Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 56


__ADS_3

"Mas, terang bulannya untuk aku atau untuk kita berdua?" tanya Amrita menatap terang bulan kesukaannya.


"Untuk kamu" balas Aziz berlalu meninggalkan istrinya di ruang tengah.


Amrita tersenyum sumringah dengan mata berbinar. Tidak sia-sia ia bersikap baik dan tidak ikut tawuran lagi. "Aku harus berdamai dengannya dengan sungguh sungguh" gumam Amrita lalu membuka kotak terang bulan.


"Enak kalau makan terang bulan ditemani susu putih. Lebih baik aku buat susu sekarang" gumamnya lalu beranjak dari duduknya menuju dapur. Selang beberapa menit, Amrita kembali ke ruang tengah dengan membawa segelas susu.


Sementara di lantai dua, Aziz sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Berdiri di bawah pancuran sower dan membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya. Sekejap ia memejamkan mata, menikmati dinginnya air yang kini membasahi tubuhnya. Aziz keluar dari kamar mandi setelah enam belas menit berdiri di bawah pancuran sower.


Setelah bersiap-siap, terdengar suara adzan di masjid. Aziz keluar dan berdiri di tangga. "Sayang, jangan keasikan makan terang bulan hingga mengabaikan adzan" ujar Aziz lalu berbalik ke kamar.


"Iya, Mas..." balas Amrita lalu bergegas ke kamar.


"Mas mau sholat di masjid atau di rumah?" tanya Amrita saat berada di dalam kamar.


"Di masjid. Mumpung ngak hujan" balas Aziz.


Amrita mengangguk lalu pergi mengambil air wudhu. Sedangkan Aziz mengambil kunci motor istrinya lalu keluar dari kamar dan pergi ke masjid mengendarai motor matic milik istrinya.


Usai mengambil air wudhu, Amrita memulai sholat magrib. Dalam sujud terakhirnya, dia membaca tiga doa. Yang pertama, meminta agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Yang kedua, meminta agar diberikan kesempatan taubat sebelum wafat. Dan yang ketiga, meminta hatinya ditetapkan di atas agama-Nya.


اللهم إني أسألك حسن الخاتمة


"Allahumma inni as'aluka husnul khaatimah" Artinya: "Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu husnul khatimah."


 اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت


"Allahummarzuqnii taubatan nasuuha qablal maut" Artinya: “Ya Allah berilah hamba rezeki berupa taubat nasuhah (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat”


اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك


"Allahumma yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘ala diinika" Artinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada Agama-MU" (Sumber geogle).


Setelah sholat, Amrita berdoa untuk kedua orang tuanya yang telah tiada dan berdoa untuk suaminya dan juga untuk dirinya sendiri. Usai berdoa, ia mengambil Al-Qur'an dan mengaji hingga sholat isya tiba. Setelah sholat isya, Amrita bergegas ke lantai satu dan melanjutkan tugas-tugasnya.


--

__ADS_1


Aziz tiba di rumah pukul sembilan malam. Ia membuka pintu dan tak lupa mengucap salam. "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Seulas senyum tersungging di bibir Aziz, saat pria itu melihat istrinya sedang mengunyah terang bulan. "Mas juga mau" ujar Aziz mengambil tempat di samping istrinya.


Amrita tak menjawab, ia meraih tangan suaminya lalu menyalaminya. Kemudian dia tersenyum sumringah. "Terang bulannya sudah habis, Mas. Tadi Mas bilangnya ini untuk aku jadi aku habiskan semuanya" jelas Amrita.


"Pintar sekali istri nakalku ini. Jawabannya membuatku ingin menjitak kepalanya" ujar Aziz lalu merebahkan tubuhnya di sofa, dengan berbantal paha istrinya.


"Mas, jangan bergerak, geli tahu!" ketus Amrita.


Aziz tak menghiraukan istrinya. Ia terus menggeser geserkan kepalanya di paha sang istri. Amrita yang merasa belajarnya terganggu menyentil jidat suaminya.


"Aow! Sakit tahu!" ketus Aziz sembari memegang dahinya.


"Kamu sih Mas, sudah dibilangin jangan bergerak tapi ngak mau dengar. Dijitak dahinya baru bilang sakit" ujar Amrita dengan santai.


"Mas memaafkanmu jadi ngak perlu minta maaf" kata Aziz. Ia tahu, sebentar lagi istrinya akan meminta maaf.


"Ululu... suamiku yang mudah tertipu ini sangat baik ya" ucap Amrita sembari mencubit pipi suaminya.


Jleb! Amrita menelan salivanya dengan susah paya. "Tidak apa-apa, dia suamiku. Itu sudah menjadi kewajibanku. Toh aku juga mencintainya dan dia juga mencintaiku" batin Amrita.


--


Pukul sebelas malam, Amrita naik ke kamar. Seulas senyum tersungging di bibirnya, saat mendapati suaminya sudah tertidur. Dengan mengendap endap, Amrita menghampiri suaminya dan membaringkan tubuhnya dengan pelan.


"Sudah, Sayang?" tanya Aziz yang tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang.


"Hehehehe, sudah Mas" balas Amrita tersenyum smirk.


"Ayo kita mulai" ujar Aziz.


----


Pagi hari

__ADS_1


Amrita sedang membaca catatannya di kolam renang. Karena di pukul sebelas nanti mereka akan kuis mata kuliah Kewirausahaan. Dia tidak menghapal melainkan memahaminya.Takutnya, saat ia menghapalnya maka bisa saja ia akan lupa. Namun, jika ia memahaminya maka ia bisa menjawab dengan penjelasannya sendiri. Sekalipun tak sama dengan kalimat yang ada di buku tapi intinya sama.


"Sayang, jam berapa kamu ke kampus?" tanya Aziz yang tiba-tiba datang lalu duduk di kursi.


"Jam sepuluh, Mas" balas Amrita tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ya sudah, nanti Mas tinggalkan uang jajan di atas meja ya" ujar Aziz.


"Iya, Mas. Oh ya, jangan lupa doain aku ya, hari ini aku kuis kewirausahaan" ucap Amrita.


"Iya, nanti Mas doain semoga kamu bisa menjawab semua soal yang diberikan dosen" balas Aziz.


"Aamiin" ucap Amrita mengamini perkataan suaminya.


Usai membaca buku kedokteran, Aziz kembali ke kamar dan bersiap-siap ke rumah sakit. Setelah selesai, ia keluar dari kamar dan masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak menuju jalan raya.


---


Pukul 11 siang


Amrita dan teman-temannya sudah berada di dalam kelas. Semuanya sibuk belajar. Ada yang belajar lewat ponselnya ada juga yang membaca catatannya. Yang belajar lewat ponsel sudah pasti adalah orang yang malas mencatat jadi memfoto catatan teman.


"Amrita, ayo kita belajar bersama. Kamu lihat catatanku dan berikan aku pertanyaan" ujar Hanin.


"Oke" balas Amrita sambil mengambil catatan sahabatnya. "Langkah-langkah apa saja yang perlu diperhatikan dalam mendirikan apotek? Dan jelaskan salah satunya" tanya Amrita.


"Lokasi Apotek. Lokasi yang strategis sangat menentukan kesuksesa dalam membangun apotek. Apotek akan lebih produktif jika didirikan di dekat rumah sakit, puskesmas, dan praktek dokter, atau disekitar perumahan yang padat penduduknya" jelas Hanin.


"Assalamualaikum" Pa Agus mengucap salam saat masuk ke dalam kelas.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabaratakatu" balas semua mahasiswa dan mahasiswi bersamaan.


"Pindahkan semua buku, tas dan laporan kalian. Di atas meja hanya pulpen dan kertas double folio untuk lembar jawaban" ujar Pa Agus dengan tegas.


--


Rumah sakit Awal Bros

__ADS_1


Aziz baru saja keluar dari ruang rawat seorang pasien. Ia berjalan menuju ruangannya. Di dalam, ia mendapati Safira sedang menangis. Entah apa yang terjadi pada wanita itu.


__ADS_2