
Pukul 06:21 AM
Fadila sibuk di dapur memasak makanan untuk dia, Fattan dan Papa Aziz. Sementara Fattan menyapu rumah dari lantai dua hingga lantai satu. Bukan hanya itu saja, Fattan juga bertugas mencuci pakaian dan menjemur pakaian. Bukannya Aziz mau menghemat uang, tapi pria itu ingin melatih Fattah agar suatu hari nanti dia tahu kesusahan wanita, terutama kesusahan istrinya. Dan Fadila, wanita itu bisa menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya kelak.
Sementara Aziz, pria itu hanya duduk santai sambil membaca surat kabar. Sejak Fadila dan Fattan bisa memasak, Aziz mulai jarang terjun langsung ke dapur. Dia selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku atau surat kabar.
"Sepertinya aku sudah bisa kerja di warung" gumam Fadila sambil membalikan ikan kembung yang sementara digoreng.
"Kerja di warung itu harus pandai mencicipi makanan. Terutama soal tawar dan asin. Jika kamu tidak tahu rasa yang pas itu seperti apa, maka sudah pasti kamu akan dikomplain oleh pembeli" kata Fattan yang tiba-tiba masuk ke dapur.
"Itu mah kecil. Anak kecil pun bisa menilai rasa tawar dan asin" kata Fadila dengan santai.
"Oh ya, lalu bagaimana denganmu yang sudah besar namun masakannya suka tawar dan asin?" tanya Fattan menyudutkan adiknya.
"Hehehehe" cengir Fadila sambil mematikan kompor gas. Lalu mengangkat ikan goreng dan meletakkannya di piring. Kemudian menyajikannya bersama sayur buncis kecap campur tahu dan tempe.
"Kakak, cepat panggil Papa biar kita makan. Nggak usah tunggu jam delapan. Jam delapan itu kita sudah di sekolah" titah Fadila.
"Nggak perlu dipanggil. Papa sudah di sini" kata Aziz yang tiba-tiba menggeser kursi.
Fadila dan Fattan tersenyum. Mereka pun memulai makan pagi dengan makanan berat. Beda dengan kemarin, saat hari libur mereka hanya sarapan kue, kopi serta teh. Setelah makan, Aziz kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Fattan. Sementara Fadila mencuci piring terlebih dahulu sebelum bersiap-siap ke sekolah.
--
Fattan dan Fadila menuruni anak tangga menghampiri Papa Aziz di lantai satu. "Pa, kami berangkat ke sekolah dulu ya" kata Fattan seraya menyalami tangan Papanya.
"Iya Sayang" balas Aziz tersenyum.
"Uang jajan mana, Pa" tanya Fadila setelah mencium tangan Papanya.
Aziz mengambil uang di samping televisi. Sejak Alm Amrita masih hidup, mereka selalu meletakkan uang di samping televisi. Kebiasaan itu Aziz lakukan hingga Fadila dan Fattan berumur tujuh belas tahun dan entah sampai kapan kebiasaan itu akan hilang.
__ADS_1
"Ini untuk kalian berdua. Satu orang lima puluh ribu. Jika menurut kalian uang itu kebanyakan, maka berbagilah dengan teman kalian yang tidak mampu" kata Aziz sambil menyerahkan satu lembar uang seratus ribu.
"Iya Pa" balas Fadila dan Fattan bersamaan. "Assalamualaikum" sambungnya lalu keluar dari rumah.
Berhubung mereka satu sekolah dengan Sabila, maka ketiganya pergi sama-sama. Fattan membonceng Fadila, sementara Sabila membonceng Sakia. Mereka mengantar Sakia terlebih dahulu ke sekolahnya karena Sakia baru SMP kelas 3.
...-----...
SMA di kota Makassar
Fattan memakirkan motornya di parkiran motor. Begitu juga dengan Sabila. "Kak Fattan, Kak Fadila, aku ke kelas dulu ya" kata Sabila tersenyum.
"Iya. Semangat belajarnya" ucap Fattan membalas senyuman Sabila.
"Nanti chat kalau mau ke kantin ya" kata Fadila sebelum Sabila pergi ke kelasnya.
"Iya, Kak" balas Sabila. Berlalu ke kelas satu.
"Tunggu aku!!" pinta Asmi. Berlari kecil menghampiri Fattan dan Fadila.
"cepat" kata Fadila menunggu temannya.
Fadila, Fattan dan Asmi bergegas ke kelas sebelum bel masuk terdengar. Sesampainya di kelas, mereka duduk di kursi masing-masing. Di dalam kelas, sudah banyak siswa yang datang lebih awal dari mereka.
"Asmi, kamu mau nggak ikut aku ke rumahku. Kita kerjakan tugas bersama di sana" kata Fadila mengajak sahabatnya ke rumah. Fadila ingin mengenalkan Asmi dengan Papa Aziz.
"Boleh" balas Asmi. Asmi dan Fadila mengakhiri percakapan mereka saat guru masuk mengajar.
...ΩΩΩ...
Perumahan Citraland nomor A19
__ADS_1
Fadila membuka pintu rumah dan mempersilahkan Asmi masuk. Sejak SMA kelas satu hingga kelas tiga, ini kali pertama Fadila membawa teman ke rumahnya. Biasanya dia yang ke rumah teman-temannya. Entah jodoh atau memang kebetulan, Papa Aziz pulang lebih awal dari biasanya.
"Sudah pulang Sayang" sapa Aziz.
"Apakah ini jodoh? Kok bisa Papa pulang lebih awal" batin Fadila.
"Sudah, Pa" balas Fattan. Lalu mencium tangan Papanya. Kemudian ke lantai dua untuk mengganti pakaian seragamnya.
Asmi terdiam menatap pria paruh baya yang sangat cocok disebut sugar dady. Siapa lagi kalau bukan Papa Aziz, duda anak dua. "Subhanallah. Ganteng sekali Papanya Fadila" batin Asmi.
"Papa, kenalin ini teman aku. Namanya Asmi" kata Fadila memperkenalkan Asmi pada Papanya.
Asmi mengukir senyum. "Sore Om" sapa Asmi.
"Sore" balas Aziz. Aziz menatap Asmi sejenak. "Ya Allah, jangan bilang Fadila mau menjodohkan aku dengan daun muda ini" batin Aziz.
"Fadila, antar temanmu ke kamar setelah itu temui Papa" titah Aziz.
"Baik, Pa" sahut Fadila lalu mengajak Asmi ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, Fadila membuka pintu kamarnya dan meminta Asmi menunggunya sebentar. Asmi pun mengiyakan dan membiarkan Fadila menemui Papanya.
"Papa, bagaimana? Cantik kan" tanya Fadila tersenyum, mengambil tempat di sisi kanan Papanya.
"Semua wanita itu cantik, nggak ada yang jelek. Tergantung yang memandanginya saja" balas Aziz.
"Iya. Aku tahu, Pa. Lalu bagaimana dengan sugar dady itu?" tanya Fadila.
Aziz menarik napas, menghembuskannya dengan pelan. Netra mata pria itu mulai berkaca-kaca. Dia berusaha untuk menjaga cintanya tapi putrinya justru mencarikannya pendamping baru.
"Fadila, apa kamu mau, doa Papa tidak lagi seutuhnya buat Mama? Apa kamu mau, pikiran Papa mulai terbagi dan tidak lagi memikirkan Mama kalian. Apa kamu mau, cinta Papa nggak seutuhnya lagi untuk Mama?" tanya Aziz menahan bulir bening yang sedari tadi ingin tumpah.
Fadila menggeleng kuat. "Aku nggak mau, Pa" balas Fadila terisak.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau, maka jangan jodohkan Papa dengan siapapun itu. Papa hanya mau satu istri, dan itu Mama kalian" kata Aziz yang dibalas anggukan oleh Fadila.