Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 107


__ADS_3

Rumah Nomor A19


Pukul 21:05 PM


Keluarga kecil Aziz dan Amrita sedang menikmati enaknya kue amanda brownies ditengah hujan deras menerpa Kota Makassar. Canda dan tawa terdengar memenuhi ruangan keluarga yang cukup luas. Seketika tawa itu terhenti saat chanel televisi beralih ke chanel di mana Upin dan Ipin tayang.


"Papa. Kue ini lezat loh, Pa" kata Fattan sambil bermanja-manja di lengan Papanya. Keduanya malas menyaksikan film Upin dan Ipin.


"Tentu saja enak. Itulah obat Mama kalian. Mama kalian pandai ya mencari kue" balas Aziz tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. Sementara Fadila dan Mamanya tengah sibuk menyaksikan film Upin dan Ipin.


"Papa. Kalau Papa mau jalan-jalan sama Mama, Papa titip kami di rumah baby girl atau di rumah Nenek. Nanti aku yang jagain Adek" bisik Fattan ditelinga Papanya.


"Hahahaha" tawa Aziz pecah. Membuat Fadila dan Amrita melotot menatap Aziz yang sedang bahagia.


"Bagus kan ide aku?" tanya Fattan.


"Itu ide yang bagus Sayang. Papa suka" balas Aziz yang tak menghiraukan tatapan tajam dari anak dan istrinya.


Fattan dan Aziz kembali bercanda gurau. Sementara Fadila masih sibuk nonton dan Amrita merebahkan tubuhnya di sofa. Aziz melirik istrinya, dilihatnya sang istri sudah menyerah.


"Fadila, saatnya tidur Nak. Nggak baik anak kecil tidur di atas jam sepuluh malam" tegur Aziz.


"Lalu bagaimana dengan Kak Fattan?" tanya Fadila menatap kakaknya.


"Kamu dan kakakmu akan tidur. Cepat masuk kamar dan jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi" titah Aziz.


"Papa, antar kami ke kamar mandi. Bagaimana jika kami jatuh" pinta Fattan.


"Ya sudah. Ayo kita ke kamar" ajak Aziz.


"Bagaimana dengan Mama?" tanya Fadila menatap Mamanyanya yang tidur dengan mulut terbuka.

__ADS_1


"Jangan bangunkan Mama. Biarkan Mama istrahat" balas Aziz. Fattan dan Fadila turun dari sofa, keduanya mengikuti langkah kaki Papa Aziz. Dan berhenti tepat di depan kamar mandi.


"Cepat masuk" titah Aziz yang langsung dipatuhi oleh Fattan dan Fadila. Keduanya masuk lalu mengambil sikat gigi. Setelah menyikat gigi dan cuci kaki, Fattan dan Fadila keluar dari kamar mandi lalu naik di atas tempat tidur masing-masing.


Aziz menghampiri Fadila, menutup sebagian tubuh mungil putrinya dengan selimut lalu mengecup puncak kepala putrinya. Kemudian menghampiri Fattan dan mulai menarik selimut tebal lalu menutupi sebagian tubuh mungil putranya dan tak lupa menitipkan ciuman singkat di puncak kepala putranya.


"Selamat tidur, Pa" ucap Fattan dan Fadila bersamaan lalu memejamkan mata.


Aziz tersenyum, mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur. Lalu keluar dari kamar putrinya dan kembali ke ruang keluarga. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya melihat gaya tidur istrinya.


"Mungkin dia lelah seharian bekerja dan membantu teman-temannya" gumam Aziz. Lalu menggendong istrinya.


Rumah Nomor A20


Aher sedang mengamati wajah cantik Sabila Putri Ahmadenar. Putri cantik yang kerap dipanggil baby girl. Baby girl tidur di ayunan yang diletakkan di kamar. Tepatnya di samping tempat tidur orang tuanya.


"Cepat besar Sayang. Dady sudah tidak sabar mengajakmu olahraga bersama. Seperti Kak Fadila dan Kak Fattan" gumamnya tersenyum.


"By, kenapa kamu belum tidur?" tanya Mahdania yang baru saja masuk ke dalam kamar. Berjalan menghampiri suaminya di tempat tidur.


"Masih ada hari esok, By. Jangan tidur larut malam. Besok kan kamu harus bekerja. Seorang dokter harus menjaga kesehatannya agar tidak menjadi pasien" jelas Mahdania.


Aher merebahkan tubuhnya di pembaringan. Begitu juga dengan Mahdania. Keduanya menatap langit-langit kamar sejenak. Lalu masing-masing dari mereka memiringkan tubuh saling menatap satu sama lain.


"Da, apa kamu mau KB?" tanya Aher.


"Nggak mau. Anak itu rezeki, By. Terlebih lagi kita, Alhamdulilah masuk dalam ketegori mampu. Bahkan ditempat ku bekerja tidak melarang para pekerja untuk membawa anak mereka. Jikapun aku harus berhenti bekerja dan hanya mengurus anak dan suami. Aku bisa mempergunakan ponselku. Toh sekarang banyak usaha online" balas Mahdania.


"Dan lagi. Sekalipun aku tidak menggunakan KB, kalau Allah belum memberi kita anak maka aku tidak akan hamil" sambungnya mengingatkan.


"Benar juga sih. Banyak orang diluar sana yang tidak menggunakan KB tapi mereka nggak hamil. Mungkin itulah yang orang-orang bilang belum rezeki" balas Aher membenarkan perkataan istrinya.

__ADS_1


"Ayo kita tidur" ajak Aher lalu membawa istrinya dalam dekapan hangatnya.


Mahdania menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Membiarkan tangan kekar nan halus itu memeluknya erat. Hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan Mahdania dan para istri diluar sana. Itupun hanya istri yang hubungannya adem bersama suami, tapi tidak dengan pasangan yang selalu terlibat konflik.


--


Pukul 06:51 AM


Seperti biasa, penghuni rumah nomor A19 akan melakukan rutinitas pagi. Yaitu jalan-jalan keliling perumahan. Tentunya tanpa Amrita. Wanita cantik itu selalu menyibukan diri di dapur. Berbagai macam kue ia pelajari lewat youtube. Dan usahanya itu hanya untuk membahagiakan keluarganya lewat masakannya. Namun kali ini, hanya roti panggang yang bisa ia sajikan.


"Aku panggang roti tawar saja. Aku lupa membeli bahan kue kemarin. Nanti siang baru aku ke Top Mode membeli bahan-bahan kue" gumam Amrita seraya mengambil roti tawar, susu coklat dan meises warna warni. Lalu mengambil alat pemanggang roti merek Miyako.


Di luar, Aziz dan kedua anaknya sedang berbaris dan lari ditempat. Biar sehat, katanya. Itu yang selalu Aziz katakan pada kedua anaknya.


"Boleh Om gabung?" tanya Aher yang tiba-tiba masuk dalam barisan.


"Boleh, Om. Baby girl mana?" tanya Fattan.


"Baby girl di rumah. Baby girl belum bisa diajak jalan pagi" balas Aher menjelaskan.


Fattan mengangguk paham. Begitu juga Fadila. Sementara Aziz serius lari ditempat. Setelah lari ditempat, mereka memilih bubar dan masuk ke dalam rumah masing-masing.


"Ayo kita berenang, setelah itu kita bersiap-siap sarapan pagi" ajak Aziz yang dibalas anggukan oleh kedua anaknya.


Di atas meja yang ada di kolam renang, Amrita sudah menyiapkan sarapan pagi. Berupa roti panggang dan susu serta kopi untuk Aziz. Kali ini dia ingin suasana yang berbeda. Jika biasanya mereka sarapan pagi di dapur maka pagi ini mereka sarapan pagi di kolam renang.


"Wah... istriku rajin sekali" ucap Aziz memuji istrinya yang senyam-senyum menatap anak dan suaminya.


"Tentu saja, Mas" balas Amrita.


Aziz dan kedua anaknya mencuci tangan lalu duduk di kursi. "Kita mandi dulu, setelah itu kita sarapan. Lagian Mama sudah menyiapkan handuk untuk kita berempat" jelas Aziz.

__ADS_1


"Wah... Mama juga sudah menyiapkan pelampung untuk Fattan dan Fadila" ucap Aziz dengan begitu antusias agar putri dan putranya bersorak girang.


"Yeah... Mama hebat deh" puji Fattan dan Fadila.


__ADS_2