
Hari yang dinanti oleh keluarga besar Zakri pun tiba. Kini keluarga besar itu sudah berada di Pulau Lae-Lae. Kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah mereka yang datang, terlebih lagi Sakia dan Fattan. Kedua pasangan itu jalan berduaan menelusuri pantai sambil berpegangan tangan.
"Tante... sini" panggil Abang Fadli seraya melambaikan tangan mungilnya.
Sakia dan Fattan tersenyum menghampiri Abang Fadli. Dari kejauhan, Abang Fadli mengukir senyum lebar menunggu Sakia dan Fattan.
"Tante... jangan lari... tetap disitu, nanti Abang yang kesitu" seru Abang Fadli serius.
Sakia tersenyum dan berhenti. Begitu juga dengan Fattan. "Kenapa Tante nggak boleh lari?" tanya Fattan mencolek pipi keponakannya.
"Ada adik di sini" jawab Abang Fadli sambil menunjuk perut rata Sakia.
Fattan mengerutkan kening, begitu juga Sakia. Setahu Fattan, Sakia tidak hamil. Memang sih, sudah dua bulan lebih istrinya itu tidak menstruasi. Namun, dia tidak berpikir bahwa istrinya hamil. Karena tidak ada tanda-tanda jika wanita itu hamil. Dia tidak mual-mual, dan bahkan perutnya sangat rata.
"Tante nggak hamil, Sayang" jelas Sakia tersenyum berniat menggendong Abang Fadli, tapi lagi-lagi Fadli menolak digendong oleh Sakia.
"Nanti dedenya cemburu" ucap Abang Fadli tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita ke tenda" ajak Fattan. Fattan, Sakia dan Abang Fadli menemui keluarga mereka di tenda. Di tenda, Nenek Eka, Kakek Sofyan, Papa Aziz, dan pasangan Fakri dan Hanin sementara duduk di gazebo yang dulu mereka tempati duduk bersama almarhum Amrita.
"Kakek, Mama dan Papa mana?" tanya Abang Fadli menatap semua orang dewasa yang ada di gazebo.
"Mereka lagi jalan-jalan" balas Kakek Sofyan.
__ADS_1
......🍁🍁......
Sore hari, Sakia dan Nurin duduk di gazebo bersama Abang Fadli dan adek Fadlan, juga Azam. Sementara Kakek dan Nenek mereka berada di dalam tenda. Orang dewasa lainnya sedang mandi air laut.
"Tante, adik kami banyak ya" ucap Abang Fadli tersenyum lebar.
"Adik Abang hanya ada tiga. Fadlan, adik di dalam sini" jelas Nurin sambil menunjuk perutnya. "Dan adik di dalam perut Nenek Hanin" sambungnya tersenyum.
"Ada lagi. Adik Abang ada di sini, ada dua" sanggah Abang Fadli seraya memegang perut rata Sakia.
Nurin menatap Sakia yang kebingungan. "Kak Kia, Kakak hamil?" tanya Nurin berbinar.
"Kakak nggak tahu, Dek. Memang sih sudah dua bulan lebih Kakak nggak haid tapi bukan hamil. Kalau hamil, pasti Kakak akan merasakan yang namanya ngidam, tapi ini nggak. Kak Fattan pun nggak terlihat aneh, begitu juga Kakak. Perut Kakak juga rata" ungkap Sakia.
"Belum" jawab Sakia.
"Tante, Azam doain, semoga apa yang dikatakan Fadli itu benar. Aamiin" ucap Azam lalu mengusap wajahnya.
"Aamiin" ucap Fadlan dan Nurin.
"Ya Allah, semoga apa yang dikatakan Fadli itu benar. Semoga ini bukan penyakit" batin Sakia. Wanita itu mengira dirinya sakit hingga dia tidak beli test pack ataupun ke rumah sakit.
Malam hari, mereka sekeluarga duduk melingkar di depan tenda. Yang tua memberi nasehat pada yang muda dan yang muda, serius mendengar nasehat dari Kakek Sofyan dan Nenek Eka. Terkecuali Azam dan kedua adiknya, ketiga anak itu sudah terlelap di dalam tenda.
__ADS_1
"Kami sudah sangat tua. Nggak tahu sampai kapan kami akan bersama kalian. Aziz, kamu punya anak dan cucu sekarang, jadilah Papa dan Kakek yang baik untuk anak dan cucu-cucumu. Dan kamu Fakri, jadilah suami, Papa dan Kakek yang bisa dijadikan teladan oleh anak dan cucu-cucu mu kelak" nasehat Kakek Sofyan.
"Dan kamu Alif, sekarang kamu sudah menikah dan tidak lama lagi kamu akan menjadi orang tua. Sering-seringlah bertanya pada Papamu agar kamu bisa menjadi suami sekaligus Papa yang baik untuk keluarga kecilmu" sambung Kakek Sofyan.
"Begitu juga denganmu Fattan. Jangan berputus asa, teruslah berdoa agar Allah menghadirkan anak dalam rumah tangga kalian. Jika apa yang kalian inginkan tidak terkabul maka jangan ambil jalan pintas. Ingat! Istrimu belum hamil, itu bukan karena dia mandul, tapi itu ujian untukmu. Mampukah kamu menjadi suami yang bisa menerima kekurangan istri atau sebaliknya" nasehat Nenek Eka.
"Dan kamu Farhan, kami sudah menganggap mu sebagai anak kami. Nasehat yang sama untukmu. Teruslah bimbing Fadila, agar anak nakal itu menjadi istri yang patut pada suami" jelas Nenek Eka.
Pukul 10:02 PM, Sakia, Tante Hanin, Fadila, Nenek Eka dan Nurin masuk ke dalam tenda masing-masing. Di luar, tinggal kelompok laki-laki yang masih sibuk bercerita. Pukul 11:05 PM, kelompok laki-laki masuk ke dalam tenda, di mana para istri mereka beristirahat.
"Sini" Fattan menatap lengannya, meminta Sakia mendekat dan menjadikan lengan Fattan sebagai bantal.
Sakia yang sejak tadi gelisa, wanita itu mendekat memeluk suaminya. "Kak Fattan, Kia masih memikirkan perkataan Fadli" ungkapnya.
"Dek, sebenarnya Kakak tahu kamu telat haid, Kakak ingin mengajakmu konsultasi ke Dokter tapi Kakak takut kamu tersinggung. Selama dua bulan belakangan ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kamu hamil. Ada dua kemungkinan, yang pertama, kamu hamil tanpa merasakan keluhan seperti Ibu hamil pada umumnya. Dan yang kedua, kamu sakit. Maaf, jika kata yang kedua menyinggung mu. Sepulang dari sini kita singgah beli test pack" ungkap Fattan.
"Kakak, bagaimana jika hasilnya negatif?" tanya Sakia pelan.
"Ya kita harus ke rumah sakit" jawab Fattan.
"Bagaimana jika Kia sakit?" tanya Sakia lagi.
"Kakak akan merawat mu sampai kamu sembuh" jawab Fattan memeluk erat istrinya.
__ADS_1