang ia pesan. Tak membutuhkan waktu lama, pesanan pun jadi.


"Mas, ini pesanannya" kata pegawai RM sembari menyerahkan nasi goreng yang sudah terbungkus.


"Berapa totalnya, Mas?" tanya Aziz.


"26 ribu, Mas" balasnya dengan senyum ramah.


Aziz mengeluarkan uang 20 ribu dan uang 10 ribu dari saku celannya. "Ambil saja kembaliannya, Mas. Saya permisi dulu" kata Aziz lalu masuk ke dalam mobil.


Aziz memakirkan mobilnya digarasi pondok MB 2. Ia membuka pintu mobil lalu ke luar dari dalam. Langkahnya terhenti saat istrinya tak kunjung turun dari mobil. Dengan napas berat, Aziz menghampiri istrinya.


"Kamu tidak mau ke luar?" tanya Aziz saat pintu mobil terbuka.


"Jawab dulu, kenapa Om memakirkan mobil di sini?" tanya Amrita menatap kesal suaminya.


"Bagaimana kamu mau tahu kalau kamu hanya duduk di dalam mobil. Ayo cepat turun, aku sudah sangat lapar" balas Aziz.


Amrita ke luar dari mobil. Ia berjalan mengekori suaminya. Langkahnya terhenti di depan kamar nomor 10. Saat pintu kamar sudah terbuka, Amrita ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


Amrita melihat lihat disekeliling. Pandangannya terhenti dibingkai foto yang ada di atas nakas. Ia melangkah menghampiri bingkai foto tersebut. Saat hendak mengambilnya, Aziz lebih dulu mengambilnya lalu meletakannya di dalam nakas.


"Om, itu foto siapa?" tanya Amrita. Entah kenapa, hatinya terasa sakit saat melihat foto seseorang yang ia sendiri tidak tahu siapa wanita itu.


"Kamu tidak perlu tahu itu. Sekarang ambilkan aku piring dan sendok" kata Aziz.


Dengan rasa sakit dan rasa kecewa, Amrita mengambilkan piring dan sendok. Ia membuka bungkusan nasi goreng yang suaminya pesan. Aziz beranjak dari tempat tidur mengambil tempat dilantai berhadapan dengan istrinya.


"Ayo makan" ajak Aziz saat Amrita tak kunjung menyentuh makanannya.


"Hmmm" hanya itu balasan yang ke luar dari mulut Amrita. Amrita mengambilkan air minum untuk suaminya. Setelah selesai, ia memakan nasi goreng miliknya. Tak memutuhkan waktu lama, keduanya pun selesai makan.

__ADS_1


Amrita mencuci piring dan gelas kemudian meletakannya di rak piring. Sedangkan Aziz, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Saat hendak menutup mata, terdengar dering ponsel milik Aziz. Aziz melihat layar ponselnya, senyum terukir diwajahnya saat ia melihat nama seseorang yang pernah singgah dalam hatinya dan pikirannya.


"Assalamualaikum. Apa kabar dan kenapa kamu baru memberiku kabar? Kamu di mana sekarang?" tanya Aziz dengan senyum mengembang. Mendapatkan panggilan telepon dari Anaya membuatnya lupa akan rasa sakit yang Anaya torehkan padanya. Entahlah, apa itu tandanya ia masih mengharapkan Anaya atau apa. Lagi lagi, cinta membuatnya butah dan lupa segalanya.


Deg!! Hati Amrita bagaikan disayat. Entah rasa sakit yang hadir karena rasa sayang dan cintanya mulai tumbuh atau karena apa. "Lebih baik aku pergi dari sini dan dari perumahan" batinnya.


Amrita mengambil tas kecilnya, ia berjalan ke luar dari dalam kamar. Sepanjang jalan, Amrita terlihat melamun dan hampir saja ia ditabrak mobil.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja" kata seorang wanita yang hampir menabrak Amrita.


"Dia sangat cantik dan penampilannya membuktikan bahwa dia juga sangat pintar" batin Amrita menatap wanita yang kini meminta maaf padanya.


"Tidak apa-apa mbak, aku yang salah karena tidak melihat lihat saat menyebrang" kata Amrita. Setelah meminta maaf, Amrita menghentikan angkot yang beroperasi di pasar sentral. Jika ia naik angkot yang beroperasi di pasar sentral maka ia bisa turun di Rumah Sakit Awal Bros.


Dalam perjalanan, Amrita terus menerus membayangkan senyum suaminya saat mendapatkan panggilan dari wanita yang sangat ia cintai sekaligus wanita yang membuat dirinya hancur. "Sebegitu cintanya Om Aziz pada Kak Anaya hingga penghianatan ia terimah" batinnya.


"Mbak, mbak mau turun di mana?" tanya supir angkot.


"Di depan Rumah Sakit Awal Bros, Pa" balas Amrita.


"Sudah sampai dari dua menit yang lalu Mbak" kata Pa supir angkot.


"Astagfirullah. Maafkan aku Pa, aku terlalu banyak menghayal" balas Amrita lalu mengeluarkan uang 10 ribu. "Ambil saja kembaliannya, Pa" ujarnya. Amrita menyebrangi jalan, pandangannya buram saat ia berada digaris putih dan ia pun jatuh pingsan.


...---...


Malam hari. Amrita mengerjap, ia melihat disekeliling. Berulang kali ia mengerjap untuk memastikan apa yang ia lihat. "Ternyata aku di rumah sakit" gumamnya. Suara pintu terbuka, ia menoleh menatap ke arah suara.


"Om Aziz dan wanita itu. Bukanka itu wanita yang tadi hampir menabrakku" batin Amrita.


Aziz dan Anaya berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Amrita. Anaya langsung menghampiri Amrita sementara Aziz memilih ke kamar mandi sebentar. "Jadi kamu adik sepupu Aziz yang dari kampung" ujar Anaya seraya tersenyum pada Amrita.

__ADS_1


"Adik sepupu? Jadi Om Aziz mengakuiku sebagai adik sepupunya" batin Amrita. Amrita menguatkan hatinya, ia berusaha untuk tersenyum.


"Iya Kak. Kakak pasti Kak Anaya" kata Amrita tersenyum ramah. "Kuatkan hatiku ya Allah" batinnya.


__ADS_2