
Beberapa bulan kemudian
Amrita dan teman-temannya berdiri di depan Auditorium. Ia mengenakan rok hitam dan jas hitam. Di bahunya ada selempang warna hitam bergerigi. Di bagian tengah terdapat tulisan nama, Amrita Venisa S. Farm. Menandakan bahwa dirinya baru saja selesai menyelesaikan ujian tutup sebelum waktunya.
"Selamat sahabatku" ucap Hanin memeluk erat sahabatnya.
"Terima kasih, Hanin" balas Amrita tersenyum.
Satu persatu teman sekelas dan teman seangkatan memberi ucapan selamat kepada Amrita. Bahkan seniornya di beskem Mapala menyempatkan waktu untuk datang melakukan foto bersama dengan wanita tangguh yang mereka kenal. Beberapa menit setelahnya, mobil silver berhenti di depan Auditorium. Dilihatnya Aziz ke luar menghampiri istrinya.
"Mas, ujian tutupnya lancar" ucap Amrita meneteskan air mata bahagia.
"Alhamdulilah. Mas turut bahagia. Selamat untuk pencapaian gelar S. Farm nya istriku" ucap Aziz sembari menyerahkan buket bunga mawar di depan semua orang yang ada di situ.
"Terima kasih, Mas" kata Amrita tersenyum lebar.
"Sama-sama Sayang. Oh ya, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Sepertinya Mahdania akan melahirkan" jelas Aziz.
Amrita menatap semua sahabat, teman dan seniornya. Dia tidak tega meninggalkan mereka namun tetangganya juga sedang berjuang antara hidup mati dan mati. "Maafkan aku, aku harus pergi sekarang" kata Amrita pada teman-temannya.
"Tidak apa-apa, Amrita. Nanti kapan-kapan baru kita rayakan hari bahagia ini" balas Kak Farid.
"Ayo, Mas" ajak Amrita sambil menggandeng tangan suaminya setelah mendengar balasan dari teman-temannya.
Di dalam mobil, Amrita menghidupkan layar ponselnya. Lalu mengirim permintaan maaf di semua groupnya. Mulai dari group Alumni SMK, goup Mipa Farmasi, group Mapala dan group anak jalanan. Selang beberapa puluh detik, ia mendapatkan balasan dari beberapa group di Aplikasi whatsapp-Nya.
"Alhamdulilah. Mereka semua tidak marah" gumam Amrita.
--
Rumah sakit
Setibanya di rumah sakit, Aziz dan Amrita bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Aziz menuntun istrinya ke ruang persalinan. Di depan ruang persalinan, ada orang tua Mahdania dan orang tua Aher. Sementara Aher berada di dalam ruang persalinan menemani istrinya.
__ADS_1
"Tante, bagaimana keadaan Mbak Nia sekarang?" tanya Amrita dengan cemas.
"Kami belum tahu, Nak. Belum terdengar tangisan bayinya di dalam" balas Tante Amma, Mama kesayangan Aher.
Di dalam ruang persalinan, Aher menggenggam erat tangan istrinya. Pelu keluar tanpa izin, membanjiri wajah istrinya. Bahkan Aher bisa merasakan bagaimana dinginnya tangan sang istri.
"Kamu yang kuat ya, Da" bisik Aher.
Kedua netra matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya pria itu tidak sanggup berada di dalam ruang persalinan.
"Akk...!!" teriak Mahdania saat sesuatu di bawah sana perlahan turun.
"Sedikit lagi, Bu. Rileks dan jangan takut" kata Ibu bidan. "Tarik napas dan hembuskan perlahan. Biarkan tubuh rileks ya, Bu" katanya.
Di depan ruang persalinan, Pa Zainal dan Pa Hamdi terlihat mondar mandir. Begitupun dengan Tante Amma dan Tante Lista. Mereka juga nampak cemas. Sementara Aziz dan Amrita duduk di kursi yang ada di depan ruang bersalin. Kedua pasangan itu tak henti-hentinya berdoa.
"Oek... oek... oek..." tangis baby girl terdengar di dalam ruang bersalin.
"Akhirnya kita menjadi Kakek dan Nenek Pa" ungkap Tante Amma sambil memeluk suaminya, Pa Zainal.
Beberapa tenaga medis pria masuk ke dalam ruang persalinan. Hal itu membuat keluarga Aher dan Mahdania nampak takut. Selang beberapa menit, para petugas tadi keluar sambil mendorong brankar rumah sakit. Di mana Aher tergelatak di atasnya.
"Apa yang terjadi padanya, Mas?" tanya Aziz pada petugas medis. Sementara orang tua Aher menangis melihat anak mereka tidak sadarkan diri.
"Dokter Aher pingsan, Dok" balas salah seorang petugas. Lalu membawa Aher ke ruang perawatan yang di susul oleh Tante Amma. Selang beberapa puluh detik, seorang bidan keluar sambil menggendong baby girl dan membawanya masuk ke ruang NICU.
"Mas, kenapa baby nya di bawah di ruangan ini?" tanya Amrita berdiri di depan ruang NICU.
"Karena baby nya terlahir dengan berat badan rendah. Ada juga faktor lain, tapi sepertinya berat badan rendah. Coba kamu lihat, kecil sekali" jelas Aziz lalu menunjuk baby girl.
"Ayo kita temui Aher dan Mahdania. Sepertinya mereka di rawat di ruangan yang sama" ajak Aziz sambil menggandeng tangan istrinya.
VVIP
__ADS_1
Di ruang VVIP, Mahdania sedang berbaring di hospital bed. Di sampingnya, ada Aher yang juga terbaring di hospital bed. Pria dewasa nan manja itu belum juga sadarkan diri. Entah sudah berapa lama dia terbaring di sana.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
Aziz membuka pintu lalu menutupnya kembali setelah istrinya masuk. Keduanya menghampiri Mahdania dan Aher. Sementara di sofa, dua pria paruh baya dan dua wanita paruh baya sedang duduk bercerita.
"Mbak Nia, bagaimana keadaan Mbak?" tanya Amrita.
"Alhamdulilah. Aku baik-baik saja, Dek" balas Mahdania tersenyum. "Selamat ya. Akhirnya kamu terlepas juga dari dunia kampus" sambungnya.
"Wah. Jadi kamu baru selesai ujian tutup, Nak? timpal Pak Zainal yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Mahdania dan Amrita.
"Iya, Om" balas Amrita tersenyum.
"Alhamdulilah. Om turut bahagia. Allah memberimu suami yang baik, anak kembar yang pandai dan sekarang kamu menggapai cita-citamu. Hubungi Om jika kamu butuh sesuatu" kata Pa Zainal.
-
Aher mengerjap berulang kali. "Mama, Papa" panggilnya.
Tante Amma dan Pa Zainal beranjak dari sofa, berlari menghampiri anak mereka. "Sayang, akhirnya kamu sadar juga" kata Tante Amma meneteskan air mata bahagia.
"Papa. Istri dan anakku baik-baik saja kan?" tanya Aher tanpa menoleh di sampingnya. Sementara Mahdania menahan tawa.
"Anak dan istri kamu baik-baik saja. Kamu sih! Jadi laki-laki kok lembek bangat. Istri yang melahirkan kamu yang pingsang" ngomel Pa Zainal yang disambut tawa oleh yang lain.
Aher tersenyum malu dan berusaha untuk duduk. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya melihat wanita pujaan hatinya sedang berbaring menatapnya.
"Da, aku janji padamu. Aku akan menjagamu dan juga anak kita" kata Aher. Lalu menatap mamanya. "Mama, maafkan aku yang kadang tidak nurut. Aku menyaksikannya sendiri, bagaimana Mahdania menjerit kesakitan" sambungnya meneteskan air mata.
Aziz yang sementara duduk di samping Aher melirik istrinya yang kini hanyut dalam kalimat yang diucapkan Aher.
"Mahdania melahirkan satu anak dengan bantuan bidan. Dan Amrita, melahirkan dua anak tanpa aku dan orang lain. Ya Allah, apa perhatianku selama ini kurang. Benar kata Ibu, aku suami yang tidak romantis. Aku membahagiakan istriku hanya dengan uang. Aku tidak membahagiakan dia dengan perhatian. Mulai sekarang, aku akan menjadi suami yang romantis. Melebihi keromantisan Papa dan Ibu" batin Aziz.
__ADS_1