Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 72


__ADS_3

Pukul sebelas malam, Amrita memilih masuk ke dalam kamar untuk istrahat. Sedangkan Aziz masih menemani Aher yang galau karena Madania. Terlebih lagi Madania memposting foto bersama seorang pria diakun instagram dan watshapnya. Tentu hal itu membuat Aher semakin terluka.


"Aziz, besok kau dan Amrita temani aku ke pantai tanjung bayam ya" pintah Aher serius.


"Yasudah. Besok pagi kita ke sana. Sekarang kamu tidur dan jangan lupa berdoa agar tidurmu nyenyak" balas Aziz sembari menepuk pundak sahabatnya.


"Selamat tidur pasutri. Selamat bermalam jumat. Maafkan kedatanganku yang tidak memikirkan malam. Hahaha" kata Aher lalu tertawa.


Aziz terkekeh kemudian meninggalkan sahabatnya yang terserah mau tidur di kamar tamu atau mau tidur di sofa bed. Aher yang malas tidur di kamar memilih merebahkan tubuhnya di sofa bed. Perlahan tangan kekar itu meraih ponsel yang ada di atas meja. Lalu menghidupkan layar ponselnya dan membuka kembali aplikasi watshap.


"Apa yang Madania lakukan sekarang?" gumam Aziz bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku tidak menyangkah. Baru kemarin malam dia mengatakan cinta padaku dan malam ini dia pergi bersama pria lain. Secepat itukah perasaannya memudar" sambungnya tersenyum.


Ting... satu pesan masuk. Aher membukanya dan betapa bahagianya dia saat Madania mengirim pesan padanya. Namun, saat membaca kalimat akhir, Aher kembali merasa sedih.


"Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan sering-sering tidur dilarut malam. Oh ya, jangan lupa datang ya" Madania.


"Iya, selamat ya (Smile senyum)" Aher.


Aher menatap kembali pesan yang dikirim Madania. Seketika ia tersenyum dan berkata. "Dia mengingatkan aku agar aku bisa hadir di acara pernikahannya. Sunggu luar biasa kau Madania. Demi cintaku, aku akan datang memberimu ucapakan selamat"


Dilantai dua, Aziz dan Amrita sedang bermalam jumat. Hal yang wajar dilakukan oleh pasangan suami istri.


...ΩΩΩ...


Pagi hari


Berhubung hari ini Aziz dan Aher libur begitupun dengan Amrita, maka sesuai ucapan Aher semalam, mereka bertiga akan pergi ke tanjung bayam.


"Terima kasin ya, Om. Om sudah mengajakku ke pantai. Sudah lama aku tidak mandi-mandi di pantai" ucap Amrita bersorak girang. Ia duduk di kursi belakang seorang diri. Sedangkan Aziz duduk di depan bersama Aher.

__ADS_1


"Sama-sama Amrita. Aku yang harusnya berterima kasih sih, karena kalian berdua mau membantuku menghabiskan uang yang aku kumpulkan selama ini" jelas Aher terenyum simpul.


"Hahahahaha" tawa Aziz pelan. "Jika niatmu untuk menghabiskan uang, maka lebih baik kita ke rumah makan. Kita beli ratusan makanan dos lalu kita bagikan pada pemulung, pengemis dan tukang becak. Itu lebih bermanfaat daripada ke tanjung bayam" sambungnya.


"Hahahaha. Aziz, aku tahu berbagi itu harus. Tapi membahagiakan diri kita dengan hal-hal yang lain juga penting" balas Aher.


--


Tanjung bayam


Aher memakirkan mobilnya di parkiran tanjung bayam. Mereka yang sejak dari rumah sudah mengenakan pakaian ala pantai, langsung keluar dari mobil dan langsung ke pantai.


"Mas... ayo kita mandi-mandi..." panggil Amrita berlari dan menenggelamkan tubuhnya dipantai.


"Nanti saja" sahut Aziz lalu duduk di bibir pantai.


"Tunggu di sini sebentar, aku mau ambil cemilan dulu" ujar Aher kemudian beranjak dari duduknya. Selang beberapa menit, Aher kembali membawa snek.


Amrita menghampiri Aziz dan Aher lalu gabung bersama mereka untuk menikmati snek di bibir pantai. Amrita yang memang mengenal suara Madania, ia mengedarkan pandangannya mencari cari asal suara. Dan benar saja, Madania juga ada di tanjung bayam bersama dua wanita dan tiga orang pria.


Aziz dan Aher menoleh menatap ke arah yang dilihat Amrita. Aziz tersenyum namun tidak dengan Aher yang cemburu melihat Madania bersama laki-laki lain.


"Tidak berjodoh tapi dipertemukan di sini" gumam Aher pelan.


Madania yang tanpa sengaja melihat Amrita, ia tersenyum dan menghampiri Aher, Aziz dan Amrita. "Kalian di sini juga. Kenapa kalian tidak mengajakku?" tanya Madania cemberut.


"Biar pamer pada kami ya" sindir Aher.


Madania terkekeh. "Untuk apa pamer" balas Madania meledek.


"Mas, Om Aher, aku permisi sebentar ya" pamit Amrita. "Kak Madania, tolong ikut aku sebentar" ujar Amrita yang dibalas anggukan oleh Madania.

__ADS_1


Amrita membawa Madania sedikit menjauh dari Aziz dan Aher. Keduanya duduk di bibir pantai sambil bercerita empat mata. "Kak, apa benar kakak akan menikah dengan pria lain?" tanya Amrita serius.


"Hahahaha" tawa Madania pecah. "Amrita, aku tidak menikah dengan pria lain. Aher lah yang akan menjadi suamiku. Yang datang melamarku adalah kedua orang tua Aher, mereka datang melamarku untuk Aher, putra mereka" jelas Madania.


"Apa..." pekik Amrita membulatkan mata tak percaya. "Ya Allah Kak, apa Kakak tahu, Om Aher seperti orang gila saat tahu Kakak dilamar orang lain" sambung Amrita.


"Hahahaha. Bagaimana dia mau tahu kalau dia sendiri ngak pulang-pulang di rumah" imbuh Madania.


"Iya juga sih, sudah dua malam Om Aher bermalam di rumah kami. Oh ya Kak, ayo kita gabung dengan mereka. Kakak ajak juga teman-teman Kakak" ujar Amrita. Amrita dan Madania pun menghampiri Aziz dan Aher yang sedang duduk santai sambil memandang jauh ke lautan biru.


"Aziz, Aher, Amrita, aku gabung dengan teman-temanku dulu ya. Oh ya Aher, nanti kita sewa jet ski ya" ujar Madania tersenyum.


"Iya, Madania. Sampaikan salamku pada calon suamimu ya" balas Aziz tersenyum.


Aher menyenggol lengan sahabatnya. "Bisa-bisanya dia nitip salam pada pria yang merebut kekasih sahabatnya" ketus Aher dalam hati.


"Atau ajak dia ke sini. Kenalkan dia sama kami" sambung Aher.


"Aku tidak perlu mengajaknya karena kalian sudah mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya" balas Madania berlalu pergi meninggalkan Aziz dan Aher yang kebingungan.


"Selalunya berteka teki!!" umpat Aher.


Amrita terkekeh melihat ekspresi kesal Aher. Bisa-bisanya Aher menghabiskan tenaga untuk menguntit calon istrinya. Bahkan sampai ngak pulang-pulang ke rumah.


"Amrita, kenapa kau terkekeh di atas penderitaanku! Andai di sini tidak ramai, aku sudah menangis sejak tadi" kata Aher cemberut.


"Mantanku, ayo kita naik jet ski" ajak Madania yang tiba-tiba menarik tangan calon suaminya.


"Mantan? Dia dengan terang terangan memanggil ku mantan. Papa... Mama... Madania melukai hatiku..." rengek Aher yang disambut tawa oleh Madania, Aziz dan Amrita.


Aher menuruti keinginan Madania. Dan di bibir pantai, tinggalah Amrita dan suaminya. "Mas, apa kau tahu, ternyata calon suami Kak Madania itu Om Aher, bukan orang lain" ungkap Amrita.

__ADS_1


"Apa! Dari mana kamu tahu?" tanya Aziz tak percaya.


"Tadi Kak Madania yang memberitahuku. Yang malam itu melamar Kak Madania untuk putra mereka, ternyata orang tua Om Aher. Mereka sudah kembali dari Inggris. Hanya Om Aher saja yang mengira Mama papanya masih di Inggris" jelas Amrita.


__ADS_2