
Dering ponsel Tante Eka yang begitu nyaring membuat Fattan dan Fadila menutup telinga. Kedua balita itu cemberut menatap Nenek kesayangan mereka. Sementara Tante Eka tersenyum menatap kedua cucunya yang sedang duduk bersila di lantai.
"Tunggu Nenek jawab panggilan dari Om kalian" ujar Tante Eka pada kedua balita yang kini menatapnya.
"Ibu..." rengek Fakri dibalik telepon. "Kenapa Ibu dan Papa belum pulang juga!" ketusnya. "Cepat pulang, Bu... Papa..." sambungnya cemberut.
"Ibu dan Papa mau bermalam di sini. Kamu sudah besar, sudah dewasa. Kamu tidak butuh bantuan Ibu dan Papa lagi. Lagian ada Mbak Ima di rumah" balas Tante Eka menjelaskan.
"Tapi aku dan Mbak Ima takut, Bu..." rengek Fakri. Di samping Fakri, ada Mbak Ima yang juga ketakutan. Rumah sebesar itu, hanya dihuni dua orang. Dan keduanya sama-sama penakut hantu.
"Ya sudah. Kamu dan Mbak Ima datang bermalam di sini saja" ujar Tante Eka.
"Yeah...!!" sorak Fakri dan Mbak Ima bersamaan.
Kediaman Pak Sofyan
Fakri memutuskan panggilan setelah mengucap salam. Dia dan Mbak Ima-asisten rumah tangga. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk mengambil selimut. Keduanya keluar dari kamar masing-masing dan bertemu di ruang keluarga.
"Mbak bawa selimut kan?" tanya Fakri
"Iya" balas Mbak Ima sembari memperlihatkan kresek hitam jumbo yang isinya selimut.
"Bagus. Ayo kita ke rumah Kak Aziz. Aku lebih berani tidur di hutan bersama teman-teman, daripada tidur di rumah sebesar ini berdua" ujar Fakri, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
"Mbak Ima... ayo kita keluar..." teriak Fakri.
"Akkh...!!" pekik Mbak Ima, berlari meraih handle pintu.
"Aku dulu yang ke luar Mbak..." pintah Fakri. Bulu kuduknya terus berdiri.
"Mbak dulu!" balas Mbak Ima tak mau kalah. Bulu kuduk wanita itu juga ikut berdiri.
Fakri mengalah, ia menjauhkan tangannya dari handle pintu. Dan membiarkan Mbak Ima keluar rumah lebih dulu. Belum sempat Fakri keluar, tiba-tiba lampu rumah padam.
"Hantu...!!" teriak Fakri. Pria itu keluar rumah meninggalkan Mbak Ima di depan pintu.
"Fakri... tunggu Mbak Ima..." teriak Mbak Ima. Menyusul Fakri yang lari tanpa menoleh kebelakang.
Mbak Ima dan Fakri berhenti di depan jalan. Tanpa keduanya sadari, ponsel mereka ketinggalan di rumah. "Mbak, kita naik taxi saja. Aku takut pulang ke rumah" ujar Fakri mengatur napasnya dengan pelan.
"Astaghfirullah... Mbak lupa bawa ponsel. Kamu bawa ponsel kan?" tanya Mbak Ima.
__ADS_1
"Astaghfirullah... aku juga lupa ambil ponselku, Mbak" balas Fakri lesuh.
Fakri menghentikan Taxi Bosowa. Dia dan Mbak Ima pun masuk ke dalam Taxi dan tak lupa membawa masuk selimut yang mereka bawa. "Pak, di Perumahan Citraland Hertasning ya" ujar Fakri memberitahu alamat tujuan mereka.
Perumahan Citraland Hertasning Nomor A20
Aher dan Mahdania sedang makan malam. Setelah makan, Aher mengangkat piring kotor dan mencucinya. Pria dewasa nan manja itu kini menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dan sangat perhatian. Bahkan dia tidak memperbolehkan istrinya bekerja sejak awal kehamilan hingga kehamilannya memasuki bulan kelima.
"By, aku melihat bayangan" ujar Mahdania. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
Degh!! Aher yang memang pria penakut membilas piring dengan cepat bahkan tanpa sabun. Lalu dengan segera menghampiri istrinya. "Dimana?" bisiknya.
"Di lantai dua" balas Mahdania dengan pelan.
"Apa kamu mau kita tidur bertiga di sini atau kita nginap di rumah Aziz?" tanya Aher. Hanya pertanyaan itu yang sedang ada dipikirannya saat ini.
"Kita bermalam di rumah Aziz. Jujur saja aku takut" balas Mahdania dengan pelan.
Aher membantu istrinya berdiri. Mereka mengambil selimut yang ada di kamar lantai satu. Lalu keduanya jalan mengendap endap menuju pintu rumah. Aher meraih handle pintu dan membukanya. "Ayo kita keluar" ajaknya.
Aher dan Mahdania berjalan menuju rumah sahabat mereka. Keduanya mengerutkan kening melihat Taxi Bosowa berhenti di depan rumah Aziz. "Fakri dan Mbak Ima" gumam Aher.
Fakri membayar tagihan taxi. Lalu dia dan Mbak Ima kembali memboyong kresek hitam yang mereka bawa. "Kak Aher, mau ke mana?" tanya Fakri.
"Kenapa membawa selimut?" timpal Mbak Ima bertanya.
"Ceritanya panjang. Ayo kita masuk dulu" balas Aher.
Rumah Nomor A19
Bel rumah berdentang. Aziz dan keluarganya yang sementara menemani Fattan dan Fadila bermain, pria itu beranjak dari kursi membuka pintu rumah.
Cek--lek... (Pintu rumah terbuka)
"Aku masuk duluan ya" ujar Mahdania pada Aher, Fakri dan Mbak Ima. Lalu menerobos masuk ke dalam rumah. "Assalamuaalaikum" sambungnya mengucap salam sesaat melewati Aziz.
"Waalaikumsalam" balas Aziz dan kembali menatap Aher, Fakri dan Mbak Ima. Lalu menatap kresek hitam yang dipegang Mbak Ima dan Fakri. Kemudian menatap selimut yang dipeluk Aher.
"Apa kau tidak berniat mengajak kami masuk!!" ketus Aher.
"Silahkan masuk" kata Aziz dengan bingung, mempersilahkan ketiganya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa yang kalian bawa?" tanya Tante Eka menatap kedua pria dewasa dan satu wanita
disampingnya.
"Ibu, tunggu aku duduk dulu. Sepertinya aku dan Mbak Ima bakalan sakit. Itupun kalau cerita Kakek benar" balas Fakri mengambil tempat diantara Ibu dan papanya. Dan Mbak Ima duduk disamping Tante Eka. Sementara Aher duduk disamping istrinya.
Aziz menghampiri yang lain dan duduk bersila menemani kedua anaknya bermain. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam namun kedua anak itu masih belum mau tidur. Keduanya masih aktif bermain.
"Fakri, cepat jawab pertanyaan Ibu. Kalian kenapa sampai pucat begini?" tanya Tante Eka.
Fakri mulai menjelaskan awal bulu kuduk mereka berdiri hingga lampu padam dan berakir di rumah Aziz.
"Dan kamu Aher, kenapa membawa selimut?" tanya Aziz. Kini dia yang memberi pertanyaan pada sahabatnya.
"Mahdania melihat bayangan dilantai dua. Mana berani aku mengajak istri dan anakku tidur di rumah" jelas Aher.
"Bayangan!!" gumam Tante Eka dan Pak sofyan bersamaan, dengan mulut terbuka lebar dan mata melotot keluar.
"Iya Tante, Om. Aku melihatnya sendiri. Bayangan itu menatap ke lantai satu dan pandangannya bertemu dengan mataku. Matanya merah, dan pokoknya aku takut melihatnya" timpal Mahdania menjelaskan.
"Jangan-jangan pencuri" sambung Aziz menerka-nerka.
"Pencuri apaan yang matanya merah!" ketus Aher.
"Ibu jadi takut deh. Bagaimana kalau kita tidur di ruang tamu saja. Laki-laki tidur terpisah dan perempuan tidur terpisah" ujar Tante Eka.
"Papa setuju" balas Pak Sofyan.
"Aku juga setuju" timpal Amrita.
"Aku dan Mbak Ima setuju" timpal Fakri mewakili Mbak Ima.
"Ih Tante... mana mau aku tidur terpisah dengan istriku" rengek Aher.
"Ya sudah. Kamu dan istrimu tidur di kamar" ujar Tante Eka. "Dan kamu Aziz, kalau kamu mau panggil istrimu tidur di kamar maka Fattan dan Fadila akan tidur bersama kami. Titik tidak pakai koma" sambung Tante Eka tegas.
"Aku mau tidur bersama istri dan anak ku" ujar Aziz tak mau tahu.
Fattan dan Fadila berdiri, keduanya menghampiri Tante Eka. "Mau sama Nenek" ujar Fattan dan Fadila bersamaan, dengan gaya bicara khasnya anak balita.
"Hei! Kenapa kalian berpihak pada Nenek" ujar Aziz cemberut.
__ADS_1
"Mau sama Nenek!" ujar Fattan dan Fadila lagi.