
"Mas, apa benar Mbak Safira meninggal?" tanya Amrita mengambil tempat disamping suaminya.
"Iya, benar" balas Aziz melirik istrinya yang mulai menampakan perubahan mimik wajah.
"Mas, aku takut sekali" ucap Amrita. Andai ia belum hamil maka masuk penjara juga tidak masalah. Namun sekarang kondosinya berbeda. Dia sedang hamil.
Aziz menghadap istrinya yang terlihat cemas. "Kamu takut apa?" tanya Aziz dengan lembut. Karena tak ingin berbohong, Amrita mengumpulkan keberaniannya untuk jujur pada suaminya.
"Malam, saat aku diikuti oleh orang suruhan Kak Johan, aku menghubungi Kak Johan saat Mas sedang tidur. Kak Johan tidak tahu jika orang yang dimaksud Mbak Safira adalah aku. Dan kata Kak Johan, dia akan mengurus Mbak Safira agar tidak mengggangguku lagi" ungkap Amrita dengan tangan yang mulai dingin.
Aziz menghela napas pelan. Ada rasa takut yang menghampirinya namun ia mencoba tersenyum untuk menenangkan istrinya. "Kamu jangan takut, semoga bukan Johan yang berada dibalik kematian Safira" kata Aziz lalu memeluk istrinya sejenak kemudian melepas pelukan mereka.
"Sekarang kamu mandi, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita bertiga" kata Aziz tersenyum lebar.
Amrita mengerutkan keningnya. "Bertiga?" gumam Amrita tak mengerti.
"Kamu, aku dan dia" jelas Aziz sembari mengelus perut rata istrinya. Tadi, sepulang dari rumah sakit. Aziz menyempatkan waktu untuk membeli susu ibu hamil, buah-buahan dan sayur yang bagus dokonsumsi oleh Ibu hamil.
Amrita tersenyum lebar dan lagi-lagi ia mencium pipi suaminya. "Aku suka..." sorak Amrita lalu beranjak dari sofa. "Mas, bantu aku buka kado dari teman-temanku ya. Kadonya masih di mobil. Aku mau mandi dulu, nanti malam baru kita unboxing" sambungnya tersenyum.
Aziz mengangguk dan tersenyum. Setelah Amrita naik ke kamar, Aziz kembali memikirkan perkataan istrinya tentang Johan. Berhubung Amrita tidak membawa naik ponselnya, maka kesempatan bagus bagi Aziz untuk memeriksa ponsel istrinya. Pesan pertama yang dia baca yaitu pesan dari Safira dan Amrita. Aziz menggeram kuat saat membaca pesan yang dikirim Safira pada istrinya. Kemudian Aziz mencari pesan Johan dan Amrita. Saat bersamaan, Johan mengirim pesan untuk Amrita.
"Kamu sudah melihat info pagi ini kan. Kamu jangan takut ya, Dek. Bukan Kakak pelakunya" Johan.
Aziz merasa legah membaca pesan dari Johan. Rasa cemasnya kini menghilang. Tak ada lagi yang perlu Aziz cemaskan. Istrinya akan baik-baik saja, begitupun dengan anak mereka.
__ADS_1
"Aku Aziz, suaminya Amrita. Maaf sudah lancang membaca pesan darimu. Jika benar bukan kamu, aku ucapkan Alhamdulilah. Dan Terima kasih sudah menjaga istriku" Aziz
"Aku yang seharusnya minta maaf sudah lancang menghubungi istrimu" Johan.
Kumandan adzan Magrib yang merdu nan menyejukkan hati kembali bergema di masjid. Mengakhiri percakapan Aziz dan Johan. Aziz naik ke kamar menghampiri istrinya. Dilihatnya sang istri sedang bersiap-siap mengenakan mukena.
"Kita shalat berjamaah ya" kata Aziz sambil melepas baju kous yang kini dipakainya, menggantinya dengan baju kokoh berwarna putih. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi mengambil wudhu. beberapa menit setelahnya, Aziz ke luar dan mulai mengenakan sarung dan peci kemudian bersiap-siap melantunkan adzan dengan pelan. Dan terakhir ia melantunkan iqamah lalu memulai shalat Magrib berjamaah dengan istrinya.
Seperti biasa, usai shalat Magrib keduanya akan mengaji bersama hingga adzan isya kembali bergema. Setelah shalat isya, Amrita dan suaminya turun ke lantai satu dan mulai makan malam.
"Amrita, maaf ya sayang. Tadi Mas ngak sengaja baca pesan dari Johan. Dia mengirim pesan padamu" kata Aziz sambil mengambil sepotong tempe goreng.
"Tidak apa-apa, Mas. Apa kata Kak Johan?" tanya Amrita penuh tanya.
"Kamu jangan takut. Bukan Johan yang melakukannya" jelas Aziz.
"Mas juga ngak tahu. Tapi nanti juga akan terbongkar siapa pelakunya" balas Aziz dengan santai.
Setelah makan, Aziz dan Amrita mengambil kado yang diberikan teman-temannya. Bahkan beberapa seniornya di beskem juga datang di kampus merayakan ulang tahun Amrita.
"Sayang, kadonya banyak sekali" gumam Aziz melihat kado di dalam mobil.
"Iya, Mas. Banyak teman-teman dari beskem, mereka datang memberikan aku kado. Selama aku ngak minta, maka pemberian harus diterima kan. Hehehehe" balas Amrita terkekeh.
Aziz tersenyum sambil membawa semua kado yang jumlahnya hampir puluhan. "Sayang, ini bukan kado ulang tahun tapi kado pernikahan. Banyak sekali" ujar Aziz.
__ADS_1
"Hahahahaha" tawa Amrita. Benar apa kata Aziz. Kado sebanyak itu mengalahkan kado pernikahan. Bagaimana tidak, jumlah kado sekitar empat puluh.
"Orang baik akan di Sayang orang. Dan inilah hasilnya kebaikan" ujar Amrita tersenyum.
Aziz dan Amrita merapikan sofa bed, lalu keduanya duduk dan melakukan unboxing kado dari para sahabat, teman dan senior. Kado yang pertama dibuka yaitu kado dari Hanin, yang isinya pakaian baby laki-laki dan perempuan.
"Subhanallah... bagus bangat Mas. Ingin rasanya aku memintamu mencobanya" ujar Amrita tersenyum lebar.
"Hehehehe. Apa kamu kira aku anak baby? Aku Papa baby bukan baby" balas Aziz.
Drt drt drt... Ponsel Aziz berdering. Lagi-lagi nama Aher yang tertera dipanggilan masuk. Aziz menekan gambar ikon hijau dan tiba-tiba panggilan terputus. Selang beberapa detik, ponsel Aziz kembali berdering di Aplikasi Watshap dan lagi-lagi Aher yang menelepon.
"Assalamualaikum" ucap Aher tersenyum mengembang.
"Waalaikumsalam. Tumben ceriah" balas Aziz tersenyum meledek.
"Hahahahaha. Aku sangat bahagia, Aziz. Sangat... bahagia. Apa kamu tahu, calon istriku sangat cantik" ujar Aher. Senyum manis masih terpancar di wajah pria itu.
"Kamu sudah melihatnya?" tanya Aziz penasaran. Jika Madania yang Aher temui maka pria itu akan langsung keintinya.
"Sudah. Bahkan aku sudah berkenalan dengannya. Tadi kami jalan bersama dan makan siang bersama" balas Aher tersenyum lebar.
"Sekarang giliranku mengerjaimu. Kamu tahu Madania adalah calon istriku tapi kamu diam dan membiarkan sahabatmu ini galau" batin Aher tersenyum penuh kemenangan.
Mampir juga di novel yang udah tamat kak 😊😊
__ADS_1