Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Boncap_Hanya Amrita seorang


__ADS_3

Pukul 21:02 PM


Fattan dan Fadila tertidur setelah dibacakan dongeng oleh Papa Aziz. Setelah kedua anaknya tidur, Aziz turun dari tempat tidur melangkah ke balkon. Pria itu menatap rintikan hujan yang sejak tadi mengguyur kota Makassar.


"Aku bisa memberikan mereka kasih Sayang seorang Ibu tanpa mendatangkan Ibu yang baru. Memandikan anak-anak, membantu mereka mengenakan pakaian, menyiapkan makanan, menemani mereka tidur dan mendidik mereka. Bukankah semua itu bisa kulakukan. Lalu kenapa aku harus menikah lagi" gumam Aziz.


"Sekalipun Amrita sudah tiada, aku tidak akan membagi cinta ini untuk wanita lain. Amrita, istriku. Sampai kapanpun, hati ini hanya ada kamu seorang. Jikapun ada yang lain, maka itu anak-anak kita" batin Aziz.


"Papa" panggil Fadila saat tidak melihat Papa Aziz di sampingnya. Panggilan Fadila membuyarkan lamunan Aziz. Pria itu bergegas ke kamar menghampiri putrinya.


"Ada apa Sayang? Apa kamu mimpi buruk?" tanya Aziz mengambil tempat di samping putrinya.


"Nggak. Papa, jangan bersedih. Nanti Mama sedih juga. Ayo kita tidur" kata Fadila menatap sendu Papanya. Seakan akan dia tahu apa yang dipikirkan Papanya.


Aziz menarik senyum. "Iya Sayang" balasnya.


Aziz mengelus kepala putrinya hingga putrinya tertidur. Merasa matanya mulai berat, ia pun ikut memejamkan mata. Suara tarhim di masjid membangunkan Aziz dan kedua anaknya. Mereka bertiga bangun mencuci muka, sikat gigi lalu mengambil air wudhu. Kemudian bersiap-siap shalat berjamaah di masjid.


...------...


Seperti biasa, Fadila dan Fattan akan duduk di atas tempat tidur dan membiarkan Papa Aziz melakukan tugasnya. Yaitu menyisir rambut mereka dan mengoleskan bedak. Juga membantu kedua anaknya mengenakan sepatu sekolah.


"Baju, celana, jilbab, tas, sepatu dan bedak. Semuanya sudah selesai" ucap Fadila menatap tubuh mungilnya.


"Kakak juga sudah" kata Fattan menatap dirinya yang sudah siap dengan seragam dan serba serbi lainnya.


"Papa sini" panggil Fadila meminta Papanya mendekat. Aziz pun mendekat menuruti perintah putrinya.


"Rambut Papa kurang rapih" kata Fadila mengambil sisir lalu menyisir rambut Papanya hingga rapih. "Nah, ini baru rapih" sambungnya setelah menyisir rambut Papanya.


Aziz menarik senyum melihat model rambutnya di cermin. "Terima kasih putri Papa. Tambah pintar aja deh" goda Aziz.


"Sama-sama" balas Fadila.


"Papa, ayo kita berangkat ke sekolah. Nanti kami terlambat" ajak Fattan yang dibalas senyum oleh Aziz.


Aziz dan kedua anaknya keluar dari kamar lalu turun ke lantai satu menemui Mbak Ima di dapur. Di dapur, Mbak Ima sudah selesai menyiapkan bekal untuk Aziz, Fadia dan juga Fattan. Dengan menu seperti hari sebelumnya.


"Nenek Mbak. Mana bekalku?" tanya Fadila saat sudah berdiri di samping meja makan.


"Ini Sayang" balas Mbak Ima seraya mengambil tupperware warna pink dan memasukannya ke dalam tas punggung Fadila. Kemudian mengambil tupperware warna biru untuk Fattan dan memasukkannya ke dalam tas punggung milik Fattan.


"Salim dulu baru ke sekolah" titah Aziz pada kedua anaknya.

__ADS_1


"Hehehehe. Hampir lupa" cengir Fattan. Lalu meraih tangan Mbak Ima dan menciumnya. "Tangan Nenek Mbak bau selai nanas" ujarnya setelah mencium tangan Mbak Ima.


"Hahahahaha" tawa Mbak Ima dan Aziz. Bisa-bisanya Fattan mengklaim bau tangan Mbak Ima.


"Iya, tangan Nenek Mbak bau selai. Owww, aku tahu. Pasti bekalnya roti panggang selai nanas kan" timpal Fadila menuding Mbak Ima dengan senyum menyelidik.


"Hahahaha" tawa Mbak Ima. Wanita itu tidak bisa mengelak tudingan Fadila. Karena apa yang dikatakan Fadila itu benar. Ada roti panggang, sedikit nasi, sayur, serta telur caplok. "Iya, Nenek Mbak ngaku. Memang roti panggang selai yang Nenek Mbak isikan di dalam" ujarnya tersenyum.


Fadila dan Fattan tersenyum lebar. "Itu jauh lebih dari kata enak. Assalamualaikum Nenek Mbak" ucap Fattan dan Fadila kemudian menjauh dari dapur menuju pintu utama.


"Kami pergi dulu ya, Mbak. Assalamualaikum" ucap Aziz kemudian menyusul kedua anaknya.


"Waalaikumsalam" balas Mbak Ima. Wanita itu menghela napas melihat majikannya yang masih setia pada status dudanya.


Dalam perjalanan ke sekolah. Fadila dan Fattan menyanyikan lagu Amal apa yang mereka nyanyikan di sekolah bersama Bu guru.


🎶🎶


Amal apa. Amal apa, yang disukai Allah


Bersholatlah, bersholatlah, tepat pada waktunya


Apa lagi, apa lagi, yang disukai Allah


Apa lagi, apa lagi yang disukai Allah


Sholawatlah, sholawatlah pada Nabi Muhammad


Apa lagi, apa lagi yang disukai Allah


Berjuanglah, berjuanglah, berjuang di jalan Allah 🎶🎶


Sekolah PAUD


Seperti biasa, Ibu Guru Nafida akan menunggu Fattan dan Fadila di depan gerbang sekolah. Seulas senyum tersungging manis di bibir Nafida saat melihat mobil Aziz berhenti di depannya. Terlihat Aziz turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya.


"Papa, semangat kerjanya" kata Fadila menyemangati Papanya


"Jangan khawatirkan kami. Kami baik-baik saja di sekolah" kata Fattan tersenyum.


"Iya Sayang. Sekarang kalian ikut Bu Guru ya, Papa mau ke rumah sakit dulu" ucap Aziz yang dibalas anggukan oleh Fattan dan Fadila. Fadila dan Fattan mencium tangan Papa Aziz lalu menghampiri Bu Guru Nafida.


Aziz melajukan mobilnya setelah Nafida dan kedua anaknya masuk ke dalam gedung sekolah. Dalam perjalanan, Aziz mendapatkan panggilan telepon dari rumah sakit. Mereka memintanya datang secepatnya karena ada hal yang mendesak.

__ADS_1


"Bai, Pa" kata Aziz pada direktur rumah sakit.


Rumah sakit


Aziz memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Pak Berti yang melihat mimik wajah Aziz, pria itu tidak mengajak Aziz bercanda melainkan hanya menyemangati.


"Semangat, Dok" kata Pak Berti.


"Iya Pak. Bapak juga semangat!" kata Aziz tersenyum.


Dengan langkah dipercepat, Aziz berjalan masuk ke ruangannya, mengambil alat medisnya lalu berlari ke UGD. Pria itu di minta cepat-cepat datang karena ada beberapa pasien yang di bawah masuk dalam waktu bersamaan.


...ΩΩΩ...


Pukul 20:12 PM


Aziz baru saja tiba di rumah setelah seharian menjalankan tugasnya di rumah sakit. Dengan langkah dipercepat, ia menaiki anak tangga mencari kedua anaknya. Dilihatnya Fadila dan Fattan sedang duduk di atas tempat tidur menghadap pintu kamar.


Fadila dan Fattan mengukir senyum. "Papa, cepat mandi. Kami sudah siapkan baju tidur untuk Papa" kata Fattan.


"Oh ya, siapa yang membantu kalian?" tanya Aziz menghampiri kedua anaknya.


"Nenek Mbak" jawab Fadila. "Papa, cepat mandi. Papa bau obat" kata Fadila menutup hidungnya.


Aziz tertawa kecil. "Kalian tunggu Papa di sini ya. Papa mau mandi dulu" kata Aziz lalu mengambil baju tidur yang sudah disiapkan anaknya.


Beberapa belas menit kemudian, Aziz keluar dengan mengenakan baju tidur. Pria itu berjalan menghampiri kedua anaknya. "Apa kalian sudah makan?" tanya Aziz.


"Sudah makan tapi sedikit. Kami tunggu Papa biar kita makan bersama" jawab Fattan.


Aziz menarik senyum. "Ya sudah. Ayo kita pergi makan" ajak Aziz yang dibalas anggukan oleh Fattan dan Fadila.


Di meja makan, Fadila dan Fattan terdiam. Keduanya melirik Papa mereka. "Papa" panggil Fattan.


Aziz menatap kedua anaknya. "Ada apa? Kenapa kalian terlihat takut-takut?" tanya Aziz penasaran.


"Apa benar Papa akan menikah lagi?" tanya Fadila menunduk. Aziz terdiam. Entah siapa yang memberitahu Fadila dan Fattan tentang pernikahan yang tidak pernah terbesit dipikiran Aziz.


"Kalian nggak akan pernah memiliki dua Mama. Mama kalian hanya Mama Amrita, nggak ada Mama yang lain lagi. Dan Papa, Papa hanya akan memiliki satu istri, yaitu Mama kalian" jelas Aziz.


"Alhamdulilah. Kami nggak akan direbus. Papa, kata teman kami. Kalau Papa menikah lagi, maka kami akan direbus oleh Mama tiri. Kalau nggak direbus berarti kami akan disuru masak, menyetrika, cuci piring, cuci pakaian, ngepel dan masih banyak lagi. Kami nggak mau punya Mama tiri" lapor Fadila menceritakan cerita yang dia dengar dari teman barunya.


"Hahahahaha" Aziz tertawa lepas. "Dari seratus persen, hanya empat puluh persen yang benar. Selebihnya itu nggak. Nggak semua Mama tiri itu jahat. Dan sekalipun kalian minta Papa menikah lagi, Papa nggak akan pernah mau. Papa hanya mau Mama Amrita. Titik nggak pake koma" jelas Aziz.

__ADS_1


__ADS_2