
Pukul sepuluh malam. Dua dokter ganteng baru saja tiba di perumahan. Siapa lagi kalau bukan Aziz, si pria penakut dan Aher, si pria manja. Keduanya lembur hingga mereka harus pulang agak lambat. Mau diapa, itulah tugas yang tidak bisa ditinggalkan.
"Terima kasih untuk tumpangannya Aher manja" ucap Aziz tersenyum, sebelum keluar dari mobil.
"Sama-sama pria penakut" balas Aher meledek. Lalu keluar dari mobilnya. "Ziz, aku masuk duluan ya" sambungnya tersenyum.
"Iya. Hati-hati, Her. Ada meong-meong di dalam rumahmu" balas Aziz menakut nakuti sahabatnya.
"Mau aku masukin air garam di mulutmu!!" seru Aher dengan kesal menunjuk sahabatnya itu. Dan satu tangan memegang handle pintu.
"Kabur... Aher manja mulai kesal. Hahahaha" ucap Aziz berlari kecil menuju rumahnya.
Rumah Nomor A19
Cek-lek... (Pintu terbuka lebar)
Aziz masuk ke dalam rumah. Rumah nampak sunyi. Tak ada tanda-tanda kekehan ataupun suara sikecil Fattan dan Fadila. "Apa mereka sudah tidur" gumam Aziz.
"Atau mereka--" Aziz membulatkan mata, menepis prasangka buruknya yang tiba-tiba muncul.
"A-z-i-z... Aziz.. Hik... hik hik hik..." suara dan tawa yang begitu nyaring dari arah kamarnya.
Amrita yang sementara berada di kamar anaknya juga merasa takut. Dia yang tidak tahu suaminya sudah pulang, memilih mematikan leptopnya dan tidur memeluk kedua anaknya.
"Ya Allah, apa itu hantu Mbak Safira. Bukannya Mbak Safira udah lama meninggal. Kenapa hantunya baru gentayangan sekarang" batin Amrita.
"Ya Allah, lindungi aku dan anak-anakku ya Allah" gumam Amrita.
Sementara di depan pintu, Aziz melangkahkan kaki dengan pelan. Lampu rumah yang sejak tadi dimatikan, membuat Pria itu dilema untuk masuk ke dalam kamar. "Anak dan istriku ada di rumah, dan pasti mereka di kamar. Bagaimana mungkin aku lari sementara keluargaku dalam bahaya" batin Aziz.
"Hei setan!! Keluar kau dari tempat persembunyianmu!!" teriak Aziz dengan kuat namun kakinya gemetar.
"Itu suara Mas Aziz" gumam Amrita di dalam kamar. Lalu beranjak dari kasur sikecil. Dan tak lupa menyalakan lampu kamar utama.
Aziz melihat lampu kamar anaknya menyala, pria itu nampak lega. "Amrita, apa kau di dalam Sayang?" tanya Aziz sedikit memperbesar suaranya.
__ADS_1
"Iya, Mas" sahut Amrita. Lalu keluar dari kamar, menyalakan lampu ruang tengah menggunakan remot.
"Alhamdulilah. Sayang, mulai malam ini lampu rumah jangan dimatikan. Toh kita juga bayar uang listrik" ujar Aziz menghampiri istrinya. Nampak pelu begitu banyak yang keluar.
"Iya, Mas. Mas, tadi aku mendengar suara yang merinding gitu" ungkap Amrita.
"Aku juga mendengarnya" balas Aziz bergidik takut.
"Hahahahaha" Amrita tertawa lepas. Ada satu hal yang baru wanita itu sadari. "Mas, maafkan aku. Sebenarnya suara tadi adalah suaraku. Aku menjadikannya alaram untuk menakutimu. Tetapi aku pula yang ketakutan" ungkap Amrita.
"Astaghfirullah. Andai aku tidak memikirkan kalian bertiga, sudah aku tinggalin dari tadi" balas Aziz menggeleng mendengar pengakuan konyol istrinya.
Rumah nomor A20
Aher baru saja membersihkan tubuhnya. Pria itu tahu ini sudah larut tapi mau diapa, sang istri-Mahdania tidak mau tidur dengannya karena suaminya itu bau obat. Boleh dikata Aher tidak menyentuh obat. Mungkin saja karena ia memeriksa pasiennya hingga bau obat meresap di pakaian yang ia kenakan.
"Sayang, ayo kita tidur. Aku tidak bau obat lagi" ajak Aher menghampiri istrinya yang sedang duduk bersandar di sofa.
"Iya, By" balas Mahdania. Lalu beranjak dari sofa. Tendangan bayi dalam kandungannya semakin hari semakin terasa kuat, membuat wanita itu nampak senyam senyum.
Aher membantu istrinya berbaring. Dan tak lupa menutup sebagian tubuh istrinya. Lalu ia ikut berbaring disamping sang istri. "Da, dede bayinya aktif ya. Aku senang kamu dan dede bayinya sehat" ujarnya.
"Assalamualaikum anak Dady. Sehat-sehat ya di dalam sana. Mamy dan Dady menunggu kehadiranmu di dunia ini, Sayang. Menantimu menemani hari-hari kami. Hadirmu adalah kado terindah dalam pernikaham Mamy dan Dady. Selamat tidur anak Dady" ungkap Aher sembari mengelus perut istrinya.
"Selamat tidur istriku" sambungnya, mengecup puncak kepala istrinya dan mulai memejamkan mata. Tangannya ia letakkan di perut sang istri.
--
Pagi hari
Aher dan Mahdania sedang jalan pagi diarea perumahan. Begitupun dengan Aziz dan kedua anak kembarnya. Amrita tidak ikut karena Ibu dua anak itu harus memasak dan menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
"Assalamualaikum Fattan dan Fadila" ucap Aher, menyapa anak kembar Aziz.
"Waalaikumsalam" balas Fattan dan Fadila bersamaan.
__ADS_1
"Aduh... ponakan Tante udah tambah pintar. Udah bisa jawab salam ya sekarang" ucap Mahdania dengan gemes.
"Hahahaha" tawa Fadila dengan pelan namun menggemaskan.
"Oh ya Aziz. Beritahu aku jika nanti Amrita mau naik proposal ya. Aku mau belikan sesuatu untuknya" pintah Mahdania sembari memegang perutnya yang besar.
"Insya Allah. Nanti aku infokan" balas Aziz. "Tapi sepertinya sih nggak lama lagi, karena di pembimbing satunya udah Acc bersyarat" sambungnya.
"Semoga proposalnya cepat di Acc biar dia bisa lanjut penelitian. Aku sudah tidak sabar untuk menghadiri acara wisudanya Amrita dan Fakri" ujar Aher tersenyum lebar.
"Yang wisudah istrinya Aziz, kamu pula yang mau hadir di acara wisudanya" ujar Mahdania menggeleng heran.
"Hahahaha. Da, bukan hanya aku yang ke sana. Kamu pun harus ikut. Kita akan foto bersama di acara wisudanya Amrita dan Fakri. Kan kita keluarga, sekalian kita foto keluarga" jelas Aher terseyum.
"Benar juga, By. Berarti mulai dari sekarang kita cari-cari memang baju pasangan yang bagus" balas Mahdania.
"Aziz, apa kalian sudah memikirkan model baju yang mau kalian beli nanti?" tanya Mahdania.
"Rencananya sih mau ke tempat jahit baju. Biar
bisa buat untuk Fattan dan Fadila juga. Karena kalau pesan di Aplikasi, kadang ukurannya nggak sesuai. Tambah ribet nantinya" balas Aziz.
"Mama..." teriak Fattan saat melihat mamanya keluar dari pintu rumah.
Amrita tersenyum menghampiri putranya. "Jalan pagi sama dede bayi ya?" tanya Amrita, mengajak putranya berbicara.
"Dede, ja-lan" balas Fattan menunjuk perut Mahdania.
"Iya, Mama Amrita. Biar Dede bayi juga sehat seperti Kakak Fattan dan Kakak Fadila" timpal Mahdania tersenyum.
"Oh ya Mbak Nia, Om Aher. Tunggu di sini sebentar" pintah Amrita, berlalu masuk ke dalan rumah mengambil sesuatu. Selang beberapa menit, ia keluar membawa piring yang berisi kue cubit.
"Ini untuk kalian. Nggak tahu sih kalian suka apa nggak. Semoga saja suka" sambungnya sambil menyodorkan piring yang tadi berisi kue cubit.
"Sayang, apa kau tahu, itu kue kesukaan Aher. Aku hawatir dia tidak akan membanginya dengan Mahdania" timpal Aziz tersenyum. Sementara Aher membulatkan mata. Dan Mahdania, wanita itu terkekeh seraya menerima kue pemberian Amrita.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia Amrita. Aku, sekalipun doyan sama kue cubit, tapi aku masih ingat anak dan istriku. Bagaimana mungkin aku tidak berbagi dengan cinta dan buah hatiku" balas Aher percaya diri.
Untuk part keromantisan Aziz dan Amrita kita tunggu sampai Amrita selesai ujian sidang ya 😄😄