
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana harusnya Alm Amrita mengenakan toga dan baju wisuda. Namun siapa sangka, ajal lebih dulu menghampirinya sebelum toga di kepala. Dan kini, di rumah keluarga Pak Sofyan. Aziz membantu putranya mengenakan baju kemeja yang Alm sudah persiapkan sebelum Alm kembali menghadap sang pencipta.
"Papa. Apa aku cantik?" tanya Fadila berdiri dan tersenyum.
"Cantik bangat sayang" jawab Aziz tersenyum lalu mengecup pipi putrinya sejenak.
"Aziz, apa kalian sudah selesai?" tanya Tante Eka menaiki anak tangga menuju kamar putranya.
"Sudah Ibu" balas Aziz sedikit memperbesar suaranya.
Tante Eka berdiri di depan pintu. Menarik senyum indah saat melihat cucunya tersenyum sambil memainkan baju dress dan jilbab yang dikenakannya. Cantik dan menggemaskan. Dua kata untuk Fadila saat mengenakan dress navi dan jilbab navi.
"Subhanallah. Cucu Nenek cantik sekali. Siapa yang membantumu mengenakan jilbab itu?" tanya Tante Eka menghampiri cucunya.
"Papa" balas Fadila menyunggingkan senyum manisnya.
"Ibu, ayo kita ke bawah" ajak Aziz. Aziz menggenggam tangan Fadila dan juga Fattan. Menuntun keduanya turun dari tangga menuju lantai satu. Di lantai satu, Fakri sudah siap dengan baju wisudanya.
"Kakak, kenapa Kakak tidak mengenakan baju wisuda? Bukankah kakak bisa menggantikan Amrita" tanya Fakri. Semalam pria itu mendapatkan pesan dari dosennya. Kata sang dosen, suami Amrita bisa mengenakan baju wisuda dan toga Almarhum saat di acara wisuda nanti.
"Nanti saja" balas Aziz dengan santai.
Fakri mengangganguk. "Ya sudah. Ayo kita berangkat. Nanti kita terlambat" kata Fakri.
Aziz satu mobil dengan kedua anaknya sementara Ibu dan Papanya satu mobil dengan Mbak Ima dan Fakri. Dalam perjalanan, di dalam mobil yang dikendarai Aziz. Aziz tersenyum melihat kedua anaknya yang duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Tumben diam. Biasanya ribut" ucap Aziz tersenyum memecah keheningan.
"Nggak mau banyak gerak Pa. Nanti bedak kami luntur" balas Fadila.
"Kalau luntur nanti kami nggak cantik dan tampan lagi" timpal Fattan.
Kampus di Kota M
Aziz memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Mereka belum mau turun karena masih mau menunggu Fakri dan yang lain. Tak lama menunggu, Pak Sofyan memarkirkan mobilnya di samping mobil Aziz.
"Papa, ayo kita turun" ajak Fadila.
Aziz menghirup udara dalam-dalam. Mengumpulkan keberaniannya. Pria itu takut akan jatuh pingsan saat nama istrinya disebut. "Sayang. Aku datang mewakili kamu. Apa kau bahagia?" batin Aziz.
"Papa. Jika Papa tidak mau ya nggak apa-apa. Papa jangan sedih" kata Fattan tersenyum.
"Subhanallah. Andai saya di posisinya, saya tidak akan mampu hadir mewakili istri tercinta" ucap seorang pria yang tak lain adalah Kak Nuki.
"Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Namun kematian Amrita memberi luka yang mendalam. Bukan hanya pada keluarga tapi juga pada orang-orang yang mengenalnya. Dia tidak sakit, tapi tiba-tiba meninggal. Mau dia apa, itulah takdir yang sudah ditetapkan. Bahkan aku sendiri mengimpikan kematian yang seperti itu. Kematian tanpa menyusahkan orang-orang tersayang" timpal Ka Afifah.
...---...
Acara pun dimulai. Susunan acara satu persatu telah dilakukan. Nama-nama para mahasiswa satu persatu dipanggil untuk ke depan. Saat nama Amrita disebut, netra mata Aziz mulai berkaca-kaca namun pria itu berusaha untuk kuat hingga ia berdiri. Dan dengan gagahnya berjalan ke depan berjabat tangan dengan para dosen, rektor dan beberapa orang-orang berpangkat lainnya.
Teman sekelas dan seangkatan Amrita meneteskan air mata. Rasa sedih mengisi hati mereka. Terutama Anggi dan Nafisa. Dua wanita yang dibantu Amrita saat keduanya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan proposal dan skripsi.
__ADS_1
Pembawa acara mulai membacakan susunan acara selanjutnya yaitu acara penyerahan piagam kepada wisudawan/wisudawati terbaik. Dan Amrita salah satu mahasiswa lulusan terbaik dengan IPK 4,00. Hanya dia yang menempati IPK tertinggi dari semua jurusan dan fakultas.
"Amrita Venisa S.Farm" nama Amrita dipanggil untuk ke depan.
Aziz tak kuasa untuk berdiri lagi. Pria itu diam di tempat. Dan tanpa diperintah atau diminta, Fadila dengan santainya turun dari kursi lalu maju ke depan. Isak tangis terdengar keluar dari mulut rektor cantik yang bernama Alifa Amira Azma. Rektor yang masih muda itu merasa terharu dan juga sedih melihat gadis kecil maju ke depan, dengan mengukir senyum yang indah. Seakan-akan tidak ada kesedihan di wajahnya.
"Siapa namamu?" tanya Bapak Bupati yang sementara hadir di acara.
"Fadila Annisa Zakri. Aku anak Mama Amrita" balas Fadila.
"Dimana Mamamu?" tanya Pak Bupati lagi.
Fadila mengukir senyum indah dibibir mungilnya lalu menjawab. "Mama di surga. Mama sedang makan obat di sana. Kakek, apa aku tidak boleh berdiri di sini?" balas Fadila lalu bertanya dengan seriusnya.
Bapak Bupati meneteskan air mata seraya memasang selempang Cum Laude. "Ini untuk Mamamu. Kakek mau, kamu juga mendapatkan ini saat kamu sudah besar nanti" ucap Bapak Bupati.
"Iya, Kakek. Nanti aku belajar seperti Mama. Kakek, apa aku boleh duduk di tempatku tadi?" tanya Fadila.
"Silahkan sayang" balas Pak Bupati.
Fadila berlari kecil menghampiri Papa dan Kakaknya. Para orang tua yang hadir mendampingi anak-anak mereka, semuanya meneteskan air mata. Mereka merasa sedih melihat gadis kecil yang sudah ditinggal Mamanya.
"Papa. Mama dapat nilai bagus. Aku juga mau seperti Mama" ucap Fadila berdiri di hadapan Papanya.
"Banyak belajar jika mau seperti Mama" ujar Fattan.
__ADS_1
"Amrita. Hari ini adalah hari bahagiamu. Maafkan aku yang tadi tak mewakili mu sayang. Tapi kau jangan sedih. Putri kita begitu pintar sepertimu. Dia mewakili mu, apa kau bisa melihatnya?" batin Aziz.