Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 15


__ADS_3

Sebulan telah berlalu. Selama sebulan itu Fattan selalu berusaha agar Sakia membuka hati untuknya tapi Sakia tak seperti dulu lagi. Hati wanita itu sudah keras seperti batu. Sekalipun begitu, Fattan tidak putus asa untuk membuat Sakia mencintainya lagi.


"Sekeras-kerasnya batu jika ditetesi air akan rapuh juga"


Rumus itu yang Fattan jadikan pegangan dikala dia akan menyerah. "Jika batu saja bisa rapuh, kenapa hati manusia nggak" Fattan yakin, Sakia akan membuka hati untuknya lagi.


...🍁🍁...


Sakia baru saja tiba di ruko. Wanita itu baru pulang dari restoran yang baru 29 hari dibuka. Dia meletakkan tas dan ponselnya di atas meja seraya mendudukkan bokongnya di sofa lalu diedarkan pandangannya di dinding, di mana jam dinding dipajang.


"Sudah jam empat lewat tiga puluh menit. Kak Fattan pasti dalam perjalanan pulang" gumam Sakia.


Tanpa berlama-lama di sofa, Sakia beranjak dari duduk berjalan menuju dapur. Memilih memasak beberapa menu untuk makan malam nanti. Setelah memasak, Sakia masuk ke kamar. Belum sempat melepas jilbabnya, terdengar seseorang mengucap salam.


"Itu suara Kak Fattan" gumam Sakia bergegas membukakan pintu.


"Waalaikumsalam" jawab Sakia sambil membuka pintu. "Langsung mandi ya, Kak. Soalnya Kia udah lapar. Kia nggak mau makan sendiri" kata Sakia.


Fattan tersenyum mengangguk. "Kia sehat?" tanya Fattan melihat wajah istrinya yang sedikit pucat.


"Iya" balas Sakia.


Sakia dan Fattan masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, Sakia akan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Sementara Fattan masuk ke dalam kamar mandi setelah membuka baju jas dan baju kemeja serta celana panjang yang dikenakannya. Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, Sakia memilih masuk ke kamar sebelah dan mandi di kamar tersebut. Bukan dia malu tapi perut wanita itu sudah keroncongan.


Cek-- lek... (Pintu kamar mandi terbuka)


"Sakia di mana" gumam Fattan.


Fattan memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Pria itu mengulas senyum karena semua kebutuhannya disiapkan oleh istrinya. Bukan hanya baju dan celana luar, ****** ***** pun disiapkan oleh istrinya. Hingga Fattan sendiri tidak tahu di mana Sakia menyimpan pakaian dalam milik Fattan.

__ADS_1


"Kakak, ayo kita makan" ajak Sakia.


Sakia tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu mengenakan baju tunik dan celana ketat pendek hingga memperlihatkan paha mulusnya. Bukan untuk menggoda Fattan tapi dia mulai membuka pikirannya, bahwa apa yang ada pada dirinya adalah milik suaminya. Maka dia tidak perlu mengenakan gamis lagi saat di rumah bila hanya ada dia dan suaminya. Kecuali ada orang lain.


Fattan menatap Sakia dari ujung kaki hingga ujung rambut tanpa berkedip. Ini pertama kalinya dia melihat Sakia mengenakan baju tunik tanpa mengenakan celana panjang.


"Biasa aja kali!" ketus Sakia tak suka diperhatikan.


"Kia nggak pakai celana?" tanya Fattan. Pertanyaan konyol itu keluar dengan ringannya dari mulut Fattan.


Sakia membulatkan mata dengan bibir manyun ke depan. "Pakai lah!" balasnya ketus.


"Alhamdulilah. Jangan goda Kak Fattan, Kakak takut khilaf" kata Fattan tanpa berpikir jernih. Bukankah dia dan Sakia sudah menikah. Sakia bebas mau pakai baju apa saja di rumah. Jalan tanpa busana pun boleh-boleh saja selama di rumah hanya dia dan suaminya.


"Siapa yang menggoda Kak Fattan. Lagian di rumah hanya ada Kia dan Kakak" jelas Sakia meninggalkan suaminya di kamar.


Di meja makan, suasananya mulai berbeda. Jika biasanya Sakia hanya diam saja maka kali ini dia sudah berani mengajak suaminya berbicara.


"Selama itu bisa bisa membuat Kia bahagia ya kenapa nggak" kata Fattan membalas senyuman istrinya.


"Assalamualaikum" seseorang mengucap salam.


"Itukan suara Papa" gumam Fattan.


"Dek, cepat ganti bajumu, biar Kakak yang bukakan pintu untuk Papa" kata Fattan yang dibalas anggukan oleh Sakia. Sakia bergegas ke kamar mengganti bajunya sementara Fattan bergegas membuka pintu untuk Papanya.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Waalaikumsalam" jawab Fattan sambil membuka pintu. "Ayo masuk, Paa" kata Fattan mempersilahkan Papa Aziz masuk.

__ADS_1


"Papa, kita ke meja makan saja yuk. Soalnya aku dan Sakia sementara makan" kata Fattan.


"Kebetulan Papa belum makan dan Papa kesini juga merindukan masakan menantu Papa" kata Papa Aziz beranjak dari duduk langsung mengikuti Fattan ke dapur.


"Papa datang sendiri?" tanya Sakia menggeser kursi di samping suaminya.


"Mau sama siapa lagi, Nak. Kan Papa duda setia" balas Papa Aziz tersenyum.


Sakia dan Fattan terkekeh. Mereka pun memulai makan malam di waktu sore menjelang magrib. Setelah makan, Papa Aziz dan Fattan ke sofa sementara Sakia mencuci piring kotor.


"Bagaimana suasana hatinya? Apa dia bahagia?" tanya Papa Aziz.


"Alhamdulilah. Papa, gimana caranya membuat wanita untuk mempercayai pasangannya lagi? Kan Papa tahu sendiri, Fattan membuat kesalahan besar jadi sulit lah meyakinkan Sakia" kata Fattan.


"Tetap ikuti maunya. Jangan membentaknya dan jangan terlalu mengekangnya. Biarkan dia melakukan hal-hal yang disukainya selama itu tidak keluar dari jalur. Papa yakin, istrimu bukan wanita yang seperti wanita diluar sana, wanita yang nggak menghargai suami atau wanita yang lupa statusnya" jelas Papa Aziz.


"Benar apa kata Papa. Sakia sendiri sudah mengatakannya padaku kalau dia sadar diri akan statusnya. Dia nggak akan mengkhianati pernikahan kami sekalipun tidak ada cinta" batin Fattan.


Adzan magrib menghentikan pembicaraan Fattan dan Papa Aziz. Fattan ke kamar mengganti bajunya dengan baju koko lalu mengambil sarung dan peci untuk dia dan untuk Papanya. Kedua pria itu pun bergegas turun dari ruko mencari masjid terdekat.


...🍁🍁...


"Assalamualaikum" Papa Aziz dan Fattan mengucap salam. Keduanya shalat magrib dan isya di masjid.


"Waalaikumsalam" balas Sakia.


Sakia duduk di sofa, begitu juga Fattan dan Papa Aziz. Mereka bertiga berbincang-bincang dan tertawa bersama. Papa Aziz menceritakan masa-masa saat pria paruh baya itu bertemu istrinya. Saat Almarhum Mama Amrita membenturkan kepalanya di hospital bed hanya karena tidak punya uang untuk membayar tagihan rumah sakit.


"Papa mau bermalam di sini. Soalnya Azam lagi bermalam di rumah rumah Mama dan Papanya. Jadi nggak ada yang temani Papa di rumah" kata Papa Aziz.

__ADS_1


"Papa tinggal dengan kami saja" ujar Sakia.


"Papa nggak mau tinggalin rumah itu. Rumah itu penuh dengan kenangan indah. Kalau kalian punya waktu, sering-sering lah ke sana. Oh ya, kalau bisa kalian beli rumah untuk kalian dan anak-anak kalian nanti. Masa iya, kalian mau tinggal di ruko ini selamanya. Papa punya tabungan jadi kalian bisa gunakan uang tabungan Papa. Lagian Papa juga mau apakan uang itu kalau bukan untuk membantu anak-anak Papa" jelas Papa Aziz.


__ADS_2